Banyak hal yang berlalu namun sebanyak itu pula waktu yang terbuang sia. Bukan karena gue enggan menulis, tapi rasanya keinginan itu perlahan menguap ke udara. Ujungnya, hanya tersisa niat untuk menuliskan apa yang menggelitik hati, membiarkannya perlahan menghilang dalam ingatan. Sebenarnya mungkin nggak langsung hilang begitu saja tapi mood untuk menuliskannya sudah tidak di sana.
Salah satu yang masih terpatri jelas diingatan namun nyawanya sudah lebih dulu melayang adalah kejadian di KRL Palmerah - Rawabuntu yang gue tumpangi. Ketika KRL masuk ke peron jalur 1 Palmerah, gue udah siap di posisi pas bertepatan dengan pintu kedua terdepan dari gerbong KRL. Tiba-tiba seorang Mbak berbaju biru, nampaknya pekerja kantoran, mepet dempet dengan kekuatan tangan yang bisa membuat nyeri lengan orang di sampingnya dan itu gue.
Rasa tidak mau kalah gue terusik. Gue pun tergoda untuk "mengalahkannya". Maka gue berkeras dan enggan memberi jalan. Bagi gue ketika orang itu berjuang secara fair untuk mendapatkan tempat duduk, gue akan dengan senang hati merelakannya, tapi ketika dia mengusik dengan cara ngotot, gue rasa dia salah milih lawan.
Selanjutnya, gue duduk bersebelahan dengan seorang ibu yang terlihat sedang susah baik dari pakaian maupun dari tatapannya yang menerawang. Anak sang ibu yang kerap melamun ini sediikit usil, mengganggu seorang ibu berjilbab disebelah ibunya. Jilbab sang ibu ditarik berkali-kali namun sang ibu memilih diam.
Sang anak enggan berhenti, mungkin karena merasa tidak mendapat tanggapan, anak itu mulai bergerak ke sana ke mari. Tiba-tiba sebuah suara mengejutkan seisi gerbong wanita. Ada suara bentakan yang lantang.
Gue pun menoleh, betapa kagetnya gue ternyata si Mbak berbaju biru yang tadi harus melipir karena perebutan kursi di awal masuk gerbong tadi gue menangkan. Sang Mbak yang egois membentak anak tersebut. Tidak hanya membentak anak perempuan kecil tersebut, si Mbak juga membentak ibu yang melamun itu. Cukup panjang kata-katanya dan suaranya sangat lantang. Membuat segerbong terkesiap dalam sunyi.
Beberapa ibu-ibu tampak terkesima. Gue pun melemparkan pandangan tidak suka. Sang anak keburu menangis, dan sang ibu hanya mampu menenangkan seadanya sebelum kembali melamun.
Singkat cerita mereka berdua (anak dan ibu) hendak turun di stasiun Sudimara. Kala menunggu KRL berhenti dengan sempurna, ada seorang ibu yang duduk persis di sebelah pintu KRL (bersebrangan dengan gue) merogoh sesuatu dari tasnya.
Tidak lama dikeluarkan lah sebuah kantong breadtalk dan ia pun memberikan pada sang anak. Dengan sebuah pesan "Jangan nangis lagi ya nak". Gue dan sang ibu breadtalk pun saling melempar senyum. Sebelum sebuah suara kembali mengusik.
Si Mbak biru nyeletuk "Kalau anak kaya gitu jangan dikasih hati, ibunya juga nggak pake otak, anaknya didiemin aja, Saya sih nggak bisa diem aja kalau ngeliat anak-anak nggak diajarin begitu," dan bla bla bla. Obrolan menjengkelkan itu berlanjut bersama dengan beberapa ibu-ibu yang sama sifatnya, suka ngomongin orang lain di belakang!
Gue pun memutuskan untuk pasang headphone dan menutup mata. Dunia kadang terlalu berisik. Malangnya, suara-suara sumbang itu keluar dari rasa toleransi yang minim. Perasaan angkuh terhadap dirinya sendiri dan selalu menganggap orang lain selalu punya kekurangan dan kesalahan. Memuakkan.
