" Three words I can sum up everything I've learned about life: it goes on. " Robert Frost

Showing posts with label self thought. Show all posts
Showing posts with label self thought. Show all posts

Thursday, July 10, 2014

Return from nowhere

Menulis lagi setelah dua bulan. Cukup lama, malah sangat lama. Gue bukan berhenti mengerjakan kegiatan pemberi semangat ini. Hanya saja, seolah kemampuan ini diremuk redam oleh kesantaian yang melewati batas. Berkali-kali gue berhadapan dengan laptop dan kertas, berkali-kali juga gue menemukan kebuntuan, tanpa jangan kan sebaris kalimat, sepenggal kata pun gagal hadir.

Beberapa hal membuat gue meragukan kemampuan gue menulis. Kebimbangan itu terus hidup dan perlahan semakin menjalar, mengakar kuat, menjadikan gue tertutupi oleh akal yang membusuk. Hal-hal remeh seperti pertanyaan saat wawancara kerja "kamu lebih suka menulis di bidang apa?" ternyata tidak seremeh itu, gue terpaku, karena sejujurnya sampai sekarang gue belum tau tulisan seperti apa yang gue banget, yang mampu membuat gue merasa lebih dan memang mumpuni di bidang itu. Entah teman-teman yang lain merasakan atau tidak, tapi yang jelas pertanyaan itu sempat mengusik. Dan setiap pertanyaan itu muncul gue hanya mampu menjawab "Apa aja mba/mas, belum ketemu yang pas banget," What a shame!

Belum lagi beberapa lomba menulis yang gue ikuti tidak menghasilkan apa-apa. Perasaan tidak mampu bahkan menulis di bidang fiksi yang gue rasa kelebihan, pun memuncak. Padahal ya namanya perlombaan tidak semua bisa jadi pemenang kan. Tapi mungkin karena didorong minimnya kegiatan (saat itu menunggu wisuda, sudah selesai magang dan skripsi serta belum mendapat pekerjaan) maka pikiran negatif dengan mudahnya menyusup.

Hingga berujung pada minimnya usaha dan niat untuk menulis (bayangkan, sejak kapan menulis membutuhkan niat dan usaha sebesar itu, jika selama ini kegiatan itu selalu menyenangkan). Sampai akhirnya malam ini, gue buka lagi blog ini, dan gue sadari 2 bulan bukan waktu yang sebentar untuk lari yang sayangnya tidak membawa gue kemana-mana selain perasaan tidak menentu.

Tapi malam ini entah siapa yang menggerakkan, gue log in blog lagi, gue baca-baca postingan lain di home dan gue menemukan satu komen tertinggal di post cerpen gue terakhir. Erika, muncul lagi (she's just too supportive for me, because she left some comments on my mostly post) setelah sekian lama postingan gue sepi pendapat Erika, mendadak dia muncul lagi. 

Kalau saja kadang perasaan tidak melampaui besarnya daya intrepretatif kata-kata gue mungkin udah menuliskan sepanjang mungkin perasaan meledak ini. Erika menulis komen yang simple, tapi dia membuat gue tau, bahwa tulisan itu tidak butuh pembenaran untuk berada di sana. Tidak butuh niat menggebu dan keinginan unggul dari yang lain. Dia hadir karena memang dia tersusun rapi dari apa yang seharusnya disampaikan. 

Perasaan ketidakmampuan menulis bagus adalah perasaan yang buruk jika kalian seperti gue, yang bangga menulis. Komen Erika yang bilang "Nami banget" seolah menyadarkan gue, bahwa gue tidak harus memenangkan setiap lomba untuk bisa menulis, tidak harus mampu menjawab apa bidang yang paling pas untuk gue tulis, tidak perlu membiarkan kejemuan mengahalangi setiap asa untuk menulis yang menggebu.

Karena mungkin gue tidak bisa menyampaikan sulitnya perasaan tidak menulis ini pada siapapun tapi Erika secara tidak langsung seolah mengerti dan menyentuh titik yang benar :')


PS : I don't know what Erika has do lately, but if it's about take her to London and make her big dreams come true, I wish she got the prize and do "our-different-place" dream soon because she deserve every piece of it!!! And thanks for always remember how we have same dream in different place, Er! :)

Saturday, November 2, 2013

Menanti Perjumpaan

Aku hanya orang biasa yang kerap terseret perasaan apalagi jika perasaan itu terlalu membuncah hingga meledak. Melihat semua yang sudah terlalu hingga sampai di titik ini aku sadar aku merindu saat semua masih dalam detik harap-harap. Ya detik yang masih banyak kemungkinan, mungkin begini mungkin begitu. Kini atau nanti sebenarnya sama saja. Aku akan tetap terus berharap. Jika dulu berharap akan kita seperti apa, saat ini berharap kita akan terus begini. Karena untuk saat ini dan semoga saja suatu waktu di masa depan kita akan terus saling membutuhkan seperti ini, terus merasa saling melengkapi. Karena dengan begitu aku tau selalu akan ada alasan untuk terus menanti perjumpaan lagi dan lagi...

Thursday, September 12, 2013

Don't Mess With Other's Past

" Don't mess with other's past! "

Satu kata yang langsung muncul, nggak direncanakan, tapi keluar dan tersusun rapi di kepala, meluncur manis seolah memohon untuk dituliskan dengan segera. Karena apa dan apa alasannya, tidak perlu menjadi pertanyaan bagi semua orang hanya gue butuh media untuk menjadikannya satu tulisan yang mungkin sebagai bahan tukar pikiran buat yang pernah merasakan hal yang sama atau buat ya dibaca dan nambah-nambah bacaan aja.

Seperti tulisan gue sebelumnya, ini bakal nyambung dikit kali ya. Bahwa semua orang punya kisahnya masing-masing dan jalan dia hari ini belum tentu sama dengan apa yang pernah dilaluinya di hari lalu. Lo bisa apa buat ngubahnya? Nggak ada. Lo bisa minta buat dihapus? Nope. 

