" Three words I can sum up everything I've learned about life: it goes on. " Robert Frost

Showing posts with label Jakarta. Show all posts
Showing posts with label Jakarta. Show all posts

Friday, May 8, 2015

Jakarta Itu Keras, Apalagi KRL-nya

Cerita ini muncul kala saya sedang dalam sebuah perjalanan menuju kantor. Tentunya cerita ini muncul di KRL, moda transportasi utama untuk mencapai kantor sehari-harinya. Siapa pun, mungkin bukan hanya saya, pengguna KRL lainnya paham benar akan banyaknya kisah yang terlihat nyata dalam perjalanan singkat itu.

Kali ini suatu kesadaran untuk tidak bersikap serakah mengetuk pemandangan mata saya, siang itu.

KRL sedang berhenti di stasiun Sudimara, bagi kalian yang menumpang KRL jurusan Maja-Tn Abang pasti paham benar, Sudimara merupakan pusat keramaian. Penumpang menumpuk di sana, maka tidak ayal, gerbong perempuan yang kosong mendadak sempit jika Sudimara menjadi perhentian.

Berbondong-bondong perempuan "super" masuk ke gerbong. Saya menyebutnya super karena rasanya sulit menemukan kata ganti untuk menggambarkan keteguhan dan ketangguhan perempuan di gerbong khusus wanita KRL. Cobalah sendiri dan rasakan!

Kembali ke cerita, tempat duduk barisan saya sudah diisi oleh 6 perempuan. Artinya, secara kemanusiaan, hanya tersisa satu tempat untuk satu perempuan lagi. Tapi nyatanya, perempuan "super" tidak pernah berhenti berjuang.

Maka, seorang perempuan mendesak masuk di celah sempit di kursi yang kini sudah diduduki oleh 7 orang perempuan. Iya, dia memilih merengsek masuk di antara saya dan seorang ibu. Saya dan ibu itu pun memisah, memberi ruang seadanya. Seperti yang bisa kalian bayangkan, dia hanya punya ruang kecil untuk sekadar duduk kecil dengan daya tumpu yang pasti besar di kaki. Percayalah, duduk seperti itu hanya akan membuat lelah daripada nikmat.

Tidak lama, KRL melanjutkan perjalanan. Berselang waktu, si mbak mulai kewalahan menahan beban tubuhnya (mungkin kakinya pegal) tapi saya enggan peduli. Itu risiko dari pilihannya. Ia terus bergerak merengsek masuk, mungkin berharap celah yang ironisnya tidak ada.

Nyatanya, tindakan itu tidak hanya meresahkan saya, tapi juga si ibu di sebelah saya tadi. Hingga akhirnya si ibu memilih untuk meninggalkan kursinya dan berdiri di sisi pintu. Itu menyebalkan, saya bukan pembela kebenaran, tapi etikanya si mbak lah yang harus sadar diri.

Belum berhenti di sana, si mbak pun mengeluarkan suara "nah gitu dong". Seketika saya menoleh, tentunya bukan saya yang melemparkan pandangan tidak suka, tapi juga beberapa orang di hadapan dan di sekitar si mbak.

Tidak kah kita sebagai manusia dititipkan hati nurani dan akal pikiran untuk mendulang segala tindakan yang kita lakukan? Bagi saya, bukan si ibu yang harus beringsut tapi si mbak. 

Sayangnya, perempuan-perempuan KRL cenderung buta pikiran dan hati. Hal yang saya takutkan melingkupi saya suatu hari nanti (semoga tidak). Saya paham akan upaya diri untuk mendapatkan yang terbaik, tapi bukan berarti menyikut orang lain untuk itu adalah hal yang sah.

Jika, untuk hal sekecil itu pun kita sudah buta, lalu bagaimana dengan hal lainnya di dunia ini? Nurani kita semakin terkikis, kesadaran hidup bermasyarakat semakin tergerus. Hanya satu cara untuk menjadi normal, berkaca dan terus berkaca. 

Saya setiap harinya berusaha untuk terus berkaca kepada mereka yang egois. Menjadikan kesalahan tersebut untuk tidak melakukan hal yang sama. Jika kita berharap yang terbaik bagi kita, begitu pun orang lain. Jika tempat itu sudah menjadi rezeki kita, dia tidak akan pernah berlari. 

Jakarta itu keras, apalagi KRL-nya. 

Wednesday, April 29, 2015

Sebuah Perjalan Menjadi Penari

SELAMAT HARI TARI DUNIA, wahai para penari di seluruh pelosok bumi.
Layaknya sebuah perayaan lainnya yang pernah terlalui, saya ingin sedikit berkisah tentang keseharian saya yang kerap beririsan dengan dunia tari. 

Sejak mengenyam pendidikan di taman kanak-kanak saya aktif berpartisipasi dalam kegiatan menari. Dulunya hanya iseng, sembari mengisi waktu anak-anak saya. Jelas tarian yang dibawakan pun hanya tari-tari sederhana untuk memeriahkan panggung hiburan sekolah.

Beranjak pada masa sekolah dasar saya masih mengikuti ekstrakulikuler menari. Saya ingat persis tarian itu bernama Tari Piring yang dibawakan dengan piring kertas dalam balutan gerakan yang sederhana. Oh selain itu saya juga pernah membawakan Tari Lilin dan Tari Dindin Badindin. Sebagian besar masa kecil saya memang dihabiskan di Medan, Sumatera Utara jadi tidak usah heran list tarian yang mengisi hari-hari saya adalah tarian-tarian Sumatera.

Selepas itu, saya memasuki masa di mana modern dance sedang hits. Saya pun beralih, mengikuti beberapa teman untuk mencoba-coba membuat gerakan dan menampilkan modern dance tersebut dalam sebuah pentas seni siswa SMP. 

Nyatanya, hati ini enggan berpihak. Ada perasaan yang hilang. Sederhananya, saya tidak merasa menjadi diri sendiri dengan menarikan gerakan modern tersebut. Musiknya yang melantun tidak membuat saya tergerak untuk menari.

Masuk SMA, saya aktif di ekskul tari Jawa. Selain itu kesempatan besar datang ketika saya kelas dua. Sekolah memutuskan berpartisipasi dalam acara penurunan bendera Merah Putih pada Hari Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 2008 lampau. Ternyata partisipasi pada kegiatan itu membuka jalan saya untuk menari tari tradisional lagi.



Selepas dari acara itu, saya diajak bergabung pada sebuah sanggar tari besutan mantan penari Swara Mahardika yang tersohor. Saya pun bergabung dengan Swara Mahardika Muda. Lewat latihan yang rutin saya berangkat mengikuti misi budaya ke Prancis dan Swiss pada 2010. 



