" Three words I can sum up everything I've learned about life: it goes on. " Robert Frost

Showing posts with label Banda Neira. Show all posts
Showing posts with label Banda Neira. Show all posts

Friday, April 17, 2015

Hujan di Rossi Musik

Sore itu mendung menggelayut, tapi tidak lantas menyurutkan langkah gue untuk menyambangi pentas #KitaSamaSamaSuka Hujan. Sederhana, karena sebagai penikmat hujan, kadang sore mendung lebih indah. Debu jalanan yang menampar pun seolah lenyap terganti semilir angin.

Selain karena memang termasuk orang yang menikmati hujan dan tidak mudah menyerah pada payung, gue memang mengidolakan Banda Neira. Kalau saja kalian penasaran kenapa gue memilih menerjang Jakarta di hari Rabu yang sarat kemacetan dan bersiap diguyur hujan.
Setelah bertarung melawan macet Blok M - Fatmawati selama satu jam lebih, akhirnya gue sampai di Rossi Musik. Tiket pun sudah digenggaman, buku acara lantas menjadi daya tarik tersendiri. 

Jujur, sebagai penikmat Banda Neira, gue pun bermodal hafal lagu-lagu mereka saja. Sementara pengisi acara lainnya seperti Gardika Gigih dan Layur beberapa kali namanya mampir ke telinga, sedangkan Suta Suma Pangekshi dan Jeremia Kimoshabe benar-benar sangat asing.

Mungkin layaknya penggemar Banda Neira lainnya, saat menatap Set List gue pun hanya mengenali dua lagu. Jelas, itu lagu Banda Neira yakni Hujan di Mimpi serta Langit dan Laut. Ketiga belas list lagu lainnya benar-benar asing.

Panggung yang tematik dengan gantungan-gantungan awan kapas bertirai hujan buatan membawa semangat akan hujan erat rasanya menyelimuti kami, penonton. Pada tiga lagu awal, semangat itu masih menggebu. Hujan di Mimpi sebagai lagu ketiga yang dibawakan membuat gue melepaskan dahaga untuk bernyanyi bersama puluhan orang lainnya. 

Pentas #KitaSamaSamaSukaHujan Rabu (15/4) Rossi Musik

Sayangnya, setelah itu, selama hampir sejam kemudian, gue hanya bisa hanyut dalam sepi dan sendu. Cengkraman sepi dan sendu rasanya terlalu menghimpit ruangan. Kegelisahan itu ternyata tidak hanya dirasakan oleh gue dan teman-teman, tapi juga Rara Sekar yang disampaikannya secara gamblang dari atas panggung.

Pemikiran sederhana gue, lagu-lagu yang sangat asing dan pembawaan lagu yang memang sangat lambat membuat suasana itu lahir tanpa bisa ditolak. Bukan karena kami penonton lelah atau tidak tertarik, hanya saja rasanya ada tembok pemisah antara kami, penonton yang duduk di bawah dan mereka, penampil yang berdiri di atas panggung sana.

Gue pribadi berusaha mengenyahkan perasaan itu. Mencoba menikmati. Karena sesungguhnya lagu-lagu asing yang mereka bawakan terdengar syahdu hanya saja masih terlampau jauh untuk direngkuh.

Tidak berhenti di sana, usaha Rara Sekar untuk membangun dialog seperti dimentahkan oleh penampil lainnya. Mereka kesulitan untuk berbagi kata dan cerita. Rara pun seperti terlempar ke kanan dan kiri panggung hanya untuk berdiri di tengah dan menjadi penyeimbang.

Kembali ke tujuan awal, untuk menikmati keriaan yang diciptakan atas dasar ketertarikan yang sama terhadap Hujan. Gue pun masih puas.

Saat membawakan lagu Langit dan Laut, Banda Neira

Rasa puas ini ironisnya datang terlalu terlambat. Semangat yang tadinya ada dalam tiga lagu pembuka baru terasa hadir kembali di lagu penutup. Lagu dengan judul Suara Awan itu membawa gue terhanyut dalam musik dan liriknya. Seperti harapan pada saat melangkah masuk ke gedung Rossi Musik diiringi rintik hujan yang mulai menetes di sudut Jakarta Selatan.

Mengherankan memang, Suara Awan sendiri sebenarnya lagu yang termasuk kategori asing. Namun sepertinya para penampil memasukkan seluruh jiwanya ke dalam penampilan mereka saat membawakan lagu ini.

Semangat itu menjalar hingga ke setiap sudut gelap gedung di Jalan Fatmawati itu. Saya menikmatinya hingga nada terakhir. Mengembalikan saya pada saat pertama kali mendengarkan Di Atas Kapal Kertas tahun 2013 silam. Jatuh cinta yang sama, perasaan yang saya harapkan selalu hadir ketika menonton pertunjukan musik Banda Neira.