Ironinya, di dunia yang sudah sumpek ini. Keangkuhan dan suara lantang selalu dianggap sesuatu yang hebat dan pantas dibanggakan. Diakui oleh masyarakat sekitar, dianggap perbuatan heroik. Lupa, kalau setiap jengkal bumi ini dibagi bersama, bukan untuk dikuasai perorangan.

" Three words I can sum up everything I've learned about life: it goes on. " Robert Frost
Saturday, April 11, 2015
Tuesday, March 3, 2015
Sepenggal Halo dan Sebaris Jawaban
Ada sebuah perasaan terasing yang semakin membuncah. Menjadikan kekhawatiran timbul menggunung. Mengaburkan pandangan hingga tak ada lagi warna yang mampu ditangkap mata selain abu.
Ada sebuah kegelisahan yang semakin menggerogoti. Menjadikan keputusasaan merajalela. Mengelabui segala akal yang berbisik.
Bukan perkara ada yang salah dalam perjalanan ini. Hanya saja kesendirian kadang kala mengekang. Menguasai hingga tak lagi mampu menelaah dengan jernih.
Rasanya pekat yang ada menjadikan semua prasangka sebagai jawaban yang absah. Atau mungkin ini hanya sentimen lelah yang juga mengikis kepercayaan diri.
Di mana dulu perasaan angkuh yang terpampang nyata. Berteriak lantang menjadikan sosok yang tak gentar akan kesunyian.
Mengapa kini rasanya titik-titik sepi semakin bising. Memekakkan gendang telinga, membuat hati menjadi rusuh.
Bila saja dari sekian ratus orang yang lalu lalang dari terang hingga pekat bersedia berhenti barang semenit. Untuk bertukar sapa atau bertukar canda. Mungkin sunyi bisa tersingkir.
Atau jalan ini sebenarnya salah, seharusnya dulu saya berbelok, tidak membiarkan hati yang angkuh menang. Hingga menyisakan sesal di sudut yang kini senyap.
Bila mana langkah membawa, biarkan kaki terus melangkah. Dalam sendiri atau bersama, dalam sunyi ataupun gegap.
Semakin dalam langkah tersuruk, semakin banyak logika yang berhamburan. Mungkin saja ada akal yang terselip, menyelamatkan raga dan jiwa yang memilih mati suri.
Ada sebuah kegelisahan yang semakin menggerogoti. Menjadikan keputusasaan merajalela. Mengelabui segala akal yang berbisik.
Bukan perkara ada yang salah dalam perjalanan ini. Hanya saja kesendirian kadang kala mengekang. Menguasai hingga tak lagi mampu menelaah dengan jernih.
Rasanya pekat yang ada menjadikan semua prasangka sebagai jawaban yang absah. Atau mungkin ini hanya sentimen lelah yang juga mengikis kepercayaan diri.
"Halooo??" sepotong suara yang dinanti
Di mana dulu perasaan angkuh yang terpampang nyata. Berteriak lantang menjadikan sosok yang tak gentar akan kesunyian.
Mengapa kini rasanya titik-titik sepi semakin bising. Memekakkan gendang telinga, membuat hati menjadi rusuh.
Bila saja dari sekian ratus orang yang lalu lalang dari terang hingga pekat bersedia berhenti barang semenit. Untuk bertukar sapa atau bertukar canda. Mungkin sunyi bisa tersingkir.
Atau jalan ini sebenarnya salah, seharusnya dulu saya berbelok, tidak membiarkan hati yang angkuh menang. Hingga menyisakan sesal di sudut yang kini senyap.
Bila mana langkah membawa, biarkan kaki terus melangkah. Dalam sendiri atau bersama, dalam sunyi ataupun gegap.
Semakin dalam langkah tersuruk, semakin banyak logika yang berhamburan. Mungkin saja ada akal yang terselip, menyelamatkan raga dan jiwa yang memilih mati suri.
