" Three words I can sum up everything I've learned about life: it goes on. " Robert Frost

Friday, May 4, 2012

Mungkin Disana Ada Kita

Tulisan ini udah di muat di tumblr gue tapi pengen gue share juga disini .. Let's see :


Mungkin disana ada kita
Kamu yang mengerti, kamu pernah singgah dan mengobati setiap kepingan hati ku yang porak poranda tak terselamatkan. Lalu kemudian kamu bertanya apa aku sudah siap memulai goresan pertama dalam lembar kisah kebersamaan yang baru. Lalu aku pun tertunduk dalam diam. Belum mampu menjawab itu dengan lantang.
Bukan, bukan karena aku menyimpan dendam atas borok lama yang masih ku miliki, bukan juga pandangan pesimis yang merajai ku. Hanya saja mestinya kau mengerti, saat luka itu belum mampu mengelupas dengan sendirinya tanpa perlu di paksa itu saat dimana luka itu belum sembuh benar. Sama dengan ku, aku belum siap.
Kamu mengerti benar, bahwa sakit itu perlahan menghilang, tapi ada trauma akan perih yang sama. Bahwa cerita itu tertinggal dibelakang tapi tidak semudah itu untuk melepas bayang kenangan. Bahwa sosok itu perlahan menghilang dalam hembusan waktu, tapi tak semudah itu mengenyahkannya dari sudut permainan pikiran. Bahwa ada satu dari sepuluh kisah yang enggan kau campakkan dari hari mu karena dia terlalu indah dan manis.
Tapi kamu perlu tau, jika saja aku mampu berteriak lantang, berteriak pada kamu didepan wajah tenangmu, aku ingin berkata ” Kamu yang terbaik kini, aku tak ingin memiliki sesenti pun jarak dan sedetikpun waktu tanpa bersinggungan bahu dan berbagi tawa denganmu.”
Hanya saja jangan salahkan ragu yang masih menggelayut di benak ini. Aku tak kuasa melepasnya. Bukan ragu atas hari kita, hanya ragu atas aku yang masih goyah. Waktu. Aku bersahabat erat dengannya, aku percaya dia akan membimbingku, melewati semua yang baik lalu berhenti pada yang terbaik. Mungkin disana kita akan bertemu. - NDN

Siapa Kamu Yang Disana..

Tulisan ini muncul karena inspirasi lagi membuncah di tengah jadwal kuliah kosong. Maknanya apa dan kenapa tiba-tiba ada ide ini sih nggak tau darimana. Cuma ditemani sama 3 orang teman yang sedang sibuk dengan kegiatannya masing-masing ditambah dengan angin sepoi-sepoi yang buat inspirasi langsung meledak-ledak. Hasilnya ini ... :

Siapa kamu yang disana? Aku merasa irama langkah yang sama dengan ku. Tapi aku tak melihat jejaknya. Aku akrab dengan ritme nafas yang memburu yang sama dengan ku. Tapi aku tak merasa hangatnya. Aku menikmati kehadiran di belakang langkah ku. Tapi aku tak menangkap sosoknya.

Siapa kamu yang disana? Aku sedang terluka, aku butuh sapa hangat untuk sekedar menjadi penawar perih yang bersemayam. Jangan temani aku dalam tatap itu lagi, biar aku merasa hangat nafasmu karena sunyi ini menyayat ku.

Siapa kamu yang disana? Sudikah kamu sekedar mampir dalam sepi yang ku rajut? Jangan pergi. Aku bosan bersemayam dalam bisu, aku ingin detak jantung yang berbeda, aku ingin hangat hembus nafas yang tak sama. Boleh kamu sekedar singgah?

Siapa kamu yang disana? Aku diintai dalam ramai. Aku dikejar dalam langkah. Aku tersungkur dalam tegak. Kamu memporakporandakan setiap pertahanan yang masih ku miliki. Kamu kikis habis tameng yang menyelimutiku dari luka. Kamu cabut perban yang belum penuh mengeringkan luka yang ada. Kamu bunuh aku dalam lemah.