Langkah kaki tidak berhenti di sana, tiga orang teman saya membentuk Kultura Indonesia Star Society pada 2012. Saya pun memutuskan untuk bergabung. Hasilnya latihan rutin membuahkan kesempatan misi budaya ke Turki pada tahun 2013.

Hingga beberapa bulan yang lalu saya masih aktif menari. Tentunya tari tradisional Indonesia. Belasan tarian pernah saya tarikan, mulai dari Sumatera hingga Papua. Perasaan cinta itu semakin besar, kebanggan itu masih menggunung.

Tidak ada alasan untuk berhenti sebenarnya, hanya saja waktu masih memilih untuk menenggelamkan saya dengan kegiatan lain. Bukan suatu halangan, dalam perjalanannya saya sudah melalui perjalanan timbul tenggelam ini sebelumnya.

Sebut saja itu proses. Bagian menjadi seorang penari yang punya kewajiban. Saya masih dan akan dengan bangga menyebut diri saya penari. Entah kini atau nanti. Tidak ada yang berubah. Semangat dan kecintaan itu masih mengalir sama derasnya. 

Salah satu pelajaran yang paling kuat menempel dalam ingatan saya adalah "Seorang penari tahu betul akan keselarasan. Dia belajar menyesuaikan diri dengan musik dan sekitarnya. Menjadi seorang penari selalu mampu menanggalkan keegoisannya. Karena ia harus selalu selaras dalam Wiraga, Wirasa dan Wirama," 

Pelajaran itu menempel kuat. Membuat saya enggan dibenam waktu. Meski sedang pasif menari, saya aktif menulis tentang tarian dan kegiatan tari yang dilaksanakan oleh sanggar - sanggar tari di sekitar Jakarta.

Saya menggagas berdirinya Ketik Tari. Dalam perjalanannya saya mengajak serta empat orang terpercaya (Emir, Erika, Ninda dan Caya) untuk mengembangkan Ketik Tari hingga sampai di titik ini. Harapannya, Ketik Tari mampu menjadi medium bagi sanggar-sanggar tari dan tari tradisional untuk mendapatkan tempat di masyarakat. Tentunya ini sebagai bentuk apresiasi kami terhadap seni tari tradisional Indonesia.

Oh, tidak lupa, sebelum memutuskan mendirikan Ketik Tari, saya pernah menulis novel tentang tari. Novel fiksi ini menyelipkan filosofi-filosofi tarian tradisional Indonesia dalam ceritanya. Dengan judul "Dalam Liku RASA Ku Temukan Gerak Indah Kehidupan", novel ini diterbitkan oleh PT Gramedia Widiasarana Indonesia (GRASINDO) pada 20 Oktober 2013 silam.

Perjalanan saya masih panjang, lenggang ini masih akan terus mengayuh. Melempar selendang sebagai jala pada setiap peluang yang terlalui. Masih banyak ilmu tari yang akan saya gapai. Ragam cara bisa dilakukan untuk mengapresiasi budaya tradisional Indonesia khusunya tarian. Maka saya masih jauh dari kata berhenti.

Teruntuk Penari-Penari di luar sana,
Berbanggalah atas kesempatan menjadi seorang penari. Kesempatan itu tidak datang dengan mudah, tapi lewat peluh yang menetes dan semangat yang membara. Terus lah menyebar cinta lewat tarian. Dalam lenggang gerak dan alunan musik yang mengalun itulah sebuah budaya tersebar dari generasi ke generasi. Lewat semangat dan tekad kita lah, sebuah budaya mendapat ruangnya di masyarakat. 

Sekali lagi, Selamat Hari Tari Dunia. Happy World Dance Day, Dancers!! :)

Monday, April 27, 2015

Hangat Percakapan dalam Selimut Dingin Hujan

Berjalan kaki dari FX ke Pacific Place sudah lazim saya lalui. Entah untuk menghemat ongkos atau menghemat waktu. Rasanya menikmati waktu sendirian di sela gedung-gedung pencakar langit lebih baik dari menatapnya dari kaca bus. Saya menikmati setiap detiknya. Perasaan bahagia kerap mampir dengan kesendirian di tengah pusat bisnis ibukota.

Sore itu, gerimis menetes, langit mendung, saya terselimuti sejuk yang membahagiakan. Minggu (19/4) sekitar pukul 17.30 sore. Saya membelah gerimis bersama dia. Dalam ketenangan jalanan Jakarta yang lenggang. Angin berhembus membelah celah di antara saya dan dia.

Ingin tahu perasaan saya saat itu? Bahagia. Berkali lipat dari perasaan bahagia yang pernah terlewati. Kenapa? Jawabannya sederhana, dia, hujan dan sore adalah perpaduan yang selalu saya damba. Ibarat obat mujarab yang menyembuhkan segala penyakit.

Selama perjalanan yang lebih kurang 20 menit itu, saya dan dia tak putus bercerita. Lewat banyak kisah, banyak topik dan banyak tawa.  Itu kebiasaan lain yang membuat saya tidak pernah berhenti mengaguminya.

Dia orang yang paling benar untuk diajak berdiskusi. Bukan hanya diskusi santai, tapi juga diskusi dengan urat bertegangan tinggi. Saya dan dia tidak selalu sepaham, tapi kami selalu tau bagaimana menemukan persamaan dari perbedaan yang ada.

Pembicaraan itu tentang poster film terbaru seri The Avengers yang terpampang nyata di bus TransJakarta, berlanjut ke keinginan saya dulu untuk bekerja di SCBD, hingga betapa saya menyukai dia dan jaketnya.

Beranjak bersama waktu dan sampailah dalam perjalanan pulang yang membawa obrolan berubah menjadi serius. Masih tetap memutuskan untuk berjalan kaki. Saya dan dia membahas tentang alterego, mimpi, fasilitas bagi disabilitas di pinggiran Sudirman-Thamrin, kampanye perusahaan akan menghargai manusia (a.k.a pekerjanya) hingga perdebatan akan tren yang menenggelamkan esensi sebuah prinsip pada akhirnya.

Saya enggan menjabarkannya lebih detail di sini. Tapi percaya lah pembicaraan saya dan dia selalu merembet. Dari sederhana menjadi begitu kompleks. Kami, jelas bukan siapa-siapa, pengalaman masih minim apalagi pengetahuan. Hanya obrolan di antara kami yang angkuhnya tidak ingin kami bagi kepada dunia. Sederhananya, agar tidak ada seorang pun yang mengambil ide itu. Originalitas itu hanya milik saya dan dia.

Banyak hal yang gampang mengusik, tinggal bagaimana kita menelaahnya lebih dalam. Selama perjalanan ini saya semakin tahu bahwa keterusikan saya ternyata di alami juga olehnya. Bukannya di dunia ini kita butuh seseorang lain untuk bertukar pikiran? Saya menemukannya dalam kebersamaan dengan dia.