"Ya... Tunggu di sana, aku sedang dalam perjalanan," jawab ku lantang.- NDN
Labels:
cerpen,
Kata terucap,
random thought,
relaksasi diri
Saturday, February 7, 2015
Malam Tak Lagi Pekat
Suatu hari lewat langkah kecil yang beriringan
Terdengar derap yang menggebu
Berusaha mengejar namun tak kunjung bersinggungan
Terasa celah yang melebar
Harus kah aku menahan langkah untuk bisa sekadar bersitatap
Atau malah memperbesar jarak agar bertemu di ujung sana
Kepada siapa aku harus melemparkan pertanyaan itu
Janggal ini semakin mengganggu
Namun tak pantas dilayangkan
Jika malam menjemput
Aku masih dalam pelarian yang sama
Tapi kita tak kunjung bersisian
Rasanya bayang sudah melewati aku puluhan kali
Sepi semakin jauh melingkupi
Teriak pun sudah enggan bergema
Karena bisikan semakin tertelan
Ketika kata hati sudah diredam
Mungkin itu isyarat bahwa pelarian sudah semakin jauh
Tidak ada waktu untuk berbalik
Karena matahari di ujung jalan sudah melongok
Meminta aku segera menjemput
Karena malam tak lagi sepekat kemarin
- NDN
Friday, January 16, 2015
Sepotong Banda Neira dalam Sebuah Kisah
"Berjalan lebih jauh
Menyelam lebih dalam
Jelajah semua warna
Bersama, bersama" - Berjalan Lebih Jauh
Sepotong lirik itu menggugah. Menjadikan saya mencandu setiap lagu dan lirik sang pelantun. Tapi cerita kali ini bukan tentang awal ketertarikan itu.
Ini kisah manis dibalik sampainya CD berlabel Banda Neira menjadi kepemilikan saya hingga hari ini.
Saat itu, akhir 2013, mulanya saya bercerita kepada seseorang itu, bahwa Banda Neira mencuri hati saya. Link soundcloud itu saya kirimkan, dia pun kerap mendengar macam lagu Banda Neira bersama saya.
Entah apa yang menghipnotis namun rasanya suara Rara Sekar dan Ananda Badudu melekat erat. Pilihan lantunan yang syahdu serta lirik yang menyeret suasana menjadikan Banda Neira lekas terpantri di otak saya.
Kisah kami pun baru bermula, rasa manis itu pekat. Suatu malam, saya dan dia menghabiskan malam di sebuah angkringan, menikmati malam dan ngobrol beragam topik.
Hingga saat saya meninggalkan meja untuk suatu hal, dia meletakkan CD album itu dengan manis tepat di atas meja yang saya tinggalkan.
"Seperti hadirmu di kala gempa
Jujur dan tanpa bersandiwara
Teduhnya seperti hujan di mimpi
Berdua kita berlari" - Hujan di Mimpi
Tidak usah ditanya apa yang bergemuruh di hati kala melihat seonggok apa yang saya cari tersaji. Manis, terlalu manis, bukan hanya karena memang saya sedang mencari album itu tapi karena perhatiannya yang terlampau besar.
Rasanya jika dikisahkan tidak ada kata yang pantas bersanding dengan perasaan itu. Ini perkara sekecil atensi yang terselip, perasaan merasa dimengerti dan dipahami. Seolah membaca pikiran adalah salah satu kelebihannya. Atau memang Banda Neira sudah diletakkan di sana untuk menambah manis yang sudah kami rajut.
Hari itu, album itu, angkringan itu dan tentunya orang itu akan selalu menjadi ingatan yang manis. Semanis lirik-lirik Banda Neira yang saja kagumi.
Tanpa permintaan, tanpa tergesa dia memilih semuanya dengan tepat.
Seperti saya memilihnya dengan tepat hingga hari ini.
"Langit dan laut dan hal-hal yang tak kita bicarakan
Biar jadi rahasia
Menyublim ke udara
Hirup dan sesak kan jiwa" - Langit dan Laut
Tuesday, December 30, 2014
Alter Ego Sang Supernova KPBJ
Keinginan untuk menulis
sedang getol dalam diri saya akhir-akhir ini. Mungkin karena tidak
adanya libur walaupun ini musim libur. Percayalah ini hanya curhat
sesaat, toh pada dasarnya sampai detik saya menulis rangkaian kata di
tulisan ini, saya belum merasa tertekan apalagi jemu tiap hari
bertemu meja di kantor yang sama.
