Banyak hal yang berlalu namun sebanyak itu pula waktu yang terbuang sia. Bukan karena gue enggan menulis, tapi rasanya keinginan itu perlahan menguap ke udara. Ujungnya, hanya tersisa niat untuk menuliskan apa yang menggelitik hati, membiarkannya perlahan menghilang dalam ingatan. Sebenarnya mungkin nggak langsung hilang begitu saja tapi mood untuk menuliskannya sudah tidak di sana.
Salah satu yang masih terpatri jelas diingatan namun nyawanya sudah lebih dulu melayang adalah kejadian di KRL Palmerah - Rawabuntu yang gue tumpangi. Ketika KRL masuk ke peron jalur 1 Palmerah, gue udah siap di posisi pas bertepatan dengan pintu kedua terdepan dari gerbong KRL. Tiba-tiba seorang Mbak berbaju biru, nampaknya pekerja kantoran, mepet dempet dengan kekuatan tangan yang bisa membuat nyeri lengan orang di sampingnya dan itu gue.
Rasa tidak mau kalah gue terusik. Gue pun tergoda untuk "mengalahkannya". Maka gue berkeras dan enggan memberi jalan. Bagi gue ketika orang itu berjuang secara fair untuk mendapatkan tempat duduk, gue akan dengan senang hati merelakannya, tapi ketika dia mengusik dengan cara ngotot, gue rasa dia salah milih lawan.
Selanjutnya, gue duduk bersebelahan dengan seorang ibu yang terlihat sedang susah baik dari pakaian maupun dari tatapannya yang menerawang. Anak sang ibu yang kerap melamun ini sediikit usil, mengganggu seorang ibu berjilbab disebelah ibunya. Jilbab sang ibu ditarik berkali-kali namun sang ibu memilih diam.
Sang anak enggan berhenti, mungkin karena merasa tidak mendapat tanggapan, anak itu mulai bergerak ke sana ke mari. Tiba-tiba sebuah suara mengejutkan seisi gerbong wanita. Ada suara bentakan yang lantang.
Gue pun menoleh, betapa kagetnya gue ternyata si Mbak berbaju biru yang tadi harus melipir karena perebutan kursi di awal masuk gerbong tadi gue menangkan. Sang Mbak yang egois membentak anak tersebut. Tidak hanya membentak anak perempuan kecil tersebut, si Mbak juga membentak ibu yang melamun itu. Cukup panjang kata-katanya dan suaranya sangat lantang. Membuat segerbong terkesiap dalam sunyi.
Beberapa ibu-ibu tampak terkesima. Gue pun melemparkan pandangan tidak suka. Sang anak keburu menangis, dan sang ibu hanya mampu menenangkan seadanya sebelum kembali melamun.
Singkat cerita mereka berdua (anak dan ibu) hendak turun di stasiun Sudimara. Kala menunggu KRL berhenti dengan sempurna, ada seorang ibu yang duduk persis di sebelah pintu KRL (bersebrangan dengan gue) merogoh sesuatu dari tasnya.
Tidak lama dikeluarkan lah sebuah kantong breadtalk dan ia pun memberikan pada sang anak. Dengan sebuah pesan "Jangan nangis lagi ya nak". Gue dan sang ibu breadtalk pun saling melempar senyum. Sebelum sebuah suara kembali mengusik.
Si Mbak biru nyeletuk "Kalau anak kaya gitu jangan dikasih hati, ibunya juga nggak pake otak, anaknya didiemin aja, Saya sih nggak bisa diem aja kalau ngeliat anak-anak nggak diajarin begitu," dan bla bla bla. Obrolan menjengkelkan itu berlanjut bersama dengan beberapa ibu-ibu yang sama sifatnya, suka ngomongin orang lain di belakang!
Gue pun memutuskan untuk pasang headphone dan menutup mata. Dunia kadang terlalu berisik. Malangnya, suara-suara sumbang itu keluar dari rasa toleransi yang minim. Perasaan angkuh terhadap dirinya sendiri dan selalu menganggap orang lain selalu punya kekurangan dan kesalahan. Memuakkan.
Ironinya, di dunia yang sudah sumpek ini. Keangkuhan dan suara lantang selalu dianggap sesuatu yang hebat dan pantas dibanggakan. Diakui oleh masyarakat sekitar, dianggap perbuatan heroik. Lupa, kalau setiap jengkal bumi ini dibagi bersama, bukan untuk dikuasai perorangan.

" Three words I can sum up everything I've learned about life: it goes on. " Robert Frost
Showing posts with label KRL AC. Show all posts
Showing posts with label KRL AC. Show all posts
Saturday, April 11, 2015
Sunday, August 5, 2012
Rutinitas Berubah Jadi Kewajiban. Lalu Mana Haknya?
Bingung sih sebenernya
sama Jakarta, bukan karena apa-apa, tapi karena bingung apa yang harus
disalahin. Gini nih, dalam ya kurang lebih dua minggu ini gue berkeliaran di
jalanan Jakarta sekitar jam pergi dan pulang kantor. Ok, jam perginya nggak
bisa terlalu diperhitungkan karena perginya gue agak siang, sekitar jam
setengah 9 in that point sebagian besar pekerja udah pergi dong.
Nah sementara jam
pulangnya nih yang menggila, kenapa? Karena ini bulan puasa dan gue selalu
pulang sekitar jam 4 sampai setengah 5 dan itu gila banget padetnya. Gimana
nggak, gue selalu naik metromini ke arah tanah abang itu seringnya penuh, no
space, kebanyakan orang berdiri sampai pintu. Kemudian dilanjutkan dengan berkejaran
sama KRL. Itu juga, nggak ada kesempatan deh buat dapet space lebih gede dari
nonton konser sold out. Bahu sama bahu udah jadi penopang badan, nggak perlu
deh pegangan karena toh nggak bakal jatuh juga. Padet geng!