Lewat obrolan yang manis penuh sudut pandang, maka tidak usah heran kenapa saya menikmati 40 menit perjalanan pulang pergi itu. Kehangatan itu menyusup, melewati relung hati dan kepala yang terus berbalas kata. Mengalahkan sore yang sejuk.

Lantas, siapa yang bisa mendustakan nikmat hujan rintik di sore yang mendung pada sebuah percakapan?


Friday, April 17, 2015

Hujan di Rossi Musik

Sore itu mendung menggelayut, tapi tidak lantas menyurutkan langkah gue untuk menyambangi pentas #KitaSamaSamaSuka Hujan. Sederhana, karena sebagai penikmat hujan, kadang sore mendung lebih indah. Debu jalanan yang menampar pun seolah lenyap terganti semilir angin.

Selain karena memang termasuk orang yang menikmati hujan dan tidak mudah menyerah pada payung, gue memang mengidolakan Banda Neira. Kalau saja kalian penasaran kenapa gue memilih menerjang Jakarta di hari Rabu yang sarat kemacetan dan bersiap diguyur hujan.
Setelah bertarung melawan macet Blok M - Fatmawati selama satu jam lebih, akhirnya gue sampai di Rossi Musik. Tiket pun sudah digenggaman, buku acara lantas menjadi daya tarik tersendiri. 

Jujur, sebagai penikmat Banda Neira, gue pun bermodal hafal lagu-lagu mereka saja. Sementara pengisi acara lainnya seperti Gardika Gigih dan Layur beberapa kali namanya mampir ke telinga, sedangkan Suta Suma Pangekshi dan Jeremia Kimoshabe benar-benar sangat asing.

Mungkin layaknya penggemar Banda Neira lainnya, saat menatap Set List gue pun hanya mengenali dua lagu. Jelas, itu lagu Banda Neira yakni Hujan di Mimpi serta Langit dan Laut. Ketiga belas list lagu lainnya benar-benar asing.

Panggung yang tematik dengan gantungan-gantungan awan kapas bertirai hujan buatan membawa semangat akan hujan erat rasanya menyelimuti kami, penonton. Pada tiga lagu awal, semangat itu masih menggebu. Hujan di Mimpi sebagai lagu ketiga yang dibawakan membuat gue melepaskan dahaga untuk bernyanyi bersama puluhan orang lainnya. 

Pentas #KitaSamaSamaSukaHujan Rabu (15/4) Rossi Musik

Sayangnya, setelah itu, selama hampir sejam kemudian, gue hanya bisa hanyut dalam sepi dan sendu. Cengkraman sepi dan sendu rasanya terlalu menghimpit ruangan. Kegelisahan itu ternyata tidak hanya dirasakan oleh gue dan teman-teman, tapi juga Rara Sekar yang disampaikannya secara gamblang dari atas panggung.

Pemikiran sederhana gue, lagu-lagu yang sangat asing dan pembawaan lagu yang memang sangat lambat membuat suasana itu lahir tanpa bisa ditolak. Bukan karena kami penonton lelah atau tidak tertarik, hanya saja rasanya ada tembok pemisah antara kami, penonton yang duduk di bawah dan mereka, penampil yang berdiri di atas panggung sana.

Gue pribadi berusaha mengenyahkan perasaan itu. Mencoba menikmati. Karena sesungguhnya lagu-lagu asing yang mereka bawakan terdengar syahdu hanya saja masih terlampau jauh untuk direngkuh.

Tidak berhenti di sana, usaha Rara Sekar untuk membangun dialog seperti dimentahkan oleh penampil lainnya. Mereka kesulitan untuk berbagi kata dan cerita. Rara pun seperti terlempar ke kanan dan kiri panggung hanya untuk berdiri di tengah dan menjadi penyeimbang.

Kembali ke tujuan awal, untuk menikmati keriaan yang diciptakan atas dasar ketertarikan yang sama terhadap Hujan. Gue pun masih puas.

Saat membawakan lagu Langit dan Laut, Banda Neira

Rasa puas ini ironisnya datang terlalu terlambat. Semangat yang tadinya ada dalam tiga lagu pembuka baru terasa hadir kembali di lagu penutup. Lagu dengan judul Suara Awan itu membawa gue terhanyut dalam musik dan liriknya. Seperti harapan pada saat melangkah masuk ke gedung Rossi Musik diiringi rintik hujan yang mulai menetes di sudut Jakarta Selatan.

Mengherankan memang, Suara Awan sendiri sebenarnya lagu yang termasuk kategori asing. Namun sepertinya para penampil memasukkan seluruh jiwanya ke dalam penampilan mereka saat membawakan lagu ini.

Semangat itu menjalar hingga ke setiap sudut gelap gedung di Jalan Fatmawati itu. Saya menikmatinya hingga nada terakhir. Mengembalikan saya pada saat pertama kali mendengarkan Di Atas Kapal Kertas tahun 2013 silam. Jatuh cinta yang sama, perasaan yang saya harapkan selalu hadir ketika menonton pertunjukan musik Banda Neira.

Malam itu, sepertinya Tuhan mendengar pinta dan mewujudkan harapan itu. Keenam penampil memberikan encore yang meledakkan perasaan gue, membayar setiap kesenduan sejam terakhir dengan DI ATAS KAPAL KERTAS.

Lagu itu, cinta pertama itu, dibawakan dengan begitu indah. Kenapa? Karena kali ini tidak hanya Rara Sekar dan Ananda Badudu yang meluluhkan hati saya tapi juga Gardika Gigih, Layur, Suta Suma Pangekshi dan Jeremia Kimoshabe. 

Kesempatan yang Rara berikan pada setiap penampil untuk unjuk gigi adalah momen yang luar biasa. Orang-orang yang tadinya tidak mendapat spotlight selama acara yang kepalang sendu, justru menutup malam dengan indahnya. 

Penampilan itu berlalu cepat, seperti bintang jatuh yang hanya mengizinkan mata mengintip pandang sekali. Tapi jangan tanya kesan yang tertinggal. Sampai sekarang, perpaduan musik itu masih melayang mesra di dalam relung otak gue. Membuat jatuh cinta ini semakin dalam kepada Banda Neira dan tentunya temuan cinta yang baru teruntuk Gardika Gigih, Layur, Suta Suma Pangekshi dan Jeremia Kimoshabe. 

Mungkin seperti Hujan yang datang mencipta sendu dan kegelisahan akan perjalanan aktivitas hari itu namun berujung suka cita akan sejuk dan mendung yang menenangkan.  Pentas #KitaSamaSamaSukaHujan pun melakukan hal yang sama. Penonton dibalut sendu dan pertanyaan sebelum akhirnya dititipkan kenangan manis berselimut suka yang pantas dikenang.