Terlepas dari libur dan
kecintaan saya pada pagar hitam baru dicat depan salah satu gedung di
Kebayoran Lama ini, saya ingin menuliskan satu hal yang menggelitik
tangan untuk melontarkan apa yang dipendam raga. (Maaf dengan
paragraf yang terlampau panjang, jangan lupa untuk bernafas saat
membacanya. Itu kebiasaan. Buruk.)
Anggaplah saya penikmat
novel biasa. Menghabiskan banyak hari untuk membaca novel. Menikmati
setiap baris kata di dalamnya yang apik. Lalu, dalam masa transisi
dari bacaan teenlit saat SMP dan SMA (Oh, dan saya bukan penikmat
sastra serius pada masa itu, sekarang pun belum rasanya), saya
menemukan buku berjudul “Supernova : Ksatria, Putri dan Bintang
Jatuh” (KPBJ) di awal masa perkuliahan.
Awalnya, buruk. Sebuah
permulaan yang buruk untuk sebuah novel yang jelas bukan pertama kali
saya baca. Sebagai catatan, saya sudah terlebih dahulu menikmati
novel Dee Lestari lainnya, seperti Filosofi Kopi dan Perahu Kertas.
Ternyata buku yang ini berbeda, sangat.
Saya menghabiskan hampir
sebulan. Rekor terlama untuk sebuah novel yang menarik saya dalam
pusarannya. Bukan berarti saya tidak membacanya setiap hari. Bukan
saya membedakannya dengan novel lainnya yang saya baca, tapi hanya
saja, sulit bagi saya memahami setiap kata dan kalimat yang
disajikan.
Lantas saya menyerah?
Tidak. Ketika itu, saya membaca satu halaman bisa menghabiskan waktu
berjam, karena dibaca lagi dan lagi. Asing rasanya berhadapan
langsung dengan banyak kata yang terjait rapi dalam kalimat obrolan
pemerannya. Saya dan google, berteman akrab saat membaca novel itu.
Waktu berlalu, hingga
saat ini, KPBJ mengambil tempat terbesar dalam ingatan saya sebagai
novel yang pantas dibaca. Novel itu mengajarkan saya bahwa fiksi bisa
sebegini indah dan cerdas. Sejak itu, saya belajar banyak, tidak
ingin menulis sesuatu yang dangkal, walaupun proses itu masih
berlanjut dan bergerak tipis.
Hingga di awal bulan ini,
KPBJ hadir dalam medium berbeda. Filmnya rilis di bioskop. Ekspektasi
tidak saya gantung begitu tinggi. Sesuatu yang cerdas lewat kata
kadang tak menemukan perbandingan yang pas dalam bentuk visual.
Sebaliknya pun begitu, rasanya lumrah.
Tapi layaknya seorang
penggemar, ada kekecewaan yang terselip. Tidak besar memang, namun
terasa mengganggu. Kekosongan itu hadir lewat sosok yang saya
agungkan di dalam novelnya. Mungkin bagi setiap pembaca KPBJ,
menyadari hal ini.
Saya hampa melihat sosok
Diva. Entah imajinasi saya yang terlalu mengagungkannya atau memang
ada yang salah dalam pemilihan tokohnya. Tapi yang jelas, Diva tidak
mampu membawa arah dan dampak yang besar seperti apa yang saya
rasakan lewat bukunya.
Bagi saya yang awam, Diva
harusnya sesosok orang yang fasih berbahasa Indonesia. Dia pencerita
dan pusat utama cerita ini mengalir. Dari awal film saja dia sudah
meluluhlantakkan langit studio bioskop KPBJ saya dengan lafalnya yang
mengganggu. Kalimat indah Dee Lestari tidak tersampaikan dengan
sempurna.
Setelah Diva, saya
mempertanyakan di mana Gio? Sosok yang terus berdampingan dengan Diva
hingga Supernova berikutnya. Sekecil itukah perannya sehingga tidak
pantas mendapat ruang di visual? Atau memang KPBJ yang ini ingin
memosisikan diri sebagai suatu yang tunggal, lantas dengan membuang
Gio, KPBJ resmi berdiri sendiri, terlepas dari kawanannya. Saya
bingung.
