" Three words I can sum up everything I've learned about life: it goes on. " Robert Frost

Tuesday, July 30, 2013

Tersesat

Ini perasaan aneh yang aneh aja soalnya belum pernah kaya gini berasanya.

Keadaan yang mana gue menulis setiap harinya, ratusan kata, beberapa judul dan terlihat lancar aman terkendali. 

Tapi di satu sisi, gue nggak bisa menulis lagi apa yang ada dikepala dan hati. Maksudnya jelas bukan sekadar di kepala, karena kalau sekadar dikepala ya semua artikel "wajib" itu pasti dipikirin bener dulu baru ditulis. Yang gue maksud itu ya tulisan yang memang gue tulis karena gue pengen, karena pop up dari pikiran.

Udah lama aja rasanya nggak nulis gitu. Bukan apa-apa, ngerasanya kosa kata jadi monoton, tulisan "lebay" itu lagi hilang dan gue kebingungan harus nyarinya dimana. Apa yang bisa jadi trigger nya, apa yang bisa ngebuat ini bener lagi masih gue cari sampai sekarang. 

Butuh bantuan mungkin keluar dari rutinitas. Tapi kalau someday rutinitas seperti ini memang yang bakal gue jalanin, jadi tulisan kreatif imajinasi gue apa harus beneran berhenti?

Sekarang gue sedang ditengah pergelutan mencari jawaban untuk itu.

Wednesday, July 10, 2013

Diantara Sensitif dan Apatis

Sebenarnya yang perlu itu apa? Kebanyakan peka jadi sensitif atau kebanyakan bodo amat jadi apatis? Katanya yang berlebihan itu nggak baik, tapi coba aja dipikir-pikir lagi. 

Misalnya hari ini ngebiarin si peka berkembang lebih. Jadi ada yang salah dikit berasa. Contohnya, temen potong poni dikit langsung sadar, temen bete langsung tau dari cara ngomongnya, terus ujung-ujungnya pasti dibilang kalo kita peka. Orang sekitaran jadi seneng karena kita perhatian. Tapi yang gini bukannya kalo kita bawa terus-terusan malah jadi over peka yang berujung jadi sensitif nyebelin. Apa-apa bisa nyinggung perasaan, apa-apa kepikiran kebawa perasaan, nanti lama-lama orang-orang pada bilang kita jadi makin sensitif. Susah temenan sama kita karena nanti apa-apa tersinggung. 

Satu sisi jadi si bodo amat. Mau potong rambut kek, mau bete, mau seneng, ya kita nggak peduli. Toh nggak ada urusannya sama kita. Pokoknya prinsipnya, selagi lo nggak ganggu gue, gue nggak bakal ganggu lo. Tapi lama-lama kita jadi apatis, beneran nggak peduli sama sekitar, kita minim perasaan bersalah dan jadi mulai sesukanya karena kebawa prinsip tadi. Gini terus, lama-lama orang pada bilang kita nyebelin, mending nggak usah deket kita daripada sakit hati sama kita yang terlalu cuek.

Lalu????

Yang mestinya tuh gimana, biar orang-orang nggak ngerasa keganggu sama kita? Namanya manusia ya pengennya diterima apalagi kalo dapet bonus diterima apa adanya ya kan? 

Gue selalu berada di sisi yang condong ke peka berlebihan, itu susah banget dihilangkan, bener deh. Gue juga nggak percaya ada yang bisa menyeimbangkan itu. Kalo semua orang ke control, kalo ada orang yang bisa milih dan nyesuaiin hari ini dia mau lebih condong ke mana, kalo semua orang dengan segampang itu nerima kekurangan orang lain, pasti hidup ini akan terlalu indah. Seneng-seneng terus nggak belajar sedih lama-lama pasti si seneng jadi biasa aja. Hidup kita datar lagi, datar lagi.

Jadiii...

Ya anggep aja ups and downs perbedaan itu ada supaya kita bisa lebih ngehargain yang kita punya, nemuin yang cocok buat ngelengkapin satu sisi kita yang lain. Ketemu nggak ketemu tinggal gimana kita bisa ngebawa diri sampai akhirnya ketemu sama yang pas dan yang mengerti itu :) - NDN

Sunday, June 2, 2013

Selamat 3 yang ke-20 TIGOR

3 Juni 1993.

Jelas gue nggak inget persis gimana perasaan gue hari itu atau gimana bentuk pasti bayi yang baru nongol. Satu yang gue tau pasti hari itu ngebuat semuanya jadi beda buat gue setelahnya karena gue jadi kakak. Punya adik laki-laki yang semakin dia gede semakin gede itu juga badannya. 