PS : Bagi yang penasaran sama set listnya ini gue sertakan..

1. Hujan dan Pertemuan
2. Prelude
3. Hujan di Mimpi
4. Tenggelam
5. Suara Awan (Cari, dan coba dengarkan. Ini Indah)
6. Langit dan Laut
7. Dawn
8. Kereta Senja
9. Ocean Whisper
10. Derai-Derai Cemara (Musikalisasi Puisi Chairil Anwar)
11. I'll Take You Home
12. Labuh
13. Beranda
14. Dan Hujan
15. Are You Awake
Encore : Di Atas Kapal Kertas


Saturday, April 11, 2015

Dunia Kadang Terlalu Berisik

Banyak hal yang berlalu namun sebanyak itu pula waktu yang terbuang sia. Bukan karena gue enggan menulis, tapi rasanya keinginan itu perlahan menguap ke udara. Ujungnya, hanya tersisa niat untuk menuliskan apa yang menggelitik hati, membiarkannya perlahan menghilang dalam ingatan. Sebenarnya mungkin nggak langsung hilang begitu saja tapi mood untuk menuliskannya sudah tidak di sana.

Salah satu yang masih terpatri jelas diingatan namun nyawanya sudah lebih dulu melayang adalah kejadian di KRL Palmerah - Rawabuntu yang gue tumpangi. Ketika KRL masuk ke peron jalur 1 Palmerah, gue udah siap di posisi pas bertepatan dengan pintu kedua terdepan dari gerbong KRL. Tiba-tiba seorang Mbak berbaju biru, nampaknya pekerja kantoran, mepet dempet dengan kekuatan tangan yang bisa membuat nyeri lengan orang di sampingnya dan itu gue.

Rasa tidak mau kalah gue terusik. Gue pun tergoda untuk "mengalahkannya". Maka gue berkeras dan enggan memberi jalan. Bagi gue ketika orang itu berjuang secara fair untuk mendapatkan tempat duduk, gue akan dengan senang hati merelakannya, tapi ketika dia mengusik dengan cara ngotot, gue rasa dia salah milih lawan.

Selanjutnya, gue duduk bersebelahan dengan seorang ibu yang terlihat sedang susah baik dari pakaian maupun dari tatapannya yang menerawang. Anak sang ibu yang kerap melamun ini sediikit usil, mengganggu seorang ibu berjilbab disebelah ibunya. Jilbab sang ibu ditarik berkali-kali namun sang ibu memilih diam.

Sang anak enggan berhenti, mungkin karena merasa tidak mendapat tanggapan, anak itu mulai bergerak ke sana ke mari. Tiba-tiba sebuah suara mengejutkan seisi gerbong wanita. Ada suara bentakan yang lantang.

Gue pun menoleh, betapa kagetnya gue ternyata si Mbak berbaju biru yang tadi harus melipir karena perebutan kursi di awal masuk gerbong tadi gue menangkan. Sang Mbak yang egois membentak anak tersebut. Tidak hanya membentak anak perempuan kecil tersebut, si Mbak juga membentak ibu yang melamun itu. Cukup panjang kata-katanya dan suaranya sangat lantang. Membuat segerbong terkesiap dalam sunyi.

Beberapa ibu-ibu tampak terkesima. Gue pun melemparkan pandangan tidak suka. Sang anak keburu menangis, dan sang ibu hanya mampu menenangkan seadanya sebelum kembali melamun.

Singkat cerita mereka berdua (anak dan ibu) hendak turun di stasiun Sudimara. Kala menunggu KRL berhenti dengan sempurna, ada seorang ibu yang duduk persis di sebelah pintu KRL (bersebrangan dengan gue) merogoh sesuatu dari tasnya.

Tidak lama dikeluarkan lah sebuah kantong breadtalk dan ia pun memberikan pada sang anak. Dengan sebuah pesan "Jangan nangis lagi ya nak". Gue dan sang ibu breadtalk pun saling melempar senyum. Sebelum sebuah suara kembali mengusik.

Si Mbak biru nyeletuk "Kalau anak kaya gitu jangan dikasih hati, ibunya juga nggak pake otak, anaknya didiemin aja, Saya sih nggak bisa diem aja kalau ngeliat anak-anak nggak diajarin begitu," dan bla bla bla. Obrolan menjengkelkan itu berlanjut bersama dengan beberapa ibu-ibu yang sama sifatnya, suka ngomongin orang lain di belakang!

Gue pun memutuskan untuk pasang headphone dan menutup mata. Dunia kadang terlalu berisik. Malangnya, suara-suara sumbang itu keluar dari rasa toleransi yang minim. Perasaan angkuh terhadap dirinya sendiri dan selalu menganggap orang lain selalu punya kekurangan dan kesalahan. Memuakkan.

Ironinya, di dunia yang sudah sumpek ini. Keangkuhan dan suara lantang selalu dianggap sesuatu yang hebat dan pantas dibanggakan. Diakui oleh masyarakat sekitar, dianggap perbuatan heroik. Lupa, kalau setiap jengkal bumi ini dibagi bersama, bukan untuk dikuasai perorangan.

Friday, January 16, 2015

Sepotong Banda Neira dalam Sebuah Kisah

"Berjalan lebih jauh
Menyelam lebih dalam
Jelajah semua warna
Bersama, bersama" - Berjalan Lebih Jauh

Sepotong lirik itu menggugah. Menjadikan saya mencandu setiap lagu dan lirik sang pelantun. Tapi cerita kali ini bukan tentang awal ketertarikan itu. 

Ini kisah manis dibalik sampainya CD berlabel Banda Neira menjadi kepemilikan saya hingga hari ini. 

Saat itu, akhir 2013, mulanya saya bercerita kepada seseorang itu, bahwa Banda Neira mencuri hati saya. Link soundcloud itu saya kirimkan, dia pun kerap mendengar macam lagu Banda Neira bersama saya.

Entah apa yang menghipnotis namun rasanya suara Rara Sekar dan Ananda Badudu melekat erat. Pilihan lantunan yang syahdu serta lirik yang menyeret suasana menjadikan Banda Neira lekas terpantri di otak saya.

Kisah kami pun baru bermula, rasa manis itu pekat. Suatu malam, saya dan dia menghabiskan malam di sebuah angkringan, menikmati malam dan ngobrol beragam topik.

Hingga saat saya meninggalkan meja untuk suatu hal, dia meletakkan CD album itu dengan manis tepat di atas meja yang saya tinggalkan.