Malam itu, sepertinya Tuhan mendengar pinta dan mewujudkan harapan itu. Keenam penampil memberikan encore yang meledakkan perasaan gue, membayar setiap kesenduan sejam terakhir dengan DI ATAS KAPAL KERTAS.

Lagu itu, cinta pertama itu, dibawakan dengan begitu indah. Kenapa? Karena kali ini tidak hanya Rara Sekar dan Ananda Badudu yang meluluhkan hati saya tapi juga Gardika Gigih, Layur, Suta Suma Pangekshi dan Jeremia Kimoshabe. 

Kesempatan yang Rara berikan pada setiap penampil untuk unjuk gigi adalah momen yang luar biasa. Orang-orang yang tadinya tidak mendapat spotlight selama acara yang kepalang sendu, justru menutup malam dengan indahnya. 

Penampilan itu berlalu cepat, seperti bintang jatuh yang hanya mengizinkan mata mengintip pandang sekali. Tapi jangan tanya kesan yang tertinggal. Sampai sekarang, perpaduan musik itu masih melayang mesra di dalam relung otak gue. Membuat jatuh cinta ini semakin dalam kepada Banda Neira dan tentunya temuan cinta yang baru teruntuk Gardika Gigih, Layur, Suta Suma Pangekshi dan Jeremia Kimoshabe. 

Mungkin seperti Hujan yang datang mencipta sendu dan kegelisahan akan perjalanan aktivitas hari itu namun berujung suka cita akan sejuk dan mendung yang menenangkan.  Pentas #KitaSamaSamaSukaHujan pun melakukan hal yang sama. Penonton dibalut sendu dan pertanyaan sebelum akhirnya dititipkan kenangan manis berselimut suka yang pantas dikenang.

PS : Bagi yang penasaran sama set listnya ini gue sertakan..

1. Hujan dan Pertemuan
2. Prelude
3. Hujan di Mimpi
4. Tenggelam
5. Suara Awan (Cari, dan coba dengarkan. Ini Indah)
6. Langit dan Laut
7. Dawn
8. Kereta Senja
9. Ocean Whisper
10. Derai-Derai Cemara (Musikalisasi Puisi Chairil Anwar)
11. I'll Take You Home
12. Labuh
13. Beranda
14. Dan Hujan
15. Are You Awake
Encore : Di Atas Kapal Kertas


Friday, January 16, 2015

Sepotong Banda Neira dalam Sebuah Kisah

"Berjalan lebih jauh
Menyelam lebih dalam
Jelajah semua warna
Bersama, bersama" - Berjalan Lebih Jauh

Sepotong lirik itu menggugah. Menjadikan saya mencandu setiap lagu dan lirik sang pelantun. Tapi cerita kali ini bukan tentang awal ketertarikan itu. 

Ini kisah manis dibalik sampainya CD berlabel Banda Neira menjadi kepemilikan saya hingga hari ini. 

Saat itu, akhir 2013, mulanya saya bercerita kepada seseorang itu, bahwa Banda Neira mencuri hati saya. Link soundcloud itu saya kirimkan, dia pun kerap mendengar macam lagu Banda Neira bersama saya.

Entah apa yang menghipnotis namun rasanya suara Rara Sekar dan Ananda Badudu melekat erat. Pilihan lantunan yang syahdu serta lirik yang menyeret suasana menjadikan Banda Neira lekas terpantri di otak saya.

Kisah kami pun baru bermula, rasa manis itu pekat. Suatu malam, saya dan dia menghabiskan malam di sebuah angkringan, menikmati malam dan ngobrol beragam topik.

Hingga saat saya meninggalkan meja untuk suatu hal, dia meletakkan CD album itu dengan manis tepat di atas meja yang saya tinggalkan.

"Seperti hadirmu di kala gempa
Jujur dan tanpa bersandiwara
Teduhnya seperti hujan di mimpi
Berdua kita berlari" - Hujan di Mimpi

Tidak usah ditanya apa yang bergemuruh di hati kala melihat seonggok apa yang saya cari tersaji. Manis, terlalu manis, bukan hanya karena memang saya sedang mencari album itu tapi karena perhatiannya yang terlampau besar.

Rasanya jika dikisahkan tidak ada kata yang pantas bersanding dengan perasaan itu. Ini perkara sekecil atensi yang terselip, perasaan merasa dimengerti dan dipahami. Seolah membaca pikiran adalah salah satu kelebihannya. Atau memang Banda Neira sudah diletakkan di sana untuk menambah manis yang sudah kami rajut.

Hari itu, album itu, angkringan itu dan tentunya orang itu akan selalu menjadi ingatan yang manis. Semanis lirik-lirik Banda Neira yang saja kagumi. 

Tanpa permintaan, tanpa tergesa dia memilih semuanya dengan tepat. 

Seperti saya memilihnya dengan tepat hingga hari ini.

"Langit dan laut dan hal-hal yang tak kita bicarakan
Biar jadi rahasia
Menyublim ke udara
Hirup dan sesak kan jiwa" - Langit dan Laut