Siapa kamu yang disana? Kamu merangkai huruf menjadi pedang yang menghunus ku hingga untuk berdetak pun jantung ku enggan. Lalu kamu berlalu dalam sepi setelah kamu melihat ku mati dalam perih.

Siapa kamu yang disana? Kamu membuatku meragu dan tergugu dalam sepi. Aku enggan melangkah mendekat sinar, aku tak ingin kau menyadari sehalus apapun gerakan yang ku rangkai. Aku tak ingin kau sadar bahwa aku masih menghembus nafas. Biar aku mati dalam benakmu.

Siapa kamu yang disana? Yang mencoba menggoyahkan langkah yang dulu ku jejak dengan mantap. Kehadiranmu yang kurasa melalui tatapan dalam namun mencipta siksa kini membuatku tertatih dalam setiap langkah yang ku cipta. Menjauh lah. Biar aku terus mengayuh

Enjoy :) - NDN

Monday, April 30, 2012

Is it too mainstream?

Bimbang atau nama kerennya sekarang yaah itu tuh GALAU. Mau dilihat dari sisi apa ya? Biarin ngalir aja deh ya ini ceritanya. Kita mulai dari, salah gak sih GALAU? Sebenernya menurut gue sih gak bisa ada yang disalahin. Apa coba salahnya? Terlalu mainstream? Ikutin arus banget? Mungkin gak sih. Coba dirunut, dari dulu pasti manusia itu pernah bimbang, bingung mau ngambil keputusan kaya apa dan gimana. Pilihan mana yang lebih baik satu dari yang lainnya. Iya kan? Bukan karena zaman sekarang musim GALAU terus baru sekarang doang kita bingung sama pilihan-pilihan kita, dari dulu juga selalu ada pilihan yang buat bingung yang harus kita tentuin buat hari kita didepannya. Kalo gak masa iya ada kata-kata terkenal "HIDUP ITU PILIHAN".

Cuma mungkin menurut gue sih gini, dulu kita bingung tapi gak ada istilah kerennya yang dipake meluas secara nasional terus jadi semacam trend. Nah sekarang kita bingung, terus ada istilah 'hits' itu makanya berasanya bingung jadi terlalu mainstream. Jadi berasa ada dimana-mana gitu padahal sebenernya dulu juga ada dimana-mana. Ibaratnya dulu gak keliatan gitu, dibawah permukaan sekarang keliatan banget. Selain karena istilah keren tadi ya karena sekarang itu kemampuan kita mengakses wilayah pribadi seseorang jauh jauh jauh lebih mudah dengan adanya sosial media ini lah makanya kita terasa dekat dengan kebimbangan seseorang. Dapat dikatakan, kita secara tidak langsung diajak masuk dan terlibat dalam pengambilan-pengambilan keputusan yang dipunya oleh seseorang yang tadinya sebelum ada sosial media kita gak pernah sampai ke wilayah tersebut (kecuali itu keluarga atau sahabat kita).

Bisa jadi trend banget ya karena memang kita setiap menitnya dalam hidup selalu bertemu sama pilihan yang kadang bagi sebagian orang itu biasa banget, tapi bagi sebagian orang yang memang buat mutusin mau makan coklat silverqueen atau cadbury aja bingung ya pasti galaunya maksimal. Ujung-ujungnya semua masalah dan pilihan kita yang berujung pada kebimbangan berubah nama jadi galau.

Tapi yang sayangnya, galau malah identik dengan galau cinta. Dikit-dikit dimana ada kebimbangan dianggapnya itu karena dia lagi galau cinta. Padahal ya mungkin aja dia lagi galau yang lain. Tapi gak bisa disalahin juga persepsi yang ada itu, kenapa? Karena emang situasi yang ada yang ngebuat galau itu erat kaitannya dengan cinta. Gimana gak? sekarang masalah cinta macam apa yang gak dibawa ke sosial media. Malah kadang sengaja buat diliat sama orang lain, entah orang yang emang buat galau entah orang lain biar diperatiin. Ya ga? 

