" Three words I can sum up everything I've learned about life: it goes on. " Robert Frost

Showing posts with label Own thought. Show all posts
Showing posts with label Own thought. Show all posts

Sunday, December 15, 2013

Sedikit Tergelitik Pada Keadaan Ber - "sistem"

Seharusnya gue nggak lagi ngetik tulisan ini dan fokus sama hal yang jauh lebih penting. Tapi siapa pun juga tau menulis sesuatu yang menarik dirinya akan lebih mudah daripada terjerat pada tulisan yang merupakan kewajiban.

Gue melihat banyak kejanggalan, banyak ketidakberesan di berbagai sudut (yang mungkin saja itu juga yang orang lain liat dari gue) tapi ya anggaplah ini sebuah opini dan persepsi yang dimiliki oleh seorang manusia dengan jiwa yang bebas dan kemerdekaan untuk bersuara.

Bukan untuk menghakimi hanya meminta sedikit ruang untuk berbicara dan mengkritik. Boleh saja didengar karena anggap saja gue berasal dari pihak luar yang memiliki sudut pandang lebih untuk melihat ini.

Sistem idealnya berjalan untuk dua sisi. Tidak mungkin tidak ada ketergantungan di dalamnya. Jika sistem tersebut ingin berjalan utuh dan fungsional, kedua sisi harus seimbang, meski dalam tatanan sosial mustahil mendapatkan keseimbangan mutlak layaknya menggunakan timbangan. Ada kesenjangan, biasanya, dan itu lazim.

Keduanya mampu berjalan berbarengan (yang tentunya harus demikian) jika ada sosialisasi dan adaptasi. Apalagi sih memangnya yang dibutuhkan sekumpulan orang selain "dianggap" dan menyesuaikan diri. Sesederhana itu. Ketimpangan dalam pengertian dan penyampaian pesan di sini yang kadang disalahgunakan lantas tidak mungkin dipungkiri, kebutuhan itu kemudian saling bertubrukan lalu pecahlah perang "aku". Karena jelas kedua pihak merasa adalah yang benar. (Manusia kan jarang mau mengakui kesahalan bukan?)

Tidak ada yang lebih punya kuasa atas yang lain. Sekali lagi ingat ini sistem. Mungkin ada hirarki tapi ada yang atas karena sudah ada yang bawah kan? Dia tidak akan menjadi yang atas kalau tidak ada yang bawah. (Jadi jangan pernah merasa di atas atau di bawah!)

Sebagaimana sistem yang dibuat teratur dengan aturan, maka sudah sepantasnya si pembuat aturan sadar bahwa ada waktu yang dibutuhkan untuk adaptasi, bukan dengan ketergesaan tentunya. Beri ruang untuk mengerti dan memahami sebelum itu benar berlaku. Pengambilan keputusan sepihak hanya akan menjerumuskan bukan malah memperbaiki.

Sepantasnya juga si penerima dan pelaksana aturan sadar bahwa ada masa di mana perubahan kerap terjadi dan harus terjadi demi kebaikan di masa yang akan datang, bukannya manusia itu dinamis? Beri ruang untuk perubahan lewat penerimaan dan upaya membiasakan diri.

Sayangnya, mungkin ini sekadar tulisan penuh teori yang menjemukkan bagi si panas hati. Tapi jika semua orang hendak berteriak lantas siapa yang mendengar? Tidak ada salahnya hening sejenak, biarkan logika menyusup memberi kesejukan pada hati yang kadung panas. Karena emosi kadang membutakan bukan malah memberi jalan.

Tidak membenarkan juga menyalahkan. Karena lagi-lagi keduanya berjalan bersamaan. Anggap saja tulisan ini menggurui atau retorik. Tapi percayalah gue berada di salah satu sisi dalam sistem itu, mengerti benar keadaan itu. 

Hanya saja sedikit tergelitik dengan teriakan-teriakan lantang yang hanya ramai jika spiral teriakan itu sedang mengaum besar lalu perlahan hilang menyisakan mereka yang benar-benar berjuang. Sisanya? Hanya sekumpulan orang yang berani berteriak karena merasa sedang ada momentum lalu menghilang jika ada tindakan pasti. Lagi-lagi mereka yang benar yang harus bertanggung jawab menyediakan diri untuk sesuatu yang mungkin saja mengancam dirinya.