Liat sisi lain Jakarta
nih ya, kemarin kebetulan gue harus nyusulin nyokap di Taman Anggrek, jadi dari
kantor gue memutuskan untuk naik metromini 502 yang biasanya terus turun di
halte transjakarta Bank Indonesia, naah itu, halte udah penuh orang sampe
loketnya harus ditutup sementara, uda banyak yang ke angkut baru buka lagi,
jadi loketnya pake sistem buka tutup.
Belom, belom kelar
sampe situ. Udah nih ngantri, kirain satu line doang tuh, eh ternyata pintu
yang seuprit itu dibagi buat dua jalur, yang satu arah senayan-blok m satunya
lagi ragunan. Matilah, setengah jam gue luntang lantung pantes gak maju-maju.
Akhirnya karena gue mau turun di halte benhil, gue bisa ikut yang mana aja.
Ikut nih gue yg ke arah Senayan setelah ngantri sekitar 45menit, jangan
ngebayangin antrian biasa, ini antrian minim oksigen dan “intim” dengan orang
kiri kanan.
Setelah berhasil naik
transjakarta nih, ditengah jalan yang pas di depan stasiun sudirman kena macet
juga nih bus, eh AC nya mati dong. Gue rasanya mau nyerah aja, kalau bisa
lambaikan tangan ke kamera terus dijemput naik helicopter pasti itu akan
langsung gue lakukan. Untung abang yang jaga pintu sigap, langsung nelfon pos
di Blok M laporan dan memutuskan untuk nggak nambah penumpang lagi. (YA iya
lah, kalau nggak gue bisa pingsan karena kurang udara dan badan lengket akut).
Turun nih di Benhil
akhirnya. Tau dong betapa panjangnya halte ini dari depan Atma Jaya sampe depan
Polda Metro sana. Ada promo yang jual sepaket sari roti + teh botol dengan
harga 5ribu ya langsung gue beli buat buka. Duuuh yang selama ini, itu halte
favorit gue karena gue bisa ngeliat pemandangan cakep dan udara sejuk, kali ini
jadi penyiksaan tak berujung. Gimana nggak? Panjangnya, gue aus banget, buka
masih sejam, sebadan rasanya rontok, punggung mulai nyeri karena laptop makin
berat (kalau gue tulis keluhannya bisa nggak berujung).
Sampe nih di halte arah
slipi. Subhanallah, penuh bener. Halte itu udah penuh orang, padet. Masuklah
gue diantrian itu dan tahukah kalian? 30menit tanpa satupun transjakarta yang
lewat.Antrian makin gawat, orang nambah terus, lebih padet dari konser, eh bus
gak nongol juga. Daripada pingsan beneran, gue pun memutuskan buat mencari bus
jenis apapun yang kea rah grogol. Padahal sumpah gue belom pernah, tapi gue
yakin lah sama tingkat kehafalan gue akan jalan dan lagian hey itu lurusan
doang kan.
Nunggu 5menitan ada bus
arah grogol, nggak berAC tapi bodo amat. Gue naik aja, ongkosnya 2ribu kaya
metromini, no nya 564 atau 546 atau 654 atau 645 atau malah bukan itu gue uda
nggak ngeliat lagi yang penting naik dan Alhamdulillah ada tempat duduk.
Disanalah gue berbuka sama sepaket sari roti dan teh botol yang gue beli tadi.
Akhirnya jam 6.15 gue nyampe di TA dan ketemu nyokap sama yang lain.
Sampe di TA semua pada makan di
Jala-Jala dan Lee Hong Kien,Chong Fen Ebi bersama teh manis dingin langsung ada
buat gue. Itu indah, serius. Udah sih sebenernya nggak mau cerita itu, cuma ya
itu tadi, gue masih sangat beruntung, dari sepanjang itu penderitaan akhirnya
gue makan enak di tempat berAC YANG MANA belum tentu semua orang ngerasain apa
yang gue rasain ya kan? Udah pantes gue bersyukur.
Yang buat gue bingung
adalah kebayang kan gimana, jalanan macet total (kalau naik mobil pribadi atau
bus jalur biasa), transjakarta penuh orang dan antrian panjang bermenit-menit
(kalau naik bus) dan KRL padet orang (kalau naik kereta). Seolah nggak ada
pilihan yang enak buat orang Jakarta. Kayanya itu uda bagian dari rutinitas dan
“tugas tambahan” buat dia selain capeknya ngantor dan bangun pagi belum lagi
suasana kantor,keadaan rumah,suasana hati dan segala macemnya.
Jadi kalau semua uda
padet dan nggak ngasi space buat kita,warganya, apa yang salah dan yang harus
dibenerin? Penduduk yang kepadetan? Transportasi yang kurang? Kebanyakan
kendaraan? Atau semuanya? Gue yakin ini bukan pertanyaan yang mengelayut di
benak gue doang, tapi hampir di semua orang yang merasakan apa yang gue rasakan
bahkan mungkin udah sejak lama.
Ya, dari yang awalnya
gue ngeluh banget, pengen nangis, nggak sanggup, sampe akhirnya gue ngerasa ya
uda, buat apa ngeluh toh nggak ngubah apa-apa, uda jadi rutinitas gue secara
nggak langsung. Aneh kan? Baru 2 minggu aja, gue uda kaya robot yang di setting
buat menjalankan semuanya secara teratur tanpa hak buat ngeluh. Miris ya kita?
Labels:
Jakarta,
Jam Kerja,
KRL AC,
Macet,
self thought
Subscribe to:
Posts (Atom)