Yang udah terlalui akan selalu ada di sana mau gimana juga lo berusaha mengenyahkan keberadaannya. Nggak cuma orang lain, diri lo sendiri juga pasti punya kisah yang gak bisa dihapus sama siapa juga. Mau coba digak-adain juga nggak bakal bisa, sama kaya prinsip komunikasi "Apa yang udah terkomunikasikan nggak bakal bisa ditarik lagi mau gimana juga feedbacknya". Hidup juga gitu, "Lo nggak bakal bisa milih mau punya kisah di masa lalu yang kaya apa, mau gimana juga efeknya sekarang ini"

Karena kata-kata pertama gue ditulisan ini yang selalu gue jadiin pegangan. Karena teori-teori yang gue buat sendiri yang udah gue sebutin diatas maka kata-kata pertama tadi harus tetap ada dan gue inget. 

Karena kalau lo nyoba selangkah lebih dalam ngeliat masa lalu seseorang, lo nggak hanya harus siap dengan kenyataan apa yang pernah dia lalui tapi lo harus lebih dulu yakin sesiap apa lo nerima dan ngeliat itu semua. Sesederhana, jangan pernah nyoba sesuatu yang lo aja belom yakin bisa lo jalanin. Masa lalu seseorang bukan untuk diutak-atik, banyak hal didalamnya yang nggak akan pernah jadi bagian untuk lo nikmatin apalagi lo usik.

Mungkin kata-kata diatas sesederhana "Mind your own business" atau "Living your life to the fullest" :)

Tuesday, September 10, 2013

Sepotong Lirik, Sebuah Lagu, Sepercik Kenangan

Lagu ini sebenernya udah sering banget gue dengerin. Salah satu alasannya karena dua orang temen gue di kampus sangat menggilai lagu ini (sebut saja mereka aya dan yanti hahhaa). Yang ngajarin sih biasa si Aya yang selalu punya stock lagu di luar kebiasaan orang kebanyakan. Terus Yanti akhirnya demen juga. Maka gue pun teracuni akibat seringnya lagu ini diputer di kelas kosong yang proyektornya dipinjem buat mereka duet lagu ini.

Itu tadi sekilas perkenalan awalnya. Nah setelah berkali-kali dengerin, pagi ini ada yang beda rasanya pas lagu ini sengaja gue puter. Nggak tau kenapa, pas musiknya mulai gue mendadak pengen nulis. Nggak tau mau nulis apa dan tentang apa yang pasti lagu ini menggerakkan gue buat nulis 1 post yang sekarang lagi kalian baca.

Mungkin karena musiknya, mungkin karena sepotong lirik yang jadi bagian paling gue suka di lagu ini :

"And in my dreams, I meet the ghosts of all the people who have come and gone
Memories, they seem to show up so quick but they leave you far too soon "

Entah kenapa sepotong lirik itu ngena dan langsung kebayang saat judul lagunya pop up.

Semua yang ada hubungannya sama memori pasti menggelitik daripada yang lain buat gue. Cepet banget pasti membuat gue ingin menuliskan sesuatu atau membuat gue termenung sepersekian menit hanya untuk mencari lagi perasaan akan suatu kenangan. Nggak mudah melupakan, itu gue. Itu juga yang ngebuat gue nggak mudah menjalani sesuatu yang baru. Monoton? Statis? Iya itu gue buat setitik hal sekecil apapun yang berhubungan dengan perasaan.

Karena kenangan itu akan terus hidup gimana pun caranya coba dienyahkan. Lo nggak bakal berdiri jadi lo yang hari ini tanpa pernah membuat kenangan. Kita sanggup terus melangkah hari ini karena ada beban kenangan yang dipikul di hari lalu. Itu yang ngebuat lo pengen ngerubah sesuatu atau pengen meraih sesuatu yang lebih lagi di hari mendatang.

Lagu ini, selalu menggelitik gue akan kenangan. Sesaat untuk mengingat kembali yang pernah lewat, sesaat kemudiannya untuk siap ngejalanin yang sekarang terus ngebuat itu jadi kenangan indah lainnya yang bakal bisa gue inget dengan senyuman di hari esok :)

- Kodaline, High Hopes

Wednesday, July 31, 2013

Putaran Pertanyaan

Kalau mendongak lantas menjadikan mu angkuh, lalu apakah menunduk menjadikan mu bersahaja? Sesederhana itukah perilaku seseorang dinilai oleh lingkungannya? Tidakkah berlebihan menjadikan sesuatu berubah buruk? Tapi tidakkah manusia menjalani hidup begitu adanya tanpa sempat menjadi adil bahkan bagi dirinya sendiri? Lalu siapa yang pantas dipersalahkan untuk itu? Dunia yang terus berputar menggiring hari tanpa sempat bertanya kita sanggup mengejar atau tidak? Atau salah adil yang begitu sulit diciptakan? Atau malah salah kita, raga yang berjiwa namun mati rasa dengan keseimbangan? Jawaban satu hanya akan mengantarkan pada pertanyaan lain yang belum tentu mampu terjawab. Mungkin itu namanya misteri hidup.

Wednesday, July 10, 2013

Diantara Sensitif dan Apatis

Sebenarnya yang perlu itu apa? Kebanyakan peka jadi sensitif atau kebanyakan bodo amat jadi apatis? Katanya yang berlebihan itu nggak baik, tapi coba aja dipikir-pikir lagi. 

Misalnya hari ini ngebiarin si peka berkembang lebih. Jadi ada yang salah dikit berasa. Contohnya, temen potong poni dikit langsung sadar, temen bete langsung tau dari cara ngomongnya, terus ujung-ujungnya pasti dibilang kalo kita peka. Orang sekitaran jadi seneng karena kita perhatian. Tapi yang gini bukannya kalo kita bawa terus-terusan malah jadi over peka yang berujung jadi sensitif nyebelin. Apa-apa bisa nyinggung perasaan, apa-apa kepikiran kebawa perasaan, nanti lama-lama orang-orang pada bilang kita jadi makin sensitif. Susah temenan sama kita karena nanti apa-apa tersinggung. 

Satu sisi jadi si bodo amat. Mau potong rambut kek, mau bete, mau seneng, ya kita nggak peduli. Toh nggak ada urusannya sama kita. Pokoknya prinsipnya, selagi lo nggak ganggu gue, gue nggak bakal ganggu lo. Tapi lama-lama kita jadi apatis, beneran nggak peduli sama sekitar, kita minim perasaan bersalah dan jadi mulai sesukanya karena kebawa prinsip tadi. Gini terus, lama-lama orang pada bilang kita nyebelin, mending nggak usah deket kita daripada sakit hati sama kita yang terlalu cuek.