Selebihnya, saya rasa
tidak pantas mengulang dialog yang indah di baca dan diresapi namun
kaku diucapkan. Penonton disajikan dengan dialog yang tumpah. Belum
lagi pengulangan adegan. Rasanya ingin bilang cukup.
Novel ratusan halaman
punya lebih banyak bagian untuk digambarkan dari hanya sekadar
mengulang adegan sarat cahaya berdansa disamping piano kan. Belum
lagi, perkenalan Diva dan Ferre yang terkesan terburu-buru.
Ah, mungkin memang saya
ditakdirkan untuk membaca, menikmati kata yang menjadi nyala dalam
imajinasi. Daripada menjadi penerima bayangan lewat visual yang
seketika menggelontorkan imajinasi yang sudah terlampau lama
terpendam.
Paling tidak, film ini
mencoba. Tidak ada yang salah dengan mencoba kan. Tidak berhasil bagi
saya bukan berarti lantas film ini tidak berhasil bagi yang lainnya.
Toh pada akhirnya saya menonton khidmat hingga film usia.
Mungkin ada benarnya, apa
yang sudah kamu baca biarlah dilumat habis oleh imajinasi liar,
sedangkan apa yang sudah kamu lihat biarlah tersaji tanpa perlu
disentuh personal. Layaknya seseorang dengan alter egonya, mereka berbeda dan tak pantas disandingkan.
Labels:
Dee Lestari,
Film,
Indonesia,
KPBJ,
Novel,
personal experience,
Supernova
Monday, December 29, 2014
Ketidakpastian Menggelayut di Balik Hilangnya Pesawat Minggu Pagi
Saya
atau kalian atau mereka, kita ada di posisi yang sama. Menggantungkan
asa dan bertanya dalam satu kesempatan yang sama. Ketidakpastian
membuat segalanya runyam, setinggi apapun asa yang digantungkan,
redam oleh kegelisahan yang menggelayut.
Mungkin
posisinya sama dengan nilai tukar EUR terhadap mata uang negara dunia
lainnya saat ini. Ada asa yang digantung agar Samaras, Perdana Menteri Yunani, menang voting
dan Yunani terhindar dari regenerasi bail out
yang dibawa Partai Kiri Yunani, Syriza. Serta kemungkinan percepatan
pemilu nasional Yunani di awal tahun depan. Pasar tidak menyukai arah
kebijakan Syriza, efeknya EUR terkapar.
Begitupun
dengan hilangnya pesawat Air Asia QZ8501, Minggu (28/12) pagi 07.55
lalu. Tidak ada keluarga bahkan seorang pun yang berhati nurani
menyukai kenyataan pesawat tersebut hilang. Dalam setiap kasus
hilangnya pesawat, banyak misteri yang ikut terbawa. Ada
ketidakpastian yang entah kepada siapa harus ditujukan. Sentimen
negatif ketidakpastian, menggerus harapan yang tersisa, pelan-pelan.
Meski
kedua posisi di atas jelas berbeda rasa simpatik dan dampaknya,
intinya satu, ketidakpastian menggelontorkan asa. Memperburuk keadaan
dengan asumsi yang tidak berbatas. Karena tidak seorang pun pantas
menjawab, tidak ada seorang pun yang tahu kebenarannya. Jawaban itu seolah hilang
bersama 155 penumpang dan 7 orang awak pesawat yang terkenang.
Ketidakpastian
menghampiri lewat dugaan dan asumsi. Lewat 2 menit yang terasa
sesaat, 162 orang tidak diketahui keberadaannya, seolah awan
menyimpan mereka rapat, memberikan ketenangan yang tidak mampu
didengar bumi yang kepalang riuh.
2
menit, mungkin setara dengan perjalanan kaki saya setiap pagi,
Stasiun Palmerah – Pasar Palmerah. Perjalanan singkat, terlampau
singkat bahkan mungkin untuk logika menerima, pesawat Airbus A320-200
itu hilang tanpa sempat menitipkan pesan.