Terus kaya gitu salah lagi? Ya gak lah, semua orang punya hak kali mau kaya gimana dan ngapain. Sosial media kan tempat dimana seharusnya ada keterbukaan, kalau gak mau wilayah privasinya nggak terganggu ya jangan mendekati sosial media. Sekali bersedia sign up lalu sign in berarti kalian sudah siap membagi sebagian wilayah privasi dan cerita kalian ke orang lain. Nggak ada batasnya dong? Ya ada lah, yang buat batas itu kita sendiri, mau sampai sejauh apa kita ngebagi urusan pribadi kita sama orang lain. Nah sisanya ya terserah yang baca nanggepinnya gimana. Siap berbagi siap menghadapi :)!

Tidak ada yang terlalu mainstream, yang ada hanya akan selalu ada arus - arus trend yang terus bergulir seiring dengan waktu tanpa sempat kita cegah. Tinggal bagaimana kita memilihnya : mengikuti lalu memimpin arus tersebut atau mengikuti lalu terseret arus yang ada. Pilihan selalu ada ditangan kita, bukan mereka. Jadi siap melakukan pilihan? Atau malah jadi GALAU ? Hahahhaha. It's on your hand :)

Friday, April 27, 2012

Tous Les Jours

Sebenernya ini mestinya tulisan sekitar satu bulan yang lalu. Gue mau sedikit berbagi cerita tentang satu toko kue di salah satu mall di Senayan, yaitu Senayan City. Nah di lantai yang gue gak inget itu lantai berapa yang pasti lantai yang sama dengan XXI dan food court mall itu, ada sebuah toko kue. Dari luar aja, kalo kita sepintas lewat pasti bakal langsung mencuri perhatian. Dengan keranjang-keranjang coklat yang beralaskan kain kotak-kotak merah putih, itu membawa kita pada bayangan tentang Bakery atau Cake shop di luar sana yang sering kita tonton di film-film. 

Roti-roti tersebut dijejerin disitu, ada juga sih yang ditaronya di atas nampan putih doang kaya Bread Talk, tapi suasana dan dekorasi tokonya buat dia langsung jadi sangat harus disamperin. Lalu gue masuk, melihat-lihat dan tergiur dengan banyaknya pilihan yang ada. Lalu dari jejeran roti itu gue memilih Croissant polos lalu dari jejeran kue-kue yang terbungkus plastik gue ngambil Blueberry Muffin sama aduh lupa namanya, kalo gak salah Chocolate Cookies. 

Setelah membayar, gue pun memutuskan untuk icip-icip sambil gegayaan santai disana. Sengaja, karena tempatnya terlihat sangat nyaman. Disana juga jual minuman kaya Ice Coffee atau Ice Chocolate dan sejenisnya. Tapi gue gak nyobain sih. Gue suka Blueberry Muffinnya apalagi pas masih panas, masih meleleh-leleh blueberry nya. Chocolate Cookiesnya juga pas, gak manis banget. Croissantnya sempurna. (bukan pencinta kuliner yang mendalami, hanya opini gue yang suka jajan)