"Seperti hadirmu di kala gempa
Jujur dan tanpa bersandiwara
Teduhnya seperti hujan di mimpi
Berdua kita berlari" - Hujan di Mimpi

Tidak usah ditanya apa yang bergemuruh di hati kala melihat seonggok apa yang saya cari tersaji. Manis, terlalu manis, bukan hanya karena memang saya sedang mencari album itu tapi karena perhatiannya yang terlampau besar.

Rasanya jika dikisahkan tidak ada kata yang pantas bersanding dengan perasaan itu. Ini perkara sekecil atensi yang terselip, perasaan merasa dimengerti dan dipahami. Seolah membaca pikiran adalah salah satu kelebihannya. Atau memang Banda Neira sudah diletakkan di sana untuk menambah manis yang sudah kami rajut.

Hari itu, album itu, angkringan itu dan tentunya orang itu akan selalu menjadi ingatan yang manis. Semanis lirik-lirik Banda Neira yang saja kagumi. 

Tanpa permintaan, tanpa tergesa dia memilih semuanya dengan tepat. 

Seperti saya memilihnya dengan tepat hingga hari ini.

"Langit dan laut dan hal-hal yang tak kita bicarakan
Biar jadi rahasia
Menyublim ke udara
Hirup dan sesak kan jiwa" - Langit dan Laut


Monday, December 29, 2014

Ketidakpastian Menggelayut di Balik Hilangnya Pesawat Minggu Pagi

Saya atau kalian atau mereka, kita ada di posisi yang sama. Menggantungkan asa dan bertanya dalam satu kesempatan yang sama. Ketidakpastian membuat segalanya runyam, setinggi apapun asa yang digantungkan, redam oleh kegelisahan yang menggelayut.

Mungkin posisinya sama dengan nilai tukar EUR terhadap mata uang negara dunia lainnya saat ini. Ada asa yang digantung agar Samaras, Perdana Menteri Yunani, menang voting dan Yunani terhindar dari regenerasi bail out yang dibawa Partai Kiri Yunani, Syriza. Serta kemungkinan percepatan pemilu nasional Yunani di awal tahun depan. Pasar tidak menyukai arah kebijakan Syriza, efeknya EUR terkapar.

Begitupun dengan hilangnya pesawat Air Asia QZ8501, Minggu (28/12) pagi 07.55 lalu. Tidak ada keluarga bahkan seorang pun yang berhati nurani menyukai kenyataan pesawat tersebut hilang. Dalam setiap kasus hilangnya pesawat, banyak misteri yang ikut terbawa. Ada ketidakpastian yang entah kepada siapa harus ditujukan. Sentimen negatif ketidakpastian, menggerus harapan yang tersisa, pelan-pelan.

Meski kedua posisi di atas jelas berbeda rasa simpatik dan dampaknya, intinya satu, ketidakpastian menggelontorkan asa. Memperburuk keadaan dengan asumsi yang tidak berbatas. Karena tidak seorang pun pantas menjawab, tidak ada seorang pun yang tahu kebenarannya. Jawaban itu seolah hilang bersama 155 penumpang dan 7 orang awak pesawat yang terkenang.

Ketidakpastian menghampiri lewat dugaan dan asumsi. Lewat 2 menit yang terasa sesaat, 162 orang tidak diketahui keberadaannya, seolah awan menyimpan mereka rapat, memberikan ketenangan yang tidak mampu didengar bumi yang kepalang riuh.

2 menit, mungkin setara dengan perjalanan kaki saya setiap pagi, Stasiun Palmerah – Pasar Palmerah. Perjalanan singkat, terlampau singkat bahkan mungkin untuk logika menerima, pesawat Airbus A320-200 itu hilang tanpa sempat menitipkan pesan.

Direktur Safety dan Standard AirNav Indonesia Wisnu Darjono mengungkapkan, pada pukul 06.12, ATC Bandara Soekarno-Hatta berkomunikasi dengan pilot AirAsia QZ8501. Dia meminta untuk bergeser ke kiri untuk menghindari cuaca buruk. Izin itu diberikan dan akhirnya pesawat bergeser 7 mil dari posisi awal. Namun, kata Wisnu, pilot kembali meminta mengubah posisinya ke ketinggian 38.000 kaki.Saat kami sampaikan jawaban agar naik ke 34.000 kaki, sudah tidak ada lagi jawaban sekitar pukul 06.14” - Sumber : kompas.com, judul “Dua Menit Penuh Tanda Tanya dari AirAsiaQZ8501.

Dari sekian banyak alasan yang mungkin berizin menyusup masuk ke relung hati hanya jawaban permainan cuaca yang diluar kendali. Berikut saya sertakan ragam dugaan dari pakar penerbangan soal spekulasi cuaca yang mungkin hadir, menyinggahi pesawat Air Asia Surabaya-Singapura ini :

Para pilot berkeyakinan kru (QZ8501) dalam upaya menambah ketinggian untuk menghindari badai, entah bagaimana menyadari mereka terbang terlalu lambat," ujar dia. Dengan kecepatan itu, mereka tertarik ke aerodynamic stall, seperti yang terjadi dalam hilangnya Air France AF44 pada 2009," lanjut Thomas, seperti dikutip dari AAP. Prinsip situasinya, papar Thomas, pesawat terbang dengan kecepatan terlalu lambat di ketinggiannya saat itu, ketika udara terlalu tipis, sehingga sayap tidak mampu lagi menopangnya. Dan pesawat stall. Aerodynamic stall." - Sumber : nationalgeographic.co.id dengan judul : PakarPenerbangan: Insiden QZ8501 Mungkin Sama dengan Air France AF447

Analisis cuaca yang dilakukan oleh Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) menguatkan dugaan pesawat AirAsia QZ8501 gagal menghindari awan tebal kumulonimbus yang berada pada rute penerbangannya. Kepala Lapan, Thomas Djamaluddin, mengungkapkan bahwa adanya dinamika cuaca yang sangat aktif, adanya awan kumulonimbus, dan terdapatnya pesawat di ketinggian lebih tinggi menyulitkan QZ8501. Awan kumulonimbus terbentuk karena adanya penguapan air laut yang hangat dengan cepat. Awan ini memang tebal, bisa mencapai ribuan kilometer dan memang sulit dihindari dengan tiba-tiba. Kemungkinan pesawat mengalami turbulensi hebat karena tidak bisa menghindar dari awan kumulonimbus yang menjulang tinggi. Pesawat tidak mampu menghindar walaupun dengan naik ke atas. Belok ke kanan atau ke kiri juga sulit, akhirnya harus masuk," ungkap Thomas. - Sumber: nationalgeographic.co.id dengan judul Analisis Lapan Perkuat DugaanQZ8501 Gagal Hindari Awan Kumolonimbus.