Direktur
Safety dan Standard AirNav Indonesia Wisnu Darjono mengungkapkan,
pada pukul 06.12, ATC Bandara Soekarno-Hatta berkomunikasi dengan
pilot AirAsia QZ8501. Dia meminta untuk bergeser ke kiri untuk
menghindari cuaca buruk. Izin itu diberikan dan akhirnya pesawat
bergeser 7 mil dari posisi awal. Namun, kata Wisnu, pilot kembali
meminta mengubah posisinya ke ketinggian 38.000 kaki.
“Saat
kami sampaikan jawaban agar naik ke 34.000 kaki, sudah tidak ada lagi
jawaban sekitar pukul 06.14” - Sumber
: kompas.com, judul “Dua Menit Penuh Tanda Tanya dari AirAsiaQZ8501.
Dari
sekian banyak alasan yang mungkin berizin menyusup masuk ke relung
hati hanya jawaban permainan cuaca yang diluar kendali. Berikut saya
sertakan ragam dugaan dari pakar penerbangan soal spekulasi cuaca
yang mungkin hadir, menyinggahi pesawat Air Asia Surabaya-Singapura
ini :
“Para
pilot berkeyakinan kru (QZ8501) dalam upaya menambah ketinggian untuk
menghindari badai, entah bagaimana menyadari mereka terbang terlalu
lambat," ujar dia. Dengan
kecepatan itu, mereka tertarik ke aerodynamic
stall,
seperti yang terjadi dalam hilangnya Air France AF44 pada 2009,"
lanjut Thomas, seperti dikutip dari AAP.
Prinsip situasinya, papar Thomas, pesawat terbang dengan kecepatan
terlalu lambat di ketinggiannya saat itu, ketika udara terlalu tipis,
sehingga sayap tidak mampu lagi menopangnya. Dan pesawat stall.
Aerodynamic
stall."
-
Sumber : nationalgeographic.co.id dengan judul : PakarPenerbangan: Insiden QZ8501 Mungkin Sama dengan Air France AF447
Analisis
cuaca yang dilakukan oleh Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional
(Lapan) menguatkan dugaan pesawat AirAsia QZ8501 gagal menghindari
awan tebal kumulonimbus yang berada pada rute penerbangannya. Kepala
Lapan, Thomas Djamaluddin, mengungkapkan bahwa adanya dinamika cuaca
yang sangat aktif, adanya awan kumulonimbus, dan terdapatnya pesawat
di ketinggian lebih tinggi menyulitkan QZ8501. Awan
kumulonimbus terbentuk karena adanya penguapan air laut yang hangat
dengan cepat. Awan ini memang tebal, bisa mencapai ribuan kilometer
dan memang sulit dihindari dengan tiba-tiba. Kemungkinan pesawat
mengalami turbulensi hebat karena tidak bisa menghindar dari awan
kumulonimbus yang menjulang tinggi. Pesawat tidak mampu menghindar
walaupun dengan naik ke atas. Belok ke kanan atau ke kiri juga sulit,
akhirnya harus masuk," ungkap Thomas.
- Sumber: nationalgeographic.co.id dengan judul Analisis Lapan Perkuat DugaanQZ8501 Gagal Hindari Awan Kumolonimbus.
Ketiadaan
kode darurat pilot, menurut Yayan, sangat mendukung dugaan pesawat
terjebak dalam kungkungan awan CB. "Itu awan, tapi berat karena
ada butiran es. Bisa merusak instrumen pesawat, dari komunikasi
sampai strukturnya," ujar dia. "Kalau sudah begitu, selain
alat rusak, kemungkinan pilot sudah sangat panik bahkan untuk sekadar
bilang 'Mayday'," tutur dia. Ketiadaan panggilan dan
sinyal darurat dari pesawat, menurut Yayan, menunjukkan pesawat pada
situasi yang sangat berat, dengan kejadian teramat cepat yang merusak
peralatan komunikasi dan kemungkinan pesawat itu sendiri. -
Sumber : nationalgeographic.co.id dengan judul : Analisis Awal :Apakah QZ8501 Terlambat Naikkan Ketinggian?
Mari
untuk sementara, nyatakan kesepahaman dan persetujuan dengan dugaan
yang dilontarkan oleh mereka, para pakar penerbangan. Walau hati tak
selamanya bisa menerima alasan, sekalipun