" Three words I can sum up everything I've learned about life: it goes on. " Robert Frost

Sunday, January 6, 2013

Hello 2013

Tahun baru, mestinya sih sebelum tahun ini bergulir, gue layaknya manusia biasa menutup tahun dengan resolusi. Yang sayangnya, sampe se-umur begini, gue belum pernah mencoba membuat sebuah resolusi pun. Gue bukan orang yang spontan, bukan juga yang well-organized. Gue mungkin ada ditengah-tengahnya, tapi juga bukan dengan kadar yang seimbang. Ada kala yang satu mendominasi yang lainnya.

Buat gue, setiap awal tahun yang baru, gue punya keinginan kuat dalam hati, kalau tahun ini yang akan gue jalani, akan jauh lebih baik dari tahun sebelumnya, biasa banget ya? Ya abis gimana, buat gue, hidup itu terlalu banyak kejutan, kadang yang gue minta nggak pernah dikasi, tapi yang gue gak pernah pikirin tiba-tiba aja dapet dan itu rasanya menyenangkan.

Apa yang mau gue keluhkan dari 2012? Coba dirunut, kuliah jalan adem ayem, nilai masih menyenangkan, uang jajan ya cukup cukup lebih kurang lah namanya mahasiswa naik turun sesuai tingkat kehedonan, apalagi, cinta? ya tetep gitu-gitu aja, dibilang move on ya nggak juga, dibilang nggak move on yang nggak juga, stabil lah. Banyakan seneng atau sedih? Fair enough, ada kalanya gue ngerasa terpuruk, sisi lain gue ngerasa beruntung banget. Apa yang lengket banget diingatan? Maroon 5 2nd concert maybe, nari lagi setelah sekian lama nggak, pertama kali nyobain jadi penata tarian di sebuah pentas teater, I still have a great Prodigy, semakin banyak main-main dari bus ke bus demi ngerjain tugas liputan, udah bahkan gue nggak bisa nginget lagi. Terlalu banyak yang menyenangkan sepertinya, kan kata orang-orang sesuatu yang menyenangkan lebih mudah dilupakan daripada sesuatu yang menyakitkan.

Apa yang nggak pernah berubah, yang tiap tahun masih terus gue titipin di dalam doa?

- Pengennya lebih rajin sholat
- Terus kuliah yang bener, nunjukkin ke Papa kalau apa yang dikorbankan akan ada hasilnya
- Hidup tenang adem ayem nggak punya musuh
- Sekeluarga di lindungi Allah
- Tetep harus bisa ke Italy (nggak mau tau)
- Pengennya tulisan-tulisan yang terus bertambah ini tidak hanya menjadi hiasan draft-draft di laptop tapi bisa   "numpang" di toko buku
- Be a better person every single time

Klise ya? Tapi ya gimana, hidup aja udah rumit, kalau minta yang muluk-muluk banget ntar makin susah. Mendingan gini-gini aja, seneng itu sesederhana sejauh apa kita mau bersyukur kan. Jadi, mending lebih banyak bersyukur biar hidup tetap terus indah. :D Sedikit terlambat mungkin, but better late than never kan? HAPPY NEW YEAR 2013 EVERYONE!!

Thursday, January 3, 2013

SELAMAT TANGGAL 3

Kadang ketika kaki terlalu lelah untuk terus menapak mencipta jejak
Bahu memilih bersandar lalu membiarkan rasa meledak tak terbendung
Mengikis luka yang tak kunjung sembuh, membasuh peluh yang tak henti menetes
Sebuah sandaran hangat terbuka lebar layaknya pintu rumah yang tak pernah berubah

Hari demi hari tak menawarkan ampun atas segala yang bergulir
Tidak pernah bertanya apa kaki ini masih mampu menopang
Atau kepala ini sanggup menampung
Dia berjalan tak kenal henti apalagi mampu dihentikan

Saat itu, sesosok raga yang berjiwa butuh sosok raga berjiwa lain yang berjalan beriringan
Katakan aku naif, tapi aku diajarkan untuk tidak percaya istilah sahabat
Lalu biar ku namakan ini sebagai sebuah pertemanan yang terlalu baik
Sesosok raga berjiwa yang paham dan mengenal betul bagaimana menjadikan hari yang kejam mampu terlewati




HAI YANWARDHANA!
SELAMAT MENJADI 22.

Jangan pernah bertanya pada hati apa yang menanti di depan
Atau bimbang akan langkah yang hendak dijejak
Jangan juga ragu atas apa yang mampu kau cipta di hari esok
Atau goyah akan apa yang kau miliki hari ini

Layaknya jutaan manusia yang beragam dan menjadi berbeda dengan apa yang dimilikinya
Begitu juga apa yang kau miliki utuh dalam raga yang berjiwa atas nama Emir Yanwardhana




Selamat tanggal 3..
Apa yang biasa orang lain mampu lakukan ketika kau bertemu lagi dengan tanggal yang sama ketika kau pertama kali bersentuhan langsung dengan dunia selain menitipkan doa, ya kan?