Lalu????

Yang mestinya tuh gimana, biar orang-orang nggak ngerasa keganggu sama kita? Namanya manusia ya pengennya diterima apalagi kalo dapet bonus diterima apa adanya ya kan? 

Gue selalu berada di sisi yang condong ke peka berlebihan, itu susah banget dihilangkan, bener deh. Gue juga nggak percaya ada yang bisa menyeimbangkan itu. Kalo semua orang ke control, kalo ada orang yang bisa milih dan nyesuaiin hari ini dia mau lebih condong ke mana, kalo semua orang dengan segampang itu nerima kekurangan orang lain, pasti hidup ini akan terlalu indah. Seneng-seneng terus nggak belajar sedih lama-lama pasti si seneng jadi biasa aja. Hidup kita datar lagi, datar lagi.

Jadiii...

Ya anggep aja ups and downs perbedaan itu ada supaya kita bisa lebih ngehargain yang kita punya, nemuin yang cocok buat ngelengkapin satu sisi kita yang lain. Ketemu nggak ketemu tinggal gimana kita bisa ngebawa diri sampai akhirnya ketemu sama yang pas dan yang mengerti itu :) - NDN

Tuesday, May 28, 2013

Suka Maupun Luka

Dari sekian banyak luka yang tercipta goresan kehilangan kamu adalah salah satu yang tidak kunjung sembuh. Perlahan menjadi borok lalu kemudian bekasnya melekat seumur hidupku. Layaknya beban yang dijahit mati disekujur pundak untuk terus kupanggul kemana pun aku melangkah.

Pernah aku mendengar sebuah kelakar bahwa cinta datangnya dari mata maka jangan salahkan jika berakhir dengan air mata. Awalnya ku pikir itu hanya guyonan mereka yang terlalu satir memandang cinta. Karena saat itu cinta kita begitu hebatnya, jutaan kali diterjang badai namun jutaan kali pula kita mampu melewatinya dan memandang air jernih yang tenang penuh kehangatan atas cerita yang kita rajut bersama.

Kini aku sepenuhnya mengiyakan guyonan itu, percaya benar akan kebenarannya. Karena kamu tidak hanya mengajarkan indahnya cinta yang hebat namun kamu selipkan ajaran bahwa cinta mampu mengoyak setiap sel pertahanan yang aku bangun sedemikian rapi. 

Rapuh. Aku kembali tertatih ketika tau kamu hanya tinggal kenangan yang tertinggal di pojok sana namun dengan bayang yang harus terus ku bawa kemana pun.

Hei kamu, aku tidak pernah menyesal atas ini. Aku tidak pernah menolak semua perih ini. Terima kasih telah mengajarkan aku hingga sebegini dalamnya. Hingga nanti suatu hari di masa datang jika aku kembali jatuh cinta maka aku pun tak lagi heran dengan sakit dari luka yang mengekor di belakangnya. Kamu tetap yang terbaik, terbaik dalam suka maupun luka.

Friday, April 26, 2013

Biar Aku Menjadi Kita

Sudah lama aku tidak berhenti. Sekadar untuk melihat sejauh apa langit masih memayungiku. Lalu aku tersadar bahwa tidak pernah sejenak pun langit akan ingkar. Kemudian aku terus berjalan, melupakan sekitar. Sibuk dengan aku dan segala ke-aku-an, melupa bahwa aku hidup dalam sisian dengan mereka yang turut bernyawa.

Mungkin aku sama dengan mereka. Hidup berdampingan karena merasa butuh sesuatu dari kebersamaan itu. Lupa bahwa ada rasa yang turut hidup bersama. Tidak mungkin rasanya pantas mendahulukan kesibukan rasa pribadi dalam kebersamaan yang dikayuh. Ini bukan sekadar rasa saling memenuhi kebutuhan pribadi agar mampu terus berjalan. Namun ini rasa lain bahwa ada kebersamaan yang perlu dijaga. Ada cerita indah yang pantas diperjuangkan dari hanya menyerah pada keegoisan.

Lalu, kenapa kita berhenti pada rasa ingin memenangkan aku tanpa ingat bahwa ada kita disana. Siapa yang egois? Tidak perlu melontarkan pertanyaan itu, begitu ini menggoyahkan kita maka kita lah yang egois. Sedangkal itu kita memperjuangkan ini, sesederhana itu kita mengartikan jejakan langkah yang kita cipta bersama. Tidak pantas rasanya kita bangga akan hari lalu kalau hari ini saja kita tak mampu mempertahankannya.

Bersama bukan hanya sekadar seberapa bahagia kita saat itu, seberapa banyak cerita yang sudah kita tulis tapi sejauh apa kita mampu menjadi KITA tanpa goyah layaknya dedaunan yang tertiup hembusan angin. Sejauh apa seharusnya kita bertahan. Karena percayalah, terlalu banyak yang dikorbankan oleh aku bagi kita.

Biar aku merefleksi perjalanan ini sambil berharap kamu dan kita disana pun melakukan hal yang sama. Tidak lagi demi ke-aku-an tapi demi kita. 

Wednesday, March 13, 2013

Karena Langit Nggak Punya Batas

Coba aja bayangin suatu hari kita bangun kita udah nggak ada di keseharian yang kita jalanin tapi malah ada di keseharian yang kita pengen?

Kebayang nggak maksud gue? Misalnya nih besok bangun pagi gue lagi tinggal di apartemen gue yang artsy kece di Roma, hari itu hari minggu, di meja sebelah tempat tidur gue udah ada tiket nonton AS Roma hari itu, terus gue punya pacar lelaki Italiano Islam (ini biar hidup gue tentram dapat izin dari papa) yang seksi coklat ber-rahang tercetak jelas dengan jambang. Gue kerja sebagai penulis tetap diharian ya sebut aja La Gazzetta Dello Sport. Cukup disitu deh penjabaran mimpinya.