Woopsss setelah cerita panjang lebar gue bahkan belum menyebutkan toko kue keren itu. Namanya.... Tous Les Jours ! keren karena bagi gue dia menawarkan konsep toko roti yang berbeda dari yang ada-ada di ibukota. Konsep kebanyakan toko roti di mall ya hampir semua sama, jejeran rak bertingkat berisi roti dengan berbagai jenis lalu sebuah meja kasir yang disampingnya ada apa tuh namanya, ya itu etalase tempat majang berbagai jenis kue-kue manis. Kadang kita jemu ngeliat hal-hal monoton kaya gitu (paling gak gue begitu), kan pengen dikasi sedikit alternatif yang kalau bisa banyak, yang bisa buat kita sebagai pembeli punya banyak pilihan. Menyediakan ruang yang nyaman untuk sekedar bertukar cerita atau melepas lelah dari padatnya ibukota walaupun masih didalam mall tetep bisa jadi sweet escape. Intinya sih, gue jatuh hati sama konsep tokonya. Mungkin kalian bisa berkunjung dan buat opini sendiri :)

There're some pictures of Tous Les Jours .. I take the picture using my phone, sorry for the quality :)


Tulisan ini ada di dinding tokonya 



Ini itu Chocolate Cookiesnya



Kalau yang ini Blueberry Muffin-nya


Yang ini kantong plastiknya hahahhaa


Tuesday, March 20, 2012

Replika Manusia Kota

Setelah di kelas jurnal TV nonton "Jakarta Megacities" nya National Geographic yang dulu pernah gue tonton juga di Metro TV, maka inspirasi itu pun muncul..

Lalu setelah inspirasi itu muncul, maka berpuluh-puluh kata membludak ingin dirangkai saat itu juga. Sehingga terciptalah ini :

"Pemandangan di bawah sana masih saja sama, puluhan pasang sorot lampu kemerahan menyala masih saja bergerak lambat. Lampu-lampu kota mulai menyemburatkan sinarnya. Aku menyapu pandangan ku ke seluruh sudut ruangan, tersisa beberapa sosok yang sedang bersantai. Sama denganku, menunggu malam menjemput lalu berpacu di jalan yang sudah lenggang mengantar diri dalam istirahat singkat.” (rutinitas ku, perempuan di balik gedung bertingkat)

"Lama sudah aku menunggu. Berpuluh orang sudah lalu lalang naik turun berbagai onggokan besi bernomor yang herannya masih bisa berjalan itu. Membayangkan berada di dalamnya saja aku bergidik ngeri. Berapa banyak kuman disana, berapa banyak hal buruk yang bisa terjadi disana, bahkan mungkin keselamatan ku terancam melihat caranya meliuk dipadatnya jalan. Aku rela menjemput malam asal sejuk ac dan harum jok kulit tersapu sejuk itu yang ku dapat.” (suara hati ku,perempuan saksi bisu padatnya raya)

Peduli apa aku dengan gundukan di sudut itu? Toh bukan aku yang membuatnya. Mereka yang bercanda disana mungkin, atau mungkin bapak tua disudut sana, atau mungkin pedagang yang merokok itu. Bukan urusanku. Entahlah. Nanti pada saatnya juga pasti ada yang mengambilnya. Biarkan saja.” (Benak ini milik ku, seorang perempuan dalam keramaian kota)

"Entah sudah berapa lama aku terperangkap dalam pekat asap yang serupa, aku bahkan merasa dekat dengannya. Mencarinya untuk memastikan bahwa aku masih hidup dan menghirup udara. Aku bahkan lupa wangi udara segar. Aku bahkan tak ingat kapan terakhir kali rongga dada ini terasa bebas tak terkungkung. Aku replika manusia kota kebanyakan.”

Aku berjalan menunduk dalam, memandang penuh pada setiap retakan-retakan yang ku jejak. Hanya tanah tends meretak yang muncul. Aku mencari setitik hijau yang menenangkan.. Tapi entah dimana aku harus mencarinya. Ini yang ku jejak pasti bukan tempatnya. Aku mencari di tempat yang tak seharusnnya.”

Ku sapu seluruh objek yang terbentang luas di hadapan ku, di satu sudut ku temui semburat sosok yang mencolok. Mata ku tak terbiasa dengannya, unik namun terlalu menyiksa. Disini, di pojok ini yang ku tau hanya semburat yang biasa hadir. Sosok pohon yang rindang itu langka, ini hanya tanah kering retak di setiap sisinya. Itu sahabat mata ku, bukan dia.”