Jika memang merasa ada yang pantas diluruskan mari berjuang bersama untuk itu. Ingat bukan dengan urat tapi dengan logika. Selalu ada celah bagi siapa yang benar. Ingat juga sistem yang saling butuh. Jangan lupa pula, jadilah seseorang yang memang pantas diajak berjuang bersama bukan ksatria kesiangan. Jika memang ini sistem milik bersama yang pantas diperjuangkan ... - NDN

Thursday, January 17, 2013

Balada Amukan Si Hujan

Beberapa hari ini Jakarta dan sekitarnya diguyur hujan yang cukup deras. Enak sih, gue pribadi selalu menikmati saat-saat hujan ngeguyur deras, berlindung dibawah atap, masuk kedalam selimut, itu udah paling nyaman.Tapi disatu sisi, ketika gue ngeliat keluar dan Jakarta tiba-tiba tergenang, gue baru ngeh ada dampak besar lain yang harus ditanggung Jakarta. Gue gak tertarik buat ikut ngomentarin masalah drainase kota yang buruk, masalah sampah yang numpuk, ini salah pemerintah atau salah rakyat, atau hal-hal seperti itu. Bukannya banjir ini udah menimbulkan kesusahan dan gak perlu ditambah dengan banyak komentar yang tidak memberikan dampak signifikan aktif yang muncul dimana-mana yang jelas bukannya bantu malah buat yang ngeliat jadi makin susah otaknya. (in my opinion)

Gue cuma terenyuh saat ngeliat abang-abang sebuah franchise makanan lagi pake jas hujan dan kuyup banget saat ngelewatin genangan air di jl raya serpong beberapa jam yang lalu. Jalanan gak macet, cuma hujan lagi deres-deresnya dan genangan air cukup mengganggu buat dilewatin motor sih. Kenyataan itu buat gue agak nyeess gitu, gimana ya, disaat orang lain memilih buat didalam rumahnya ngerasa terlindungi, si mas-mas itu nggak punya pilihan lain dan belum lagi batasan waktu yang dibuat oleh si tempat dia kerja ngebuat dia gak punya waktu untuk sekadar berteduh atau jalan pelan-pelan. Padahal sepengen apa si pemesan berteduh nyaman dirumahnya, pasti si mas juga pengennya gitu. Tapi hidup selalu memilih dan berisiko kan?

Tau kok banyak pekerjaan lain yang mungkin sesulit yang dilakukan si mas itu, tapi karena tadi dia yang gue liat ya gue ngeliat masalah si hujan yang terus menerus ini dari sisi dia. Belum lagi ada kejadian lain lagi tadi pas gue di Metromini 70. ada ibu-ibu disebelah gue yang ngajak ngobrol, ya ngomongin ujan sih tapi disaat semua orang lain mengutuki hujan dan banjir, pasangan paling banyak dibicarakan beberapa hari ini, si ibu malah bilang "saya tetep bersyukur sih neng, memang banjir, saya basah kuyup mulu kalo kemana-mana, tapi udah lama banget kita kepanasan, kering, hujan tetep bawa rezeki apapun caranya, saya percaya." nyah! Gue tercengang. Ibu ini ngeliat sisi lain dari si hujan yang sempat gue ragukan akibat sulitnya gue tadi mau ke kampus dari Jakarta sana.

Kejadian lain di metromini, tadi nggak ada keneknya, si abang supir sendirian. Jadi di tengah jalan dia minggir, berenti, terus nagih-nagihin ongkos. Nah! yang buat gue berfikir adalah seyakin itu dong dia sama orang-orang yang naik turun dalam jarak dekat kan secara metromini itu gak bisa diawasi naik turunnya. Tadi ada mbak-mbak yang turun mereka rame2 ngumpulin ongkos terus dianter kedepan ke supirnya, tapi ada juga abang-abang yang naik dengan gampangnya turun tapi nggak bayar, gue yakin banget karena dari dia naik setelah gue dan turun sebelum gue dia persis ada didepan gue. Jadi, semua hanya tinggal hati nurani dan kesadaran kita kan?

Gue mungkin bukan orang yang bertemu sapa langsung sama si banjir, gue juga mungkin gak akan pernah bisa ngerasain apa yang dirasain orang-orang yang sekarang sedang ditengah banjir seberusaha apapun gue untuk mencoba memahami perasaan mereka, cuma gue gak pernah mengutuki hujan seperti gue gak suka panas. Bukan berarti gue gak mensyukuri matahari, tapi hujan selalu punya cara buat "menyelimuti". Lagi lagi ini untuk gue dan jelas gak bisa gue sama ratakan ke banyak orang.

Mungkin selimut hangat, atap dan lantai rumah yang masih kering, gak pantas dibandingi sama apapun itu yang orang lain dibelahan kota ini yang merasakan banjir dan harus berkorban basah-basahan demi kepentingan orang lain. Gue pengen hujan kali ini gak lagi "ngamuk", membiarkan matahari ngebantu semua warga yang lagi susah karena "amukan" air, supaya bisa surut, biar semua aktivitas bisa kembali berjalan seperti biasa lagi. Semoga hujan yang ramah seperti biasanya akan mampir lagi tapi tidak dalam waktu dekat atau paling gak sampe semua jadi normal. Tunggu semua pulih biar semua bisa lancar lagi. Tapi apapun itu, hidup harus terus berjalankan, kita toh tetep harus sabar walaupun mungkin terjebak banjir berjam-jam, jalanan macet, baju basah kuyup atau antrian kendaraan umum yang membludak karena berantakannya jadwal. Cukup percaya lah, semua ini akan berakhir dan akan selalu ada hikmah dari setiap kejadian (jika kata-kata retoris ini bisa sedikit melegakan hati yang membaca). Kita akan segera "pulih" bareng-bareng :')

Monday, January 7, 2013

Mungkin Cuma Hal Kecil

Dapet ide pas ngeliat sesuatu yang tadinya ada di suatu tempat cukup lama tapi kemudian hilang gitu aja. Entah itu cuma gue atau mungkin orang lain punya perasaan yang sama juga soal hal-hal kecil sentimentil sejenis. Cuma ternyata setelah gue telisik lebih dalam, gue punya keanehan, menganggap sesuatu sekecil apapun itu punya arti lebih yang sayangnya nggak semua orang yang gue harapin bisa ngerasain hal yang sama juga.