Nah, bisa bayangin nggak gimana perasaan gue hari itu? Seneng keterlaluan pasti, joget-joget gila iya, berbunga-bunga, deg-degan, excited berlebihan, bahkan nulisnya aja gue seneng sendiri hahaha. Oke oke stop. 

Jadi, mungkin dalam seminggu atau bahkan setahun itu gue akan hidup terus dengan perasaan se-indah itu, tapi pasti setelah itu gue akan kembali punya pengen yang lain, punya harapan dan mimpi yang baru, yang mana kalo tiba-tiba besoknya setelah setahun itu gue bangun dengan mimpi yang baru itu gue pasti akan kembali bahagia yang keterlaluan.

Sebenernya tulisan ini sesederhana, bahwa se-seneng apapun lo akan sesuatu yang lo impikan atau lo pengen baru saja mampu lo raih, pasti perasaan itu nggak akan bertahan selamanya, cuma karena hal sederhana lagi, bahwa hidup lo terus berjalan dan hidup itu juga yang akan membawa lo menemukan mimpi-mimpi dan harapan-harapan yang baru. Yang tentu terus berkembang dan menjadi lebih besar. Bahwa sejauh apapun lo menyukai ketetapan dalam keseharian lo dan sebegitu tidak menyukainya lo terhadap perubahan, kita akan tetap jadi manusia yang sadar nggak sadar terus ngejalanin hidup dan menemukan hal-hal baru diluar sana yang lebih menarik. 

Makanya kita disuruh ngegantungin cita-cita setinggi langit kan? Ya karena langit nggak punya batas sama kaya kita nggak punya batas buat kuantitas mimpi kita. So, why need to be stop while we can move forward no matter how far? :D

Instan Juga Berproses

Ada banyak hal yang bisa kita lakukan dalam setiap harinya. Ada masanya kita ngerasa semua yang kita lalui berjalan sesuai dengan keinginan hati tapi nggak jarang banyak hal yang bersebrangan dengan itu. Maunya sih setiap hari suka yang nyamperin, ninggalin si duka di pojokan. Tapi entah ini benar atau nggak, berkali-kali baca di buku ataupun nonton film, selalu aja kata-katanya ya nggak persis sama seperti apa yang gue tulis ini tapi paling nggak ini intinya "Kita nggak akan mungkin mengerti rasa senang kalau nggak pernah sedih, kita nggak bakal ngerti rasanya bahagia kalau nggak pernah ngerasain luka dan sejenisnya".

Lalu gue bertanya, itukah keseimbangan dalam kehidupan yang kita jalani. Atau itu hanya sebagian penguat perasaan seorang manusia agar dia nggak terus-terusan terpuruk atau apa. Terlalu banyak atau dan pertanyaan yang suka menggelayut tiba-tiba, namun yang pasti di satu sisi ada saatnya gue percaya penuh bahwa kalimat itu sepenuhnya benar.

Gue selalu percaya apa yang terjadi dalam hari-hari gue semuanya penuh pembelajaran. Tapi jelas gue nggak merasakan itu langsung saat itu juga. Pasti berasanya setelah beberapa saat atau bahkan berbulan-bulan setelahnya. Manusia butuh waktu untuk belajar dan mengerti. Makanya gue nggak percaya sama sesuatu yang instan.

Se-instan-instan-nya indomie tetep aja ada proses yang dilalui dan kita nggak bisa menyepelekan salah satu step dari proses yang instan itu kan? Misalnya, lebih instan buat popmie lah ya daripada rebus. Jadi contohnya buat popmie, sekali aja kita sepele ngasih air yang gak bener-bener panas, itu popmie jadi menjijikkan dan pasti kalau nggak terpaksa banget nggak bakal kemakan. Lihat kan? Perkara nyeduhnya pakai air apa aja si instan nggak lagi se-instan itu.

Sama aja kaya hidup. Kesimpulan yang gue ambil dari kalimat familiar yang udah gue sebut di awal tadi adalah kita nggak akan pernah tiba-tiba jadi seneng atau bahagia kalau aja kita nggak ngelewatin berbagai proses untuk jadi seneng dan bahagia itu, yang mungkin aja didalam proses itu terselip si duka dan luka itu. Hal ini juga berlaku kebalikannya.

Apalagi hidup ini selalu seimbang, se-sedih-sedih-nya kita saat ini kalau kita mau ngelaluin semua proses yang tersedia dengan cara yang terbaik gue percaya jalan keluar untuk ketemu pintu seneng dan bahagia itu pasti ada. Nggak ada Tuhan yang nyiptain manusia-Nya untuk terus menerus tersiksa. Cuma gimana si manusia yang merasa selalu ingin instan ini siap ngejalanin proses dan milih proses ter-instan yang mampu dia jalani dengan cara terbaiknya yang bisa ngebuat semua keseimbangan hidup itu bisa dia rasain, agree? :D

Thursday, February 21, 2013

Kalau Mereka Bisa, Kita Juga

Kalau menulis menyembuhkan pantas saja toko buku semakin menjamur. Dengan mudah dapat kita temukan di mana saja. Tentu semakin banyaknya toko buku menunjukkan seberapa banyak orang yang tertarik untuk membaca dan membuat buku. Liat aja sekarang ini nih, semakin banyak self-publisher. Yang mana siapa saja dari kita yang ngerasa punya bakat atau punya kegilaan akan menulis dan yakin untuk menerbitkannya, udah nggak lagi perlu sekadar bermimpi akan karyanya yang ingin dia tunjukkan ke publik.

Ketika ada kemudahan seperti itu paling tidak setengah jalan dari mimpi lo sudah terakomodasi dengan baik. Tinggal sejauh apa lo yakin dan konsisten untuk mempersiapkan "bayi pertama" lo "dilahirkan" ke "bumi".

Namanya cita-cita, keinginan, impian, itu semua ada jalannya tinggal kita yang mau ngebawa sejauh apa kita melangkah untuk bisa sampai ke titik paling dekat atau mungkin bersinggungan dengan mimpi kita tadi. Gue selalu percaya suatu hari dengan ketekunan, usaha, doa dan konsistensi, gue bisa ngebuat at least satu novel gue terpampang, ada di deretan rak buku-buku yang siap dijual dan dicari oleh para pengunjung toko buku.