Gue nggak bisa nulisin satu-satu mungkin apa aja yang udah gue lewatin selama ini sama dia. Yang gue tau karena ada dia yang bedanya cuma 2 tahun, gue punya temen main dari kecil. Mulai dari main badminton sampe kepala bocor, gojrok-gojrokkan di got hampir tiap hari didepan rumah, utang-utangan di kantin sekolah padahal cuma jajan fruit tea, nonton kuch kuch hota hai di bioskop di antara gendongan tante-tante, main tajos, keliling komplek, nyobain sepatu roda kegedean punya murid les nyokap, dorong-dorongan di pagar sampe nyusruk, nyobain gaya ala pemain WWF smackdown sampe diomelin bokap, di libas pake tali pinggang karena berantem dan bergelut tiap hari. I've a  lot to share with you and it still counting..



3 Juni 2013..

Bocah tengil yang dulunya putih dan gendut setengah mati itu udah jadi cowok berjenggot dan berkumis yang berumur 20 tahun. Udah nggak ada hari-hari sesederhana tawa-tawa dan main-main itu lagi. Ketemu aja udah seminggu sekali ya. Tapi tetep gue tau se-hancur apapun mood gue, dia selalu nerima, mau gue omelin kaya apa juga mestinya dia tau se-sayang apa gue sama dia. 

Gue mungkin nggak bisa jadi cenayang yang bisa tau semua perasaan dia, tapi selagi gue bisa dan ada sampe kapan juga gue bakal jadi orang pertama yang berdiri buat ngellindungin dia dari apa juga. Gue mungkin bukan kakak paling keren se jagat raya tapi paling nggak gue berusaha buat selalu ada.



Semua orang pasti bersyukur sama setiap anggota keluarganya, sama gue juga. Gue nggak tau siapa lagi yang lebih ikhlas denger omelan gue tapi tetep ngelakuin yang gue minta, siapa lagi yang mau nganterin gue ke Kemang rutin 2x seminggu di hari Senin dan Jumat yang macetnya bisa buat sakit jiwa, yang bisa tiba-tiba keluar tengah malam cuma buat jajan McD, yang pulang sholat jumat tiba-tiba bawain Jco, yang suka buat lirik-lirik lagu aneh yg hebatnya bisa mengontaminasi isi otak 1 rumah, banyak, kebanyakan di tulisin.

Intinya, 20 tahun ini gue gak pernah nyesel di kasi Allah adek kaya Kandiyas Tigor Audi Nainggolan. Segimanapun keadaannya, gue cuma punya rasa bangga dan seneng yang berlebih punya adek kaya dia. 

Doa di pagi 3 Juni ini..


Semoga selalu diberikan jalan terbaik sama Allah. Selalu dimudahkan segala sesuatunya. Dimana pun dan apapun yang dijalanin bakal sukses dan lancar. Sayang terus sama kita ber-6. Inget aja buat selalu ngelakuin yang terbaik buat papa mama, cuma nyenengin mereka yang bisa kita kasi buat balesan semua yang uda mereka kasi buat kita. 20 itu nggak cuma angka, semakin dewasa semakin banyak tanggung jawab yang harus dijaga. Jangan gegabah milih langkah karena apapun itu nggak ada waktu yang bisa diulang. Segimanapun keadaannya, selalu ada kami khususnya aku yang bakal siap 24/7 untuk apapun itu. Semoga apapun itu yang belom terwujud dari ratusan keinginan mu akan tercapai pada waktu terbaiknya. Aku selalu mendoakan yang terbaik.

I LOVE YOU MORE THAN WORDS CAN DESCRIBE MORE THAN HEART CAN BEAT.



Happy b'day my dearest Igon! Selamat menjadi 20 dan setahun lebih dekat dengan legalitas hahha. MUCH LOVE !

Wednesday, May 29, 2013

Ini Tentang Aku dan Kamu Bukan Dia

Jangan coba menebak sedalam apa kisah yang sedang aku rajut. Jangan pula merasa paling tahu jika melihat semburat luka yang masih sering membayang di pelupuk mata ku.

Kamu, dia atau kalian tetap saja tidak pernah menjadi aku meski berdiri tepat di depan ku. Tidak juga lantas kalian mampu mengoyak setiap apa yang ku simpan kala kalian membaca setiap kata yang ku susun rapi.

Aku berteriak atas rasa yang kini menguasaiku pun kalian akan tetap berdiri di sebrang sana dan berteriak aku tak akan pernah mampu melepas bayang masa lalu ku. Kemudian untuk apa aku membiarkan kalian puas dengan segala penjelasan atas rasa yang kini menghangatkan setiap kosong di sudut ku?

Bayang itu masih ada, iya kalian menang. Namun, jika kalian lupa mari ku ingatkan. Kita berdiri hari ini karena punya bayang di hari lalu. Hingga kini aku bertemu dengan sudut lain pelengkap ruang yang telah lama diisi luka. 