Ketiadaan kode darurat pilot, menurut Yayan, sangat mendukung dugaan pesawat terjebak dalam kungkungan awan CB. "Itu awan, tapi berat karena ada butiran es. Bisa merusak instrumen pesawat, dari komunikasi sampai strukturnya," ujar dia. "Kalau sudah begitu, selain alat rusak, kemungkinan pilot sudah sangat panik bahkan untuk sekadar bilang 'Mayday'," tutur dia. Ketiadaan panggilan dan sinyal darurat dari pesawat, menurut Yayan, menunjukkan pesawat pada situasi yang sangat berat, dengan kejadian teramat cepat yang merusak peralatan komunikasi dan kemungkinan pesawat itu sendiri. - Sumber : nationalgeographic.co.id dengan judul : Analisis Awal :Apakah QZ8501 Terlambat Naikkan Ketinggian?

Mari untuk sementara, nyatakan kesepahaman dan persetujuan dengan dugaan yang dilontarkan oleh mereka, para pakar penerbangan. Walau hati tak selamanya bisa menerima alasan, sekalipun logika mengangguk tanda setuju, tapi daripada membuka tabir batas ketidakpastian lebih lebar, biarkan cuaca menjadi kambing hitam untuk saat ini.

Dugaan lain, padatnya lalu lintas di udara saat ini mengganggu peluang pesawat milik Air Asia ini untuk bertahan.

Yayan menyebutkan, ada setidaknya empat pesawat lain yang berdekatan dengan QZ8501 pada saat itu, yakni Garuda Indonesia berkode penerbangan GIA602, pesawat Lion Air berkode LNI763, AirAsia berkode penerbangan QZ502, dan Emirates berkode penerbangan UAE409. Dari data yang Yayan dapatkan, ketinggian GIA602 adalah 35.000 kaki, LNI763 38.000 kaki, QZ502 38.000 kaki, dan UAE409 35.000 kaki. "Kontak terakhir disebut QZ8501 minta menambah ketinggian 6.000 feet dari 32.000 feet. Kemungkinan pilot langsung menaikkan ketinggian, tidak memutar dulu misalnya, tetapi tidak terkejar untuk menghindari awan CB. - Sumber : nationalgeographic.co.id dengan judul : Analisis Awal : ApakahQZ8501 Terlambat Naikkan Ketinggian?

Jika memang salah satunya itu, pantas kah dipikirkan kembali kenyataan bahwa jalur udara Indonesia saat ini sudah terlalu sarat pengendara? Jadi, kepadatan tidak hanya terjadi di depan mata lewat penuhnya antrian take off dan landing pesawat di bandar udara Soekarno Hatta, tapi juga lalu lintas di udara?

Jika antrian itu mengular di sini, ditambah dengan kenyataan bahwa Air Asia QZ8501 harus berbagi lintas udara dengan 4 pesawat lainnya dijalur yang sama, sudah seharusnya perbedaan jam terbang dan mendarat menjadi pertimbangan yang matang.

Walau saya tidak memahami mekanisme dan pertimbangan yang diambil, pikiran itu menggelayut saat membaca berita di atas. Jika di jalan tol kemacetan bisa dihadapi dengan kontrol yang sederhana dan langsung antara mobil dan pengendaranya, keadaan di udara jelas berbeda.

Sang pilot dan kru bukanlah pengambil keputusan mutlak, ada pertimbangan dan persetujuan dari Air Traffic Control (ATC). Proses pengiriman informasi jarak jauh yang rentan terhadap pergesekan riskan. Sementara nyawa dan keselamatan bergantung bersama awan-awan yang berarak.

Pernah membayangkan, kalau udara macet seperti jalan tol? Tidak hanya izin bergerak yang terbatas, tapi arus komunikasi akan padat dan sarat izin, belum lagi persoalan bahan bakar. Jika mobil bisa bergegas ke SPBU terdekat, pesawat harus berhenti mengisi avtur di perhentian selanjutnya.

Terlepas dari skema cerita soal padatnya lalu lintas udara yang saya cipta. Tidak semua lantas menyisipkan dugaan negatif. Masih ada asa yang senantiasa menggantung, pantas juga tangan ini berpegang erat pada sisinya,

Mantan Dirut PT Merpati Nusantara Airlines ini juga mengherankan matinya alat pemancar yaitu locator beacon. Meski demikian, jelasnya, kabar ditemukannya pesawat dengan rute Surabaya-Singapura tersebut tetap harus ditunggu. "Siapa tahu mendarat darurat di daerah yang remote. Kita mesti jaga terus harapan tersebut," jelasnya. - Sumber : nationalgeographic.co.id dengan judul, Capt.Jhony : Air Asia QZ8501 Kemungkinan Mengalami Kecelakaan Fatal

Walau memang kita hanya mampu berpegangan pada seutas tali yang tipis dan rapuh. Tak pantas rasanya melepas pegangan itu kala ketidakpastian masih mengambil peran. Sekecil apapun itu, ada dia yang Maha dan melebihi segala sesuatunya di dunia ini.

Memanjatkan doa, senantiasa berikhtiar, sejumput keikhlasan akan membuka jalan. Mungkin pesawat, awan dan cuacanya sedang menyimpan sesuatu, entah kita yang belum saatnya tahu atau memang mereka sedang ingin diikhlaskan. Al-Fatihah.






Thursday, August 1, 2013

Berkaca di Panasnya Aspal Ibukota

Kemarin pagi ketika sesaat lagi sampai di terminal Blok M, gue menemukan keramaian di tengah jalan (literally tengah jalan, karena persis ditengah perempatan gede deket Universitas Al Azhar situ) yang ternyata telah terjadi kecelakaan. Setelah diliat lagi ada seseorang yang meninggal. Kenapa gue yakin bilangnya meninggal, soalnya sekujur tubuhnya udah ditutupi oleh koran. Meskipun ditengah-tengah, si bapak berada di jalur busway. Dibelakangnya beberapa meter terlihat sebuah bus Transjkt berhenti (gue nggak tau itu yang nabrak atau bukan). Lagi lagi hal yang kaya gini terulang. 

Mungkin salah si bapak atau salah si Transjkt atau salah dua-duanya. Gue nggak tau pasti. Yang jelas gue ngeliat ini sebagai hal yang sangat disayangkan. Apa rasanya jadi keluarga beliau, entah itu anaknya, istrinya atau mungkin ibu bapaknya. Siapa yang nyangka di hari yang masih sepagi itu dia harus merenggang nyawanya.

Emang umur seseorang tidak dapat ditebak oleh siapapun. Tidak juga ada yang tau bagaimana dan kapan ajal akan menyambangi. Tapi setidaknya perasaan seperti itu akan tetap menghancurkan hati orang yang kenal dengannya. Kehilangan tidak pernah menjadi mudah, apalagi dalam kasus ini.