Sampai sekarang kerjaan gue cuma jadi pengunjung dan pembeli setia. Gue pengen punya buku, tapi belum ketemu aliran gue seperti apa, padahal ngerti perbedaan tiap aliran aja gak. Cuma gue selalu percaya, aliran itu gak perlu dicari, tapi kita pasti akan bertemu dengannya di titik yang paling sempurna, kaya ketika permintaan dan penawaran pasar ketemu di titik ekuilibrium. Hahahha.

Satu sih yang agak menggelitik, beberapa waktu terakhir ini, kalau gue mampir ke toko buku, udah hampir setiap toko buku memiliki sederatan rak panjang yang berisi novel-novel remaja dengan tema "KOREA". Entah dari judulnya, nama tokohnya, latar belakang ceritanya sampe keseluruhannya. Bukan apa-apa sih, cuma semakin menyadari sudah sejauh ini ternyata invansi ke-KOREA-an sampai di negeri ini. Later, gue pengen bahas lebih detail soal ini di satu judul sendiri.

Sekarang intinya gue mau bilang, gue berusaha terus menghargai semua tulisan yang terlihat dan terbaca oleh gue. Gue sedang dalam proses belajar dan berusaha mewujudkan keinginan gue untuk melihat "mahakarya" gue nongol di atas rak toko buku. Gue di sini juga turut mendoakan semua yang di luar sana yang sama dengan gue. Gue percaya bahwa jika mereka (penulis-penulis hebat di luar sana) bisa, maka kita juga bisa. :D

Wednesday, January 16, 2013

Salah Siapa Ini?

Sensitivitas?

Hahaha entah  gue yang terlalu naif atau terlalu menyederhanakan perdebatan panjang di sebuah stasiun televisi swasta, tapi buat gue, masalah yang diangkat dalam perdebatan tadi memang bersumber dari satu kata itu. Ibarat dalam suatu pertandingan sepak bola ya kata itu lah man of the match nya. Kalau dalam sebuah karya seni ya dia point of interestnya.

Kenapa? Bukannya isu SARA? (udah mulai ngerti kali ya ini perdebatan tentang apa dan siapa)

Ya memang tentang isu SARA tapi tetep aja, jika mau diliat dengan kepala yang lebih dingin dan hati yang lebih tenang, pasti kita bisa ngeliat bahwa si kata yang gue munculin di awal tadi adalah sebab musababnya. Bukan gue ingin ikut-ikutan menyederhanakan hal ini, sikap gue dalam melihat kasus ini tetap tidak setuju dengan apapun hal yang berbau SARA dijadikan obrolan ringan apalagi dianggap tidak penting. Gue nggak setuju sama apapun itu yang bisa aja ngerusak pluralisme. Gak sok, sumpah, ini tulus. 

Coba, kalau lagi santai, liat deh, mestinya ini masalah nggak perlu jadi sebesar ini. Malah menurut gue setelah masalah ini menjadi sebesar ini, ini juga yang ngebuat SARA jadi kebawa-bawa dan semakin banyak orang yang tersinggung. 

Kesalahan fatal yang gue liat adalah minimnya kesadaran si "orang" ini untuk mengakui bahwa apa yang sempat dia lontarkan (apapun motif dibaliknya) suatu hal yang salah. Membuat gerah beberapa pihak. Cukup mengakui dan tidak perlu membesar-besarkan masalah. Tidak malah balik menyerang pihak lain dan menunjukkan sikap yang kekanak-kanakan. Itu saja cukup mungkin.

Apalagi sebagai orang yang cukup memiliki nama besar dan memudahkan dirinya untuk menjadi sorotan publik, seseorang seperti itu sudah sepantasnya lebih memperhatikan segala ucapan dan tindak tanduknya di ruang publik. Ada etika yang harus dijaga. Apa yang "orang" itu tunjukkan, membuat nilai dirinya semakin rendah dimata publik. Tidak sesuai dengan statusnya sebagai intelektual. Tindakan yang menurut gue sembrono ini semakin fatal karena dibarengi dengan reaksi dia terhadap perkembangan kasus ini. Jika saja dia lebih bisa tenang dan kalem, gue yakin paling gak, gak semakin banyak orang yang ikut-ikutan kesel sama dia. 

Buat gue, ya cukup se-simpel ini, sebagai seseorang yang bisa dibilang dipandang oleh orang banyak, sudah sepantasnya siapapun itu menjaga sikap. Selain itu, kita juga dalam menanggapi suatu kasus jangan sampai terlalu mudah terbawa arus dan melibatkan terlalu banyak subjektivitas. Sekali-kali ngeliat dari sudut pandang lain, nurunin sedikit rasa sensitivitas kita, daaan kalau kata anak jurnal jangan lupa cover both side. Biar Indonesia lebih adem lah, banyak banget udah masalah di negeri ini, jangan sampai kita makin susah aja gara-gara hal yang mestinya bisa kita minimalisir kaya gini kan? Dari semua pihak harus barengan dewasanya nih.

Yah, lagi lagi ini cuma pandangan sederhana. Gue bukan pengamat politik, bukan pula yang paham hukum, hanya sekadar memberi tanggapan. 

Sunday, November 4, 2012

Daya Magis Sebuah Lagu

Beberapa lagu entah kenapa seperti ditakdirkan untuk nyantel dan ngena di hati melalui liriknya. Beberapa lainnya seolah punya daya magis sehingga siapa aja yang ngedenger seketika terbius lalu hanyut dalam lantunan nada, suara vokalisnya atau bahkan liriknya yang dalam. Ini tentang sebuah lagu yang sudah terlalu lama berdiam di playlist gue, tapi entah kenapa selama ini tidak pernah terdengar sebegitu mengena ini, sampai pada titik malam ini, dengan setumpuk kertas yang ngejelimet isinya, ketenangan malam, sayup-sayup suara pembawa acara berita di tivi dengan volume kecil, lagu ini pop up di playlist. Saat itu juga, otak yang ngejelimet, punggung yang letih memangku badan tanpa penyanggah ini rileks dan merasakan ketenangan dalam kenyamanan. Ini yang gue kategorikan "daya magis" sebuah lagu.