Oke, sebenernya ini cuma coretan-coretan kecil. Bahwa kadang sesuatu yang kecil, mungkin bagi sebagian orang nggak punya arti apa-apa, bisa aja means a lot buat orang yang lainnya lagi. Jadi, ini juga bisa buat gue ngaca dan mulai memahami serta mikirin perasaan orang lain juga. Mungkin selama hampir 22 tahun hidup gue pernah ngeremehin hal-hal kecil, mungkin gue lupa buat orang lain hal itu punya arti.

Hidup ini kadang nyeret kita ke dalam arusnya yang kenceng banget, bahkan ngebuat kita lupa buat nyari pegangan sebentar, lihat kanan-kiri, ngukur udah sejauh apa kita keseret, udah berapa banyak hal-hal yang kita lalui. Selama keseret pasti kita nggak ngeh sama hal-hal kecil, dimana-mana yang orang inget pasti hal-hal besar yang punya pengaruh atau dampak gede. Tapi kita, orang-orang itu, lupa, kalau aja mau sedikit narik nafas dan nggak terus ngebiarin arus ngebawa kita, pasti ada hal-hal indah dari sesuatu yang kecil yang ke-skip pas perjalanan kita tadi.

Bukannya sesuatu yang besar itu muncul dari sesuatu yang kecil dulu? Kita juga nggak langsung gede kan? Semua butuh proses, dalam proses itu semua pasti dimulai dari langkah atau hal kecil. Just a little remind :D Well, I keep some tiny little things around me, just to remember me, there're something behind those things !

Wednesday, November 23, 2011

Dimulai dari diri sendiri

Ada saat-saat dimana satu lagu terasa nyata atau ngena banget dihati. Pasti karena ada pengalaman,perasaan atau harapan yang sama yang sedang dirasakan dengan lirik lagu yang ada.

Saat ini buat gue, lirik yang paling ngena atau pas banget itu

IF YOU EVER COME BACK - THE SCRIPT

KENAPA?!


Ini liriknya dan pasti kalian akan mengerti..

if you're standing with your suitcase
but you can't step on the train
everything's the way that you left it
i still haven't slept yet

and if you're covering your face now
but you just can't hide the pain
still setting two plates on the counter
but eating without ya

if the truth is you're a liar
then just say that you're okay
i'm sleepin' on your side of the bed
goin' out of my head now

and if you're out there tryna move on
but something pulls you back again
i'm sitting here tryna persuade you
like you're in the same room

and i wish you could give me the cold shoulder
and i wish you could give me a hard time
and i wish i could still wish it was over
but even if wishing is a waste of time
even if i never crossed your mind

i'll leave the door on the latch
if you ever come back.. if you ever come back
there'll be a light in the hall and the key under the mat
if you ever come back

there'll be a smile on my face and the kettle on
and it will be just like you were never gone
there'll be a light in the hall and the key under the mat
if you ever come back.. if you ever come back now

now they say i'm wasting my time
cause you're never comin' home
but they used to say the world was flat
but how wrong was that now?

and by leavin' my door open
i'm riskin' everything i own
something i can lose in the breakin'
that you haven't taken

............... (continue..just look at metrolyrics)

Sekilas dari lirik tadi paling ga sudah cukup menggambarkan apa yang sedang terjadi sama gue. Buat sebagian orang mungkin menunggu adalah hal yang bodoh apalagi menunggu sesuatu yang telah pergi untuk kembali. Tapi buat gue ga pernah ada yang salah dengan menunggu. Menunggu bukan berarti menyerah pada waktu dan menjadi diam. Menunggu bagi gue adalah saat dimana gue bisa memikirkan segala sesuatunya dengan lebih baik dan tenang. Gue orang yang lebih memilih menunggu dan berdiam ditempat yang sama sampai hati dan pikiran gue berjalan bersamaan memutuskan apa yang akan dilakukan dikedepannya. Daripada melangkah maju dan melihat kedepan padahal hati belum siap untuk memulai yang baru. Buat gue itu hanya akan memunculkan perasaan yang rapuh atau malah menjadikan langkah itu sebagai tameng.

Kalo sama perasaan sendiri aja kita belum mampu jujur dan menghargainya, gimana mungkin kita bisa jujur buat hal-hal lain yang lebih besar. Semua bermula dari diri sendiri lalu kemudian menjadi hal yang lebih besar.

Gue percaya akan kejujuran yang dimulai dari jujur akan perasaan sendiri ! Karena dengan itu gue udah bisa menghargai diri gue sendiri :)