Terlepas dari salahnya siapa, memang ada baiknya berhati-hati dalam menggunakan jalan umum. Bukan hanya sekadar hati-hati akan diri tapi juga waspada akan sekitar. Ketika kita sudah berada di jalur yang benar dengan kecepatan yang aman pun belum tentu membuat kita selamat karena mungkin saja pengguna jalan lain yang lagi ngawur. Nah apalagi kalau kita sudah nggak benar. Kemungkinan dijerat bahaya akan menjadi berlipat ganda. 

Nggak sekali gue ngeliat kecelakaan di jalan, kalian pun mungkin gitu. Dan setiap ngeliat itu perasaan gue nyesss. Gue nggak akan pernah siap kalau itu terjadi buat gue. Entah sebagai yang kecelakaan atau sebagai yang ditinggalkan. Setiap abis ngeliat gitu juga gue akan menjadi lebih baik di rumah (hahahhaa ini manusiawi dong, kalau udah takut sesuatu yang buruk terjadi baru deh baik-baik). 

Tulisan ini cuma buat ngebagi rasa dan pengalaman. Mungkin juga bisa jadi cermin bahwa menjaga keselamatan diri sendiri dan orang lain sudah layak jadi kewajiban. Kalau kita nggak ingin kehilangan, orang lain juga pasti begitu kan? Sebisa mungkin hindari diri jadi korban atau pelaku. Keduanya sama-sama berada di keadaan yang buruk. Lebih baik menjaga dan mengantisipasi daripada mengobati kan? :)

Thursday, January 17, 2013

Balada Amukan Si Hujan

Beberapa hari ini Jakarta dan sekitarnya diguyur hujan yang cukup deras. Enak sih, gue pribadi selalu menikmati saat-saat hujan ngeguyur deras, berlindung dibawah atap, masuk kedalam selimut, itu udah paling nyaman.Tapi disatu sisi, ketika gue ngeliat keluar dan Jakarta tiba-tiba tergenang, gue baru ngeh ada dampak besar lain yang harus ditanggung Jakarta. Gue gak tertarik buat ikut ngomentarin masalah drainase kota yang buruk, masalah sampah yang numpuk, ini salah pemerintah atau salah rakyat, atau hal-hal seperti itu. Bukannya banjir ini udah menimbulkan kesusahan dan gak perlu ditambah dengan banyak komentar yang tidak memberikan dampak signifikan aktif yang muncul dimana-mana yang jelas bukannya bantu malah buat yang ngeliat jadi makin susah otaknya. (in my opinion)

Gue cuma terenyuh saat ngeliat abang-abang sebuah franchise makanan lagi pake jas hujan dan kuyup banget saat ngelewatin genangan air di jl raya serpong beberapa jam yang lalu. Jalanan gak macet, cuma hujan lagi deres-deresnya dan genangan air cukup mengganggu buat dilewatin motor sih. Kenyataan itu buat gue agak nyeess gitu, gimana ya, disaat orang lain memilih buat didalam rumahnya ngerasa terlindungi, si mas-mas itu nggak punya pilihan lain dan belum lagi batasan waktu yang dibuat oleh si tempat dia kerja ngebuat dia gak punya waktu untuk sekadar berteduh atau jalan pelan-pelan. Padahal sepengen apa si pemesan berteduh nyaman dirumahnya, pasti si mas juga pengennya gitu. Tapi hidup selalu memilih dan berisiko kan?

Tau kok banyak pekerjaan lain yang mungkin sesulit yang dilakukan si mas itu, tapi karena tadi dia yang gue liat ya gue ngeliat masalah si hujan yang terus menerus ini dari sisi dia. Belum lagi ada kejadian lain lagi tadi pas gue di Metromini 70. ada ibu-ibu disebelah gue yang ngajak ngobrol, ya ngomongin ujan sih tapi disaat semua orang lain mengutuki hujan dan banjir, pasangan paling banyak dibicarakan beberapa hari ini, si ibu malah bilang "saya tetep bersyukur sih neng, memang banjir, saya basah kuyup mulu kalo kemana-mana, tapi udah lama banget kita kepanasan, kering, hujan tetep bawa rezeki apapun caranya, saya percaya." nyah! Gue tercengang. Ibu ini ngeliat sisi lain dari si hujan yang sempat gue ragukan akibat sulitnya gue tadi mau ke kampus dari Jakarta sana.

Kejadian lain di metromini, tadi nggak ada keneknya, si abang supir sendirian. Jadi di tengah jalan dia minggir, berenti, terus nagih-nagihin ongkos. Nah! yang buat gue berfikir adalah seyakin itu dong dia sama orang-orang yang naik turun dalam jarak dekat kan secara metromini itu gak bisa diawasi naik turunnya. Tadi ada mbak-mbak yang turun mereka rame2 ngumpulin ongkos terus dianter kedepan ke supirnya, tapi ada juga abang-abang yang naik dengan gampangnya turun tapi nggak bayar, gue yakin banget karena dari dia naik setelah gue dan turun sebelum gue dia persis ada didepan gue. Jadi, semua hanya tinggal hati nurani dan kesadaran kita kan?

Gue mungkin bukan orang yang bertemu sapa langsung sama si banjir, gue juga mungkin gak akan pernah bisa ngerasain apa yang dirasain orang-orang yang sekarang sedang ditengah banjir seberusaha apapun gue untuk mencoba memahami perasaan mereka, cuma gue gak pernah mengutuki hujan seperti gue gak suka panas. Bukan berarti gue gak mensyukuri matahari, tapi hujan selalu punya cara buat "menyelimuti". Lagi lagi ini untuk gue dan jelas gak bisa gue sama ratakan ke banyak orang.

Mungkin selimut hangat, atap dan lantai rumah yang masih kering, gak pantas dibandingi sama apapun itu yang orang lain dibelahan kota ini yang merasakan banjir dan harus berkorban basah-basahan demi kepentingan orang lain. Gue pengen hujan kali ini gak lagi "ngamuk", membiarkan matahari ngebantu semua warga yang lagi susah karena "amukan" air, supaya bisa surut, biar semua aktivitas bisa kembali berjalan seperti biasa lagi. Semoga hujan yang ramah seperti biasanya akan mampir lagi tapi tidak dalam waktu dekat atau paling gak sampe semua jadi normal. Tunggu semua pulih biar semua bisa lancar lagi. Tapi apapun itu, hidup harus terus berjalankan, kita toh tetep harus sabar walaupun mungkin terjebak banjir berjam-jam, jalanan macet, baju basah kuyup atau antrian kendaraan umum yang membludak karena berantakannya jadwal. Cukup percaya lah, semua ini akan berakhir dan akan selalu ada hikmah dari setiap kejadian (jika kata-kata retoris ini bisa sedikit melegakan hati yang membaca). Kita akan segera "pulih" bareng-bareng :')

Sunday, August 5, 2012

Rutinitas Berubah Jadi Kewajiban. Lalu Mana Haknya?