Lalu kini biarkan aku menjadi orang biasa yang turut menitipkan doa, doa yang sedikit berbeda..
- Ketika kau percaya seberapa besar langkah yang bisa kau jejak, maka tak perlu ragu sebesar itu pula aku percaya kau akan bisa
- Ketika kau sedang lelah atau muak dengan hari yang terus menua hingga menjengkelkan layaknya nenek-nenek cerewet, aku siap berbagi tawa dan keanehan yang membuat semua terasa lebih baik
- Ketika dunia semakin sibuk dan tak seorang pun sempat untuk menyapa lalu menanyakan keadaanmu, percayalah, aku selalu ada disana.

Lalu sedikit doa yang lazim..
- Semoga hujan deras akan selalu menghampirimu kala tak seorang pun mampu memberikan ketenangan yang diciptanya
- Semoga senja yang katamu mencipta tenang akan terus membuatnya menjadi sosok yang tenang dan tidak berubah malah semakin tenang seiring bertambahnya hari mu di dunia.
- Di sini sebagai seorang teman yang entah cukup baik atau tidak, aku tidak akan pernah berhenti yakin bahwa kau akan menjadi sesosok yang membanggakan suatu hari nanti.
- Doa yang terbaik, dukungan yang tidak berhenti, serta jalan yang terus beriringan semoga akan terus menjadi milik kita di kedepannya.
- Semoga setiap pertemuan dengan tanggal 3 akan terus menjadikanmu sosok yang jauh lebih baik dari sebelumnya.
- Semoga baris demi baris kata yang tersusun ini mampu melengkapi kebahagianmu hari ini.




SELAMAT ULANG TAHUN EMIR YANWARDHANA!

Friday, November 30, 2012

Raksasa di Atas Sana

Aku merangkai langit menyusunnya rapi, menjadikan awan biru layaknya tirai yang hendak disingkap. Rahasia besar tersembunyi di sana, meninggalkan sejumput pertanyaan bergelayut mesra di benak. Aku mungkin belum mampu menjawab, apalagi menjelaskan satu demi satu kata demi kata. Layaknya alam dengan segala rahasianya, aku mengagumi langit biru yang terbentang luas, merasa terlindung berada di bawahnya, bagiku, langit seterik apapun, sebasah apapun, dia tetap atap raksasa yang selalu ada disana, aku tak akan pernah mampu menghindarinya. 

Sejauh apa aku memandang, sejauh apa aku berlari, ketika aku menengadah dia layaknya ibu yang tak bisa dibohongi. Dia akan tetap di sana memahami setiap yang terjadi pada aku. Rasanya tidak pantas berlari apalagi bersembunyi. 

Wahai raksasa di atas sana, teruslah begini,kala aku lupa arah rumahku, ku jadikan kau rumah besarku.

Mata Najwa : Inspiratif !

Ketenaran dan kapabilitas di bidangnya tentu tidak usah diragukan, berhasil memandu acara dengan namanya sendiri, menjadikan dia sosok yang lantas gue kagumi. Satu kelebihannya, tidak pernah terdengar sedikitpun dari intonasi suaranya merasa tertekan atau takut akan apa yang hendak ia tanyakan kepada narasumbernya. Gue dengan segala kelas yang gue ambil sekarang berharap suatu hari punya pertanyaan setaja dan kemampuan mengorek informasi setajam beliau.

Belum lagi kata-kata pembuka di setiap episodenya, pilihan kata yang menggugah, sarat makna dan tegas. Kekaguman dan pembelajaran dalam setiap episodenya terus bergulir tapi episode kali ini, membuat gue merasa suatu hari gue harus ketemu dan wawancara sama dia. Najwa Shihab itu menarik, cerdas dan inspiratif. I'm running out of words. Let's see this ...

Petikan kalimat pembuka Episode Mendadak Capres :
"Selamat malam, selamat datang di Mata Najwa, saya Najwa Shihab, tuan rumah Mata Najwa. Pemanasan 2014 kian lantang, seturut nama-nama menantang. Inilah saat politik menjelma dalam lakon melodramatik. Opera sabun siap terisi oleh kisah dizhalimi yang menguras simpati. Demam kekuasaan bermunculan dengan kedangkalan mencengangkan. Muka lama yang ngotot bertahan hingga tokoh dadakan latah." 

(baru ngedenger kalimat pembukanya aja, gue udah terkagum-kagum dan langsung terpikir kapan gue bisa sampai di titik ngebuat rangkaian kata dalam naskah kaya gitu)

Selanjutnya silahkan liat di sini :




:)

Terlihat Belum Tentu Terbaca

Tulisan ini akan jadi tulisan terakhir di bulan november 2012 atau tidak sih masih belum tau, tapi paling tidak arah mendekati ujung bulan ke sebelas tahun ini sudah kurang dari 5 jam lagi. Lalu dalam perjalanan pulang dari kampus menuju kosan, gue dan seorang teman, Cesita, menyadari bahwa semester ini berlalu sangat cepat. Nggak berasa semester ini akan segera berakhir walaupun tugas demi tugas tumbuh tanpa ada tanda-tanda mati segera. Tapi buat gue yang membuat terhenyak adalah bagaimana tahun ini berputar begitu cepat. Klasik ya, tiap tahun juga semua orang ngomong gitu. Gue punya alasan sendiri ngomong gitu.