Aku menghela nafas dalam, sesak menyemburat meliuk di setiap rongga dada. Ini realitas yang ku lalui, aku berkeliaran bebas diantara asap hitam yang menjadi teman, aku bahkan tak akrab dengan udara segar, aku bersahabat dengan pekat asap knalpot."

Itu part 1-nya. kelanjutannya segera menyusul. :)

PS : You can get more of those words on my tumblr : Unpredictable Ways :)

Sunday, March 18, 2012

Sosok nyata di tengah balutan dunia palsu


Ide menulis yang kali ini terlintas pada saat melihat poster film "GIE" dengan satu rangkaian kata-kata yang langsung mengingatkan gue pada seseorang .. rangkaian kata seperti ini..

"Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan"

Kemudian setelah pertanyaan yang muncul di kepala kalian mengenai rangkaian kata apa itu yang tentu sudah terjawab, kini muncul pertanyaan lain lagi kan, siapa sih emangnya yang nongol gitu aja dikepala lo? se sarkastik itukah orang itu? emang masih ada orang kaya gitu di zaman penuh orang-orang yang punya topeng indah dibalik busuknya kelakuan mereka karena kealpaan pandangan lain selain kepentingan pribadinya?

I guess I have one.. Mungkin bagi sebagian orang atau bahkan orangnya pas baca ini (gue tau komennya mungkin kira-kira gini : "hahahhaha nggak gitu banget juga kok.") tapi lagi lagi di blog ini semua yang gue tulis murni apa yang gue rasa dan pikirin, jadi tidak pernah ada pembenaran atau penyalahan atas sesuatu, opini itu milik semua orang, am I right? :)

Yakk mari dimulai..

Orang itu temen SMA gue, buat sebagian orang mungkin udah disebut sahabat tapi buat gue dia saudara (soalnya orangnya gak pernah percaya sama istilah "sahabat" hahahhaaha) but for sure, dia bener-bener bisa dibilang saudara !! Gue kenal dia dari awal masuk SMA sampai sekarang masih jadi temen yang sangat baik, dia selalu jadi orang pertama yang nampung semua cerita gue, tau apapun yang terjadi sama gue, dan orang nomor 1 yang selalu siap nolongin gue.

Nah gue bukan lagi mau nyeritain kisah itu, tapi sisi lainnya dia, dia ini apa ya namanya, hmmm bisa dibilang punya prinsip ! Seseorang yang dengan keras akan berjalan atas apa yang dia percayai. Nggak peduli apa tanggapan orang,apa yang orang lakukan,kalau buat dia itu nggak ya tetep nggak. Nyebelin? Pasti !! Ngomong nggak mikirin perasaan orang? Jangan ditanya. Nggak tau basa basi? Banget ! Pokoknya semua yang terlintas dikepala kalian soal orang yang akan sangat menyebalkan karena terlalu seringnya berkata seenaknya dia, ya udah bener pasti jawabannya iya.

Mungkin buat orang yang belum kenal dia, ogah pasti deket-deket, capek nelen ludah karena sakit hati. Tapiiiiii, they just don't see the inside, the best part of this person. Butuh waktu memang buat mengerti dan terbiasa. Tapi percaya deh ditengah dunia yang penuh kepalsuan seperti ini kadang lo butuh orang-orang yang nyata,asli, bukan manusia penuh basa basi yang nemu dijalan juga banyak. Lo akan sangat bersyukur punya temen macam dia (alhamdulillah I have one, at least I feel this person is the one who I describe before)

Dia nggak peduli mau orang jadi sebel karena semua hal-hal diatas, atau orang malah jadi ngejauhin dia karena itu.. Dia bener-bener nggak ambil pusing. Toh kenyataannya, temen-temennya tetep nyari dia, tetep jadiin dia orang yang akan selalu dicari kalo lagi ngumpul-ngumpul di laksanakan, tetep jadi orang yang perlu untuk menghibur suasana, intinya temen-temen yang tau dia gimana dan mungkin orang-orang yang butuh sesuatu yang "real" di hidupnya akan tetep nyari dia ! This person still get the center of the attention.