Bingung sih sebenernya sama Jakarta, bukan karena apa-apa, tapi karena bingung apa yang harus disalahin. Gini nih, dalam ya kurang lebih dua minggu ini gue berkeliaran di jalanan Jakarta sekitar jam pergi dan pulang kantor. Ok, jam perginya nggak bisa terlalu diperhitungkan karena perginya gue agak siang, sekitar jam setengah 9 in that point sebagian besar pekerja udah pergi dong.
Nah sementara jam pulangnya nih yang menggila, kenapa? Karena ini bulan puasa dan gue selalu pulang sekitar jam 4 sampai setengah 5 dan itu gila banget padetnya. Gimana nggak, gue selalu naik metromini ke arah tanah abang itu seringnya penuh, no space, kebanyakan orang berdiri sampai pintu. Kemudian dilanjutkan dengan berkejaran sama KRL. Itu juga, nggak ada kesempatan deh buat dapet space lebih gede dari nonton konser sold out. Bahu sama bahu udah jadi penopang badan, nggak perlu deh pegangan karena toh nggak bakal jatuh juga. Padet geng!
Liat sisi lain Jakarta nih ya, kemarin kebetulan gue harus nyusulin nyokap di Taman Anggrek, jadi dari kantor gue memutuskan untuk naik metromini 502 yang biasanya terus turun di halte transjakarta Bank Indonesia, naah itu, halte udah penuh orang sampe loketnya harus ditutup sementara, uda banyak yang ke angkut baru buka lagi, jadi loketnya pake sistem buka tutup.
Belom, belom kelar sampe situ. Udah nih ngantri, kirain satu line doang tuh, eh ternyata pintu yang seuprit itu dibagi buat dua jalur, yang satu arah senayan-blok m satunya lagi ragunan. Matilah, setengah jam gue luntang lantung pantes gak maju-maju. Akhirnya karena gue mau turun di halte benhil, gue bisa ikut yang mana aja. Ikut nih gue yg ke arah Senayan setelah ngantri sekitar 45menit, jangan ngebayangin antrian biasa, ini antrian minim oksigen dan “intim” dengan orang kiri kanan.
Setelah berhasil naik transjakarta nih, ditengah jalan yang pas di depan stasiun sudirman kena macet juga nih bus, eh AC nya mati dong. Gue rasanya mau nyerah aja, kalau bisa lambaikan tangan ke kamera terus dijemput naik helicopter pasti itu akan langsung gue lakukan. Untung abang yang jaga pintu sigap, langsung nelfon pos di Blok M laporan dan memutuskan untuk nggak nambah penumpang lagi. (YA iya lah, kalau nggak gue bisa pingsan karena kurang udara dan badan lengket akut).
Turun nih di Benhil akhirnya. Tau dong betapa panjangnya halte ini dari depan Atma Jaya sampe depan Polda Metro sana. Ada promo yang jual sepaket sari roti + teh botol dengan harga 5ribu ya langsung gue beli buat buka. Duuuh yang selama ini, itu halte favorit gue karena gue bisa ngeliat pemandangan cakep dan udara sejuk, kali ini jadi penyiksaan tak berujung. Gimana nggak? Panjangnya, gue aus banget, buka masih sejam, sebadan rasanya rontok, punggung mulai nyeri karena laptop makin berat (kalau gue tulis keluhannya bisa nggak berujung).
Sampe nih di halte arah slipi. Subhanallah, penuh bener. Halte itu udah penuh orang, padet. Masuklah gue diantrian itu dan tahukah kalian? 30menit tanpa satupun transjakarta yang lewat.Antrian makin gawat, orang nambah terus, lebih padet dari konser, eh bus gak nongol juga. Daripada pingsan beneran, gue pun memutuskan buat mencari bus jenis apapun yang kea rah grogol. Padahal sumpah gue belom pernah, tapi gue yakin lah sama tingkat kehafalan gue akan jalan dan lagian hey itu lurusan doang kan.
Nunggu 5menitan ada bus arah grogol, nggak berAC tapi bodo amat. Gue naik aja, ongkosnya 2ribu kaya metromini, no nya 564 atau 546 atau 654 atau 645 atau malah bukan itu gue uda nggak ngeliat lagi yang penting naik dan Alhamdulillah ada tempat duduk. Disanalah gue berbuka sama sepaket sari roti dan teh botol yang gue beli tadi. Akhirnya jam 6.15 gue nyampe di TA dan ketemu nyokap sama yang lain.
Sampe di TA semua pada makan di Jala-Jala dan Lee Hong Kien,Chong Fen Ebi bersama teh manis dingin langsung ada buat gue. Itu indah, serius. Udah sih sebenernya nggak mau cerita itu, cuma ya itu tadi, gue masih sangat beruntung, dari sepanjang itu penderitaan akhirnya gue makan enak di tempat berAC YANG MANA belum tentu semua orang ngerasain apa yang gue rasain ya kan? Udah pantes gue bersyukur.
Yang buat gue bingung adalah kebayang kan gimana, jalanan macet total (kalau naik mobil pribadi atau bus jalur biasa), transjakarta penuh orang dan antrian panjang bermenit-menit (kalau naik bus) dan KRL padet orang (kalau naik kereta). Seolah nggak ada pilihan yang enak buat orang Jakarta. Kayanya itu uda bagian dari rutinitas dan “tugas tambahan” buat dia selain capeknya ngantor dan bangun pagi belum lagi suasana kantor,keadaan rumah,suasana hati dan segala macemnya.
Jadi kalau semua uda padet dan nggak ngasi space buat kita,warganya, apa yang salah dan yang harus dibenerin? Penduduk yang kepadetan? Transportasi yang kurang? Kebanyakan kendaraan? Atau semuanya? Gue yakin ini bukan pertanyaan yang mengelayut di benak gue doang, tapi hampir di semua orang yang merasakan apa yang gue rasakan bahkan mungkin udah sejak lama.
Ya, dari yang awalnya gue ngeluh banget, pengen nangis, nggak sanggup, sampe akhirnya gue ngerasa ya uda, buat apa ngeluh toh nggak ngubah apa-apa, uda jadi rutinitas gue secara nggak langsung. Aneh kan? Baru 2 minggu aja, gue uda kaya robot yang di setting buat menjalankan semuanya secara teratur tanpa hak buat ngeluh. Miris ya kita?