Tidak, aku tidak melarang kalian mencipta kisah yang kalian anggap benar akan aku. Karena aku tidak tertarik untuk membagi kehangatan yang tercipta olehnya dengan kalian. Ini tentang aku dan kamu bukan dia, tentang rasa yang mungkin salah namun terasa benar saat ini. Tidak ingin dimenangkan namun tidak cukup kuat untuk mengalahkannya. Paling tidak saat ini aku tidak ingin bertanya, memilih menikmatinya, mungkin nanti menguburnya jika sudah saatnya. Atau malah terus membiarkannya hidup jika bersambut? 

Tuesday, May 28, 2013

Suka Maupun Luka

Dari sekian banyak luka yang tercipta goresan kehilangan kamu adalah salah satu yang tidak kunjung sembuh. Perlahan menjadi borok lalu kemudian bekasnya melekat seumur hidupku. Layaknya beban yang dijahit mati disekujur pundak untuk terus kupanggul kemana pun aku melangkah.

Pernah aku mendengar sebuah kelakar bahwa cinta datangnya dari mata maka jangan salahkan jika berakhir dengan air mata. Awalnya ku pikir itu hanya guyonan mereka yang terlalu satir memandang cinta. Karena saat itu cinta kita begitu hebatnya, jutaan kali diterjang badai namun jutaan kali pula kita mampu melewatinya dan memandang air jernih yang tenang penuh kehangatan atas cerita yang kita rajut bersama.

Kini aku sepenuhnya mengiyakan guyonan itu, percaya benar akan kebenarannya. Karena kamu tidak hanya mengajarkan indahnya cinta yang hebat namun kamu selipkan ajaran bahwa cinta mampu mengoyak setiap sel pertahanan yang aku bangun sedemikian rapi. 

Rapuh. Aku kembali tertatih ketika tau kamu hanya tinggal kenangan yang tertinggal di pojok sana namun dengan bayang yang harus terus ku bawa kemana pun.

Hei kamu, aku tidak pernah menyesal atas ini. Aku tidak pernah menolak semua perih ini. Terima kasih telah mengajarkan aku hingga sebegini dalamnya. Hingga nanti suatu hari di masa datang jika aku kembali jatuh cinta maka aku pun tak lagi heran dengan sakit dari luka yang mengekor di belakangnya. Kamu tetap yang terbaik, terbaik dalam suka maupun luka.

Friday, April 26, 2013

Biar Aku Menjadi Kita

Sudah lama aku tidak berhenti. Sekadar untuk melihat sejauh apa langit masih memayungiku. Lalu aku tersadar bahwa tidak pernah sejenak pun langit akan ingkar. Kemudian aku terus berjalan, melupakan sekitar. Sibuk dengan aku dan segala ke-aku-an, melupa bahwa aku hidup dalam sisian dengan mereka yang turut bernyawa.

Mungkin aku sama dengan mereka. Hidup berdampingan karena merasa butuh sesuatu dari kebersamaan itu. Lupa bahwa ada rasa yang turut hidup bersama. Tidak mungkin rasanya pantas mendahulukan kesibukan rasa pribadi dalam kebersamaan yang dikayuh. Ini bukan sekadar rasa saling memenuhi kebutuhan pribadi agar mampu terus berjalan. Namun ini rasa lain bahwa ada kebersamaan yang perlu dijaga. Ada cerita indah yang pantas diperjuangkan dari hanya menyerah pada keegoisan.

Lalu, kenapa kita berhenti pada rasa ingin memenangkan aku tanpa ingat bahwa ada kita disana. Siapa yang egois? Tidak perlu melontarkan pertanyaan itu, begitu ini menggoyahkan kita maka kita lah yang egois. Sedangkal itu kita memperjuangkan ini, sesederhana itu kita mengartikan jejakan langkah yang kita cipta bersama. Tidak pantas rasanya kita bangga akan hari lalu kalau hari ini saja kita tak mampu mempertahankannya.

Bersama bukan hanya sekadar seberapa bahagia kita saat itu, seberapa banyak cerita yang sudah kita tulis tapi sejauh apa kita mampu menjadi KITA tanpa goyah layaknya dedaunan yang tertiup hembusan angin. Sejauh apa seharusnya kita bertahan. Karena percayalah, terlalu banyak yang dikorbankan oleh aku bagi kita.

Biar aku merefleksi perjalanan ini sambil berharap kamu dan kita disana pun melakukan hal yang sama. Tidak lagi demi ke-aku-an tapi demi kita. 

Friday, April 5, 2013

...

Aku tak biasa berteriak lantang
Ingkar bukan jalanku
Hanya nestapa mengekor kata yang tertuang
Maka bungkam pilihanku

Kala waktu mengizinkan kita bersama
Aku bertanya pada hari seperti apa seharusnya kita melangkah
Ketika aku membiarkan kamu menyusupi setiap ruang dalam jiwa
Aku bertanya pada kamu sejauh apa kita akan mengayuh