If I could bottled the smell of the wet land after the rain
I'd make it a perfume and send it to your house
If one in a million stars suddenly will hit satelite
I'll pick some pieces, they'll be on your way

In a far land across
You're standing at the sea
Then the wind blows the scent
And that little star will there to guide me

If only I could find my way to the ocean
I'm already there with you
If somewhere down the line
We will never get to meet
I'll always wait for you after the rain

- Adhitia Sofyan, After The Rain

Here it is :


Thursday, October 4, 2012

Kemana Aku? Kemana Kamu?

Saya tidak tau yang sedang berputar kencang melawan arah angin ini siapa?
Saya atau kamu?
Dulu rasanya yang kita tau hanya bergenggaman
Entah bergenggaman melawan angin atau malah hanyut dalam buaian angin

Tapi kini semua terasa janggal
Kita bukan hanya melepas genggaman itu
Kita melangkah menjauh, berlawanan arah
Jika dulu kita kuat karena bersama, hangat dalam genggaman
Kini kita sok kuat dengan berpisah, panas dalam jarak

Kata siapa kita manusia super?
Saya lebih rela menjadi manusia lembek tapi memiliki kamu di sisi
Daripada menjadi super namun kemudian melangkah terlalu sok mandiri
Hingga kita berdua lupa rasanya menjadi saling membutuhkan

Apa ini kawan?
Entahlah hanya guratan kegundahan hati
Kehilangan kamu namun muak dengan keangkuhan kamu
Mungkin bagi mu aku yang angkuh, lalu bagiku kamu yang angkuh

Tapi mungkin kamu lupa
Aku dan kamu mungkin terjebak dalam keangkuhan
Karena label super yang mereka berikan
Bukan karena hati kita yang berteriak memisahkan

Tuesday, September 25, 2012

Biar Saja..

Jalan kita tidak pernah terlihat mudah dan tidak pernah terlihat mulus. Meski tidak ku sangkal bahwa kita belum pernah mencoba melangkah beriringan secara nyata. Mungkin bagi mu apa yang terpampang jelas sudah lah nyata yang ada. Tapi kau lupa, ada sesuatu yang kasat mata, tidak terjamah, tidak tercecap, tidak juga tergambar jelas, ada saat kau hanya perlu menutup rapat mata ini, mendengar bisik yang tak terdengar lantang tapi berbunyi, melihat wujud yang tak menonjol tapi ada, merasa detak yang tak tersentuh tapi terasa. Mungkin disana kau akan paham, bahwa hati ini hidup atas kebersamaan yang terus kita kayuh. Lalu kau bertanya mungkin mengapa aku tak mempertontonkan semuanya dengan jelas, agar kau tak perlu menebak. Mungkin kau lupa tidak bersama saja sudah sulit bagi kita, apalagi berteriak lantang meminta lebih untuk eksistensi dan legalisasi kebersamaan kita yang egois ini. Atau jangan juga lupa satu hal ini, mungkin aku terlalu takut pada kenyataan yang bisa saja mencampakkan hati ini, mengoyaknya lalu melemparkannya jauh hingga ia tak lagi sempat menjadi keping namun serpih. Aku belum siap, jadi biarkan aku menikmati kesemuan iringan langkah kita. Hingga nanti semua menjadi guratan jelas yang kasar membawaku pada indahnya kayuhan kebersamaan kita. Atau biarkan ini menjadi rasa yang sempat membuncah dan berhenti beriak seiring bosannya ia pada rutinitas tanpa ujung. Biar lah..

Wednesday, September 19, 2012

Lalu Kembali Pada Satu Pertanyaan

Lalu gue sampe pada satu pertanyaan, apa sebenernya yang dicari seseorang dari mengingat kembali kenangan ? 

Kenangan jelas sesuatu yang udah lewat, udah kejadian, nggak mungkin bisa diulang segimana juga kita minta dan berdoa, berusaha sekuat tenaga bahkan sampe mikirin itu terus setiap detiknya. Namanya waktu nggak ada yang bisa diulang, setiap detik terus berputar, kalau tadi udah belok ke kanan, ya bisa sih belok ke kanan lagi tapi nggak bakal dapet cerita yang sama, isi yang sama kalau aja belok ke kanannya 2detik yang lalu, iya nggak?

Mau terus-terusan mikirin apa yang udah lewat? Ya nggak ada yang ngelarang, nggak ada juga yang salah. Cuma nggak sayang apa, kalau terus-terusan mikirin apa yang udah lewat, apa nggak makin banyak kejadian yang kelewatan gitu aja?

Misalnya nih, tadi pengen belok ke kanan, tapi ternyata ini udah jalan searah, sementara kita cuma punya waktu dikit buat segera nyampe di satu tujuan, nah sepanjang jalan (jalan pas kita belok ke kiri tadi bukan ke kanan) kita cuma mikirin betapa nyeselnya kita nggak bisa belok kanan lagi, kita ngebayangin kalau kita uda ngelewatin toko roti langganan, lampu lalu lintas yang lebih dikit dan jalanan yang lebih sepi. Sampe nih, kita lupa kalau di belokan kiri yang kita ambil itu ada toko roti baru dengan dekorasi menarik yang sebenernya udah pengen kita datengin, lupa kalau dengan lebih banyak lampu lalu lintas yang ada kita bisa ngecek hp sebentar kali aja ada sms/bbm yg penting, dengan jalanan yang lebih rame, kita jadi lebih hati-hati dan nggak asal tancap gas. iya nggak?

Ada banyak kejadian yang kita lewatin saat kita cuma kepikiran sama apa yang udah nggak bisa kita ubah lagi. Ya mungkin kejadian yang sekarang lagi kejadian, nggak bisa ngegantiin perasaan kita waktu dulu, tapi perasaan kan nggak bisa diukur dengan angka 100 kaya nilai di kampus, jadi seneng banget, bahagia bangetnya kita bisa aja berubah tergantung sejauh mana kita mau ngebuka hati dan nerima apa yang ada. Bukan dengan terus-terusan ngebandingin sama apa yang dulu pernah ada. 