Kecepatan mungkin kalau dibilang ini review setahun terakhir, tapi buat gue, masih terlalu banyak waktu terbuang sia-sia, yang seharusnya bisa gue kerjain buat apa malah gue biarin aja. Tapi ya uda sih nggak mau menyesali, toh udah lewat. Gue cuma masih nggak percaya aja, hampir setahun yang hanya kurang 1 bulan ini gue berhasil bertahan sejauh ini walaupun gue tau nggak jauh-jauh banget, gue masih ada di dalam lingkaran yang sama mungkin hanya tidak di dalam lapisan lingkaran yang sama.

Kalau diibaratkan dengan kuliah komunikasi internasional, ya gue udah nggak lagi di lingkaran core (inti) tapi udah sampai di lapisan semi-periphery. Pengennya daya magis lapisan core akan semakin memudar di tahun depan, sehingga gue bisa masuk ke lapisan periphery. Lalu terlepas lah gue dari semua ini.

Ini melelahkan, tidak ada juga yang pantas diperjuangkan lagi, tapi tidak semudah itu menarik diri. Bukankah menghilangkan kebiasaan merupakan hal yang sulit? Paling tidak, gue terkesima, gue sudah sampai sejauh ini,  kalau disamain sama teori kultivasi, gue yang tadinya sebagai heavy viewers, sekarang udah bisa jadi light viewers. Satu kemajuan, mungkin biasa bagi kebanyakan orang, tapi jelas kemajuan pesat buat gue.

Tulisan ini mungkin terlalu berbelit, tidak jelas ingin menyampaikan apa, tapi jika kalian mengenal gue, kalian akan paham maksud tulisan abstrak ini apa. Penjelasan-penjelasan diatas bukan lah jawaban dan tidak memiliki keterkaitan sama sekali dengan teori-teori yang dipaparkan.

Betapa abstraknya tulisan ini, menggambarkan sebagaimana gue yang terseok, tersandung, cemerlang, berantakan dan semua rasa yang campur aduk melalui tahun ini. Tapi dari ketidakjelasan tulisan ini kalian bisa melihat dengan jelas bagaimana tahun ini menciptakan banyak kegamangan bagi gue. :)

Wednesday, November 28, 2012

Film Sukarno

Sedang dalam penggarapan akan ada sebuah film Sukarno. Pastinya bakal jadi yang paling ditunggu-tunggu. Banyak hal yang melatarbelakanginya. Karena gue suka apa saja yang berkaitan dengan presiden pertama itu, kisah hidupnya yang selalu menarik buat dikupas dan digali lebih dalam dan tentunya karena penasaran sejauh apa seluruh pihak yang terkait dalam pembuatan film tersebut mampu menghidupkan kembali sosok berkharisma yang diidolakan bangsanya itu. 

Nggak gampang pasti mewujudkan apa yang terjadi dengan beliau, mulai dari karakter, pembawaan, kharisma dan terutama nama besarnya. Seluruh pengagumnya di seantero negeri ini pasti memiliki imajinasinya tersendiri, beliau hidup dalam kenangan yang mewah dan indah. Menampung segala kemungkinan imajinasi yang dahsyat tersebut pasti bukan pekerjaan yang gampang. 

Semoga film ini sukses nantinya, mampu menyisipkan rasa bangga yang memang sudah hidup begitu kuat akan sosoknya dan menambah pengetahuan serta memberikan kecerahan dibalik setiap unsur yang terkandung di film ini. 

Informasi detail bisa dilihat disini : Film Sukarno 
Bisa follow twitternya : @FilmSukarno 

:)

Tuesday, November 27, 2012

Mewakili Apa Yang Tak Lagi Mampu Diteriakkan

Meminjam sedikit petikan lirik lagu Payphone - Maroon 5 dari album Overexposed. Tidak banyak yang ingin dikatakan, rasanya tak pantas kata demi kata kembali mengalir lagi, kita sudah kebanjiran, membuat megap, tidak ada lagi spasi untuk kenyamanan. Ketika kita kehilangan kita, maka ruang pengap pun semakin mendesak, mendorong kita bertindak di luar akal. Satu dan yang lain saling bertabrakan, menghancurkan setiap apapun yang berada didekatnya hingga berkeping tak berbentuk. Kala mulut tak lagi mampu mengurai kata yang pantas diucapkan, biar sebagian lirik ini mewakili hati yang semakin tak kuasa menahannya..


You can't expect me to be fine
I don't expect you to care
I know I've said it before
But all of our bridges burned down
- Payphone