Terus dia jahat? Ya asli juga kalo kerjaannya nyakitin ngapain?

Jawaban gue adalah punya prinsip dan pandangan tersendiri bukan berarti punya kepribadian yang buruk. Dia cuma memegang teguh apa yang dia anggap benar, diluar itu, dia temen terbaik ! Siap kapan aja nolongin temennya, ngebantuin nggak pernah pake pamrih, sangat bisa dipercaya, jarang banget boong, baik deh banget pokoknya! Ya jangan melebarkan pemikiran lo semua ke bayangan-bayangan lebay kaya di film-film gitu, dia tetep manusia biasa. Mungkin sesekali pernah boong, mungkin sesekali pernah bilang nggak, mungkin pernah nolak atau sedang tidak bisa membantu, manusiawi kan? Cuma kalo lo bener udah dianggap temen buat dia, berarti lo pasti akan merasakan rasanya jadi temen, yang bener-bener temen bukan sekedar jadi temen yang say hi,smile on every story you've got then turn around and give nothing on your business. Bukan gitu tuh tipenya.

Banyak mungkin yang sakit hati, tapi banyakan yang merasa dia jauh lebih real dan pantas didenger dari orang-orang bermuka dua diluar sana. Nggak perlu gue buat detail disini, gue tau seberapa banyak orang yang kesel sama dia dan bilang ke gue karena tau gue deket sama dia, tapi gue juga tau seberapa banyak orang yang memuji ke"polosan"nya dia karena terasa lebih jujur yang juga dibilang langsung ke gue.

Jadii... gue termasuk orang yang pantas bersyukur nemu yang begini ditengah zaman begini.. Mungkin dia nggak se-kebangetan GIE, jauh mungkin! Tapi paling nggak yang gue tau bertahun-tahun ini, gue ketemu banyak orang yang sekilas lewat maupun yang jadi temen gue, masih dia doang yang gue tau punya prinsip dan dipegang bener. Jadi rangkaian kata tadi bener ngingetin gue sama dia. Toh, hidup ini pilihan, pilihan itu bukan buat kita sesali tapi untuk kita jalani. Gue belajar itu dan belajar punya prinsip dari dia. Nggak ada yang pernah salah atas itu, gue ngebagi ini juga ya kali-kali ada yang baca terus tergerak untuk berpikir lebih akan prinsipnya kalo nggak juga ini tulisan hampir tengah malam atas inspirasi poster film GIE. You just need to find your point and your principle in your life, stick to it no matter what people say then you'll find the meaning of your life. The clear view of your future ! I do believe that people :)

PS : keep your best friend as close as you can. Because that people won't come twice in life! Mencari kenyataan di dunia fana ini sulit, jadi tetaplah berusaha nyata bagi siapapun terutama bagi dirimu ! Saudara itu bernama ... AHMAD GIBRAN ! :D

Friday, March 9, 2012

Sudah bisakah ini berjalan?

Pikiran ini terlintas ketika gue sedang di salah satu Pertamina Gading Serpong deket UMN,kampus gue. Pertamina itu menggunakan sistem self service yang mungkin masih belum banyak di gunakan di Indonesia. Terkesan agak "wah" dan berbeda dari apa yang selama ini sering kita liat lazimnya.

Karena gue uda beberapa kali kesana, gue sempat ngeliat perubahan yang ada. Dari mulai sistem itu dijalankan, dimana petugas pertaminanya yang dulunya ngiisiin bensinnya masih rame berdiri nungguin proses dan menerima uang, terus berubah lagi, dimana tinggal beberapa petugas yang berdiri untuk melihat proses yang dilakukan pembeli dan beberapa orang menjaga meja yang terlihat seperti kasir dimana kita harus membayar lalu kemudian mendapatkan password untuk melakukan pembelian dan pengisian, hingga sekarang yang paling baru, hanya tinggal 3-4 orang petugas lagi yang benar-benar untuk menjaga proses agar berjalan lancar dan kita pembeli harus membayar dan mendapatkan password di dalam supermarket yang ada di Pertamina tersebut.

Yang ingin gue bahas bukan bagaimana sistem itu berjalan atau apa. Tapi lebih ke bagaimana nasib para pekerja yang tadinya bekerja disana. Tentu dengan menggunakan sistem Pertamina yang lazim dengan sistem self service seperti ini perbedaan jumlah karyawan/petugas yang dipekerjakan tentu berbeda. Gue yang hanya datang kesana sesekali saja dapat melihat perubahan yang mencolok. Terus kemana dong mereka? Gue gak tau pasti mereka kemana, entah itu diberhentikan atau dipindah lokasikan.

Cuma menurut gue sistem ini punya plus minusnya seperti kebanyakan suatu hasil perombakan atau pembaruan lainnya. Gini, plusnya, masyarakat Indonesia yang sudah sangat lama hidup dalam kemanjaan dan tidak biasa bekerja sendiri, apa-apa dilayani,apa-apa dikerjain orang lain, sekarang diajarin untuk mulai ngelakuin hal itu sendiri (entah itu ujung-ujungnya yang ngiisiin juga supirnya,at least ya beberapa dari masyarakat Indonesia yang tidak memakai supir sudah mulai melakukan hal itu sendiri) selain itu mungkin ini saatnya kita sama kaya di negara maju lainnya yang sudah lama menerapkan sistem ini.

Tapi minusnya, gini nih, kita itu negara yang besar, punya banyak banget penduduk yang dengan kenyataan Pertamina belum nerapin sistem self service aja udah banyak yang nganggur dan belum memiliki pekerjaan apalagi sekarang Pertamina menggunakan sistem self service ini, makin banyak lah hal ini terjadi, ya kan?

Kalau sampai semua Pertamina menerapkam sistem ini, berapa banyak lagi orang yang harus kehilangan pekerjaannya, atau mungkin Pertamina sudah punya solusi atas ini, atau kemungkinan terburuknya bahkan tidak ada yang memikirkan itu. Masa iya karena satu sistem ini makin banyak orang-orang yang kehilangan pekerjaan? Dampaknya bakal kemana-mana dong, makin banyak keluarga yang kurang mampu, makin banyak anak-anak dengan pertumbuhan gizi tidak sebagaimana seharusnya, semakin banyak juga pengamen atau peminta-minta terus akan semakin banyak anak-anak yang putus sekolah. Dan tentu masih banyak pertanyaan pertanyaan lainnya yang mengikuti dari efek yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya itu.

Hingga semua pertanyaan itu berujung pada satu pertanyaan besar dan efek utama dari semua itu :
"Mau kapan bangsa ini dapat maju dan bersaing dengan bangsa lain jika itu yang terjadi pada penerus bangsanya?"

Itu sih cuma pemikiran gue yang entah kenapa terlintas saat gue sedang melihat nyata sistem itu berjalan. Gue sih pastinya berharap sudah ada orang di luar sana yang sudah memikirkan semua kemungkinan-kemungkinan buruk itu dan sudah memiliki antisipasi untuk itu.

Sebagai salah satu anak bangsa (hehehehe) gue cuma pengen ngeliat bangsa gue maju. Kita bangsa besar jadi kenapa kita harus tertinggal dan tidak mampu mensejajari langkah dengan yang lain? Lagi lagi ini hanya sebuah pemikiran, tidak menyalahkan atau membenarkan apapun. :)