Bukannya dikejer kenangan itu nggak enak? Tapi jelas bukan perkara mudah. Nulis ini jelas lebih gampang dari ngejalaninnya. Tenang, gue mungkin terlihat sok bijak disini, tapi percaya deh, gue nggak bakal bisa nulis ini kalau dulu gue yang nggak pernah dikejer-kejer kenangan. Tapi namanya manusia, kita punya akal, kita bisa dan bakal selalu bisa belajar dari apa yang pernah kita lalui. Bisa dong sekali-sekali, akal dan pikiran ngendaliin hati? :D

Siap Berbagi, Siap Resikonya

Ini bukan soal apa dan siapa yang harus paling tau, paling uptodate atau paling ngeh sama semua yang terjadi di sekitarnya dia. Ini semua kedorong dari semakin luasnya jaringan dan koneksi yang kadang bisa ngebuat kita atau seseorang masuk jauh ke dalam ranah pribadi seseorang. Bukan, bukan sepenuhnya karena kita selalu pengen tau tapi ini juga karena kita diberi keleluasaan untuk itu. 

Liat aja, berapa banyak yang setiap harinya kita bagi di twitter, fb, path, instagram atau apapun itu. Berapa banyak hal yang sudah kita sharing ke orang lain tiap harinya. Nggak salah, nggak juga bener. Toh semua punya kadar dan batasnya masing-masing. Yang nentuin batas siapa? Ya jelas kita sendiri. Mau sebanyak apa dan sejauh apa kita ngebagi hal-hal pribadi kita untuk dikonsumsi oleh massal sama khalayak luas.

Emang salah punya banyak akun di berbagai social media? Ya nggak lah, semua orang butuh tempat aktualisasi diri, salah satunya mungkin dengan berjejaring atau menumpahkan sedikit rasanya di akun pribadi miliknya. Cuma lagi-lagi kembali sama diri sendiri. Ngomel karena ngerasa direcokin orang lain? Solusinya cuma se-simple jangan buat sesuatu yang memancing rasa penasaran orang lain di sosial media. Kenapa? Karena kita semua manusia biasa yang jelas gampang penasaran sama sesuatu yang seolah emang mau dikasi ke kita tapi setengah-setengah.

Kan cuma cerita? Kalau cerita kenapa nggak sama orang nyata yang jelas bentuk fisiknya bisa kita liat. Bukannya dengan di bagi di sosial media itu bukti bahwa kita pengen ngebagi itu ke orang lain, jadi ya jangan protes kalau direcokin. Kita lah yang tau batas kita mau sampe apa. Nggak semua juga perlu dikasi tau ke orang banyak. Kecuali, kita siap dengan segala konsekuensinya termasuk dengan banyaknya omongan soal masalah kita. Siap berbagi berarti siap ditanya lalu siap ngasi penjelasan dong?

Tuesday, August 28, 2012

"Kepleset" ke Sahabat

This !


Entah kenapa pas ngeliat ini tiba-tiba keinginan buat nulis muncul. Padahal udah cukup lama juga gak nulis lagi. Anyway, apa yang mau gue tulis di sini adalah apa yang nongol di pikiran gue dan juga mungkin banyak orang ketika dia baca tulisan yang sama.

Klise! Pasti itu sering terpikirkan waktu ngomongin soal sepasang sahabat ya di sini sih gue ngomonginnya cewe-cowo ya. Gimana bisa itu berdua murni cuma sahabatan, pasti ada pikiran kalau salah satunya punya perasaan sama yang lain. Ya nggak bisa dihindari juga sih, ya kan, namanya lo ngabisin banyak waktu barengan, mungkin memiliki banyak kesamaan dan ketertarikan, otomatis juga obrolan nyambung, makin deket, sering curhat, makin lah intense. Lalu yang tadinya niatnya perhatian-perhatian kecil berubah menjadi kekhawatiran kalau dia kenapa-kenapa. Wajar gak sih? Namanya manusia, selalu butuh perhatian. Kita sebagai manusia emang diciptakan buat nyari perhatian, gimana nggak, siapa yang mau ke mall dengan muka jelek bangun tidur, baju nggak matching? Siapa yang nggak pengen ke kampus atau ke sekolah dengan gaya yang keren terus berharap diliat sama orang lain? Jadi emang ya pada dasarnya manusia itu pengen dapet perhatian dari yang lain sebagai bukti eksistensinya. (Beberapa hari yang lalu gue baca soal ini dan setuju tapi sayangnya gue lupa baca dimana). 

Balik lagi ke topik, ya pasti akhirnya perhatian-perhatian itu yang ngebuat kita ngerasa seneng, keseringan seneng ditambah dengan perasaan nyaman dan seringnya bareng (lama-lama ya seringnya mikir soal dia, lah hampir tiap saat ngobrol atau apa-apa cerita ya kan) itu yang ngebuat ada lah perasaan itu. Nggak salah, siapa yang bisa nolak datangnya perasaan lebih itu sih. Hidup kan aneh, diminta nggak nongol, pas nggak diminta nongol sendiri. Daripada susah dan ribet mending ya udah nikmatin aja.

Hayoo, siapa yang nggak pernah kepleset "seneng" sama sahabatnya? Kalau gue sendiri sih pernah lah, tapi nggak pernah pengen sampe jadian sih. Lebih enakan seneng-seneng doang, gue lebih seneng deg-degannya kalau tiba-tiba di peratiin atau gregetannya kalau dicuekin. Bukan gak mau punya pacar, tapi nggak sama sahabat lah. Atau belum mungkin ya. Hahaha. Kamu kamu gimana? :D

Sunday, August 5, 2012

Rutinitas Berubah Jadi Kewajiban. Lalu Mana Haknya?


Bingung sih sebenernya sama Jakarta, bukan karena apa-apa, tapi karena bingung apa yang harus disalahin. Gini nih, dalam ya kurang lebih dua minggu ini gue berkeliaran di jalanan Jakarta sekitar jam pergi dan pulang kantor. Ok, jam perginya nggak bisa terlalu diperhitungkan karena perginya gue agak siang, sekitar jam setengah 9 in that point sebagian besar pekerja udah pergi dong.
Nah sementara jam pulangnya nih yang menggila, kenapa? Karena ini bulan puasa dan gue selalu pulang sekitar jam 4 sampai setengah 5 dan itu gila banget padetnya. Gimana nggak, gue selalu naik metromini ke arah tanah abang itu seringnya penuh, no space, kebanyakan orang berdiri sampai pintu. Kemudian dilanjutkan dengan berkejaran sama KRL. Itu juga, nggak ada kesempatan deh buat dapet space lebih gede dari nonton konser sold out. Bahu sama bahu udah jadi penopang badan, nggak perlu deh pegangan karena toh nggak bakal jatuh juga. Padet geng!
Liat sisi lain Jakarta nih ya, kemarin kebetulan gue harus nyusulin nyokap di Taman Anggrek, jadi dari kantor gue memutuskan untuk naik metromini 502 yang biasanya terus turun di halte transjakarta Bank Indonesia, naah itu, halte udah penuh orang sampe loketnya harus ditutup sementara, uda banyak yang ke angkut baru buka lagi, jadi loketnya pake sistem buka tutup.
Belom, belom kelar sampe situ. Udah nih ngantri, kirain satu line doang tuh, eh ternyata pintu yang seuprit itu dibagi buat dua jalur, yang satu arah senayan-blok m satunya lagi ragunan. Matilah, setengah jam gue luntang lantung pantes gak maju-maju. Akhirnya karena gue mau turun di halte benhil, gue bisa ikut yang mana aja. Ikut nih gue yg ke arah Senayan setelah ngantri sekitar 45menit, jangan ngebayangin antrian biasa, ini antrian minim oksigen dan “intim” dengan orang kiri kanan.
Setelah berhasil naik transjakarta nih, ditengah jalan yang pas di depan stasiun sudirman kena macet juga nih bus, eh AC nya mati dong. Gue rasanya mau nyerah aja, kalau bisa lambaikan tangan ke kamera terus dijemput naik helicopter pasti itu akan langsung gue lakukan. Untung abang yang jaga pintu sigap, langsung nelfon pos di Blok M laporan dan memutuskan untuk nggak nambah penumpang lagi. (YA iya lah, kalau nggak gue bisa pingsan karena kurang udara dan badan lengket akut).
Turun nih di Benhil akhirnya. Tau dong betapa panjangnya halte ini dari depan Atma Jaya sampe depan Polda Metro sana. Ada promo yang jual sepaket sari roti + teh botol dengan harga 5ribu ya langsung gue beli buat buka. Duuuh yang selama ini, itu halte favorit gue karena gue bisa ngeliat pemandangan cakep dan udara sejuk, kali ini jadi penyiksaan tak berujung. Gimana nggak? Panjangnya, gue aus banget, buka masih sejam, sebadan rasanya rontok, punggung mulai nyeri karena laptop makin berat (kalau gue tulis keluhannya bisa nggak berujung).
Sampe nih di halte arah slipi. Subhanallah, penuh bener. Halte itu udah penuh orang, padet. Masuklah gue diantrian itu dan tahukah kalian? 30menit tanpa satupun transjakarta yang lewat.Antrian makin gawat, orang nambah terus, lebih padet dari konser, eh bus gak nongol juga. Daripada pingsan beneran, gue pun memutuskan buat mencari bus jenis apapun yang kea rah grogol. Padahal sumpah gue belom pernah, tapi gue yakin lah sama tingkat kehafalan gue akan jalan dan lagian hey itu lurusan doang kan.
Nunggu 5menitan ada bus arah grogol, nggak berAC tapi bodo amat. Gue naik aja, ongkosnya 2ribu kaya metromini, no nya 564 atau 546 atau 654 atau 645 atau malah bukan itu gue uda nggak ngeliat lagi yang penting naik dan Alhamdulillah ada tempat duduk. Disanalah gue berbuka sama sepaket sari roti dan teh botol yang gue beli tadi. Akhirnya jam 6.15 gue nyampe di TA dan ketemu nyokap sama yang lain.
Sampe di TA semua pada makan di Jala-Jala dan Lee Hong Kien,Chong Fen Ebi bersama teh manis dingin langsung ada buat gue. Itu indah, serius. Udah sih sebenernya nggak mau cerita itu, cuma ya itu tadi, gue masih sangat beruntung, dari sepanjang itu penderitaan akhirnya gue makan enak di tempat berAC YANG MANA belum tentu semua orang ngerasain apa yang gue rasain ya kan? Udah pantes gue bersyukur.
Yang buat gue bingung adalah kebayang kan gimana, jalanan macet total (kalau naik mobil pribadi atau bus jalur biasa), transjakarta penuh orang dan antrian panjang bermenit-menit (kalau naik bus) dan KRL padet orang (kalau naik kereta). Seolah nggak ada pilihan yang enak buat orang Jakarta. Kayanya itu uda bagian dari rutinitas dan “tugas tambahan” buat dia selain capeknya ngantor dan bangun pagi belum lagi suasana kantor,keadaan rumah,suasana hati dan segala macemnya.
Jadi kalau semua uda padet dan nggak ngasi space buat kita,warganya, apa yang salah dan yang harus dibenerin? Penduduk yang kepadetan? Transportasi yang kurang? Kebanyakan kendaraan? Atau semuanya? Gue yakin ini bukan pertanyaan yang mengelayut di benak gue doang, tapi hampir di semua orang yang merasakan apa yang gue rasakan bahkan mungkin udah sejak lama.
Ya, dari yang awalnya gue ngeluh banget, pengen nangis, nggak sanggup, sampe akhirnya gue ngerasa ya uda, buat apa ngeluh toh nggak ngubah apa-apa, uda jadi rutinitas gue secara nggak langsung. Aneh kan? Baru 2 minggu aja, gue uda kaya robot yang di setting buat menjalankan semuanya secara teratur tanpa hak buat ngeluh. Miris ya kita?

Thursday, August 2, 2012

It's Overexposed me..

Sedang berselancar ria di dunia maya dan menemukan ini.. Membuat ingin skip Agustus dan September lalu berlabuh di Oktober. Iya, karena Oktober ini Maroon 5 bakal jadi kado ulang tahun paling menyenangkan ! Yihiiiiiii!!!!!

See this.. I can't resist them anymore, I'm addicted !!!

See you A.S.A.P on October hey Maroon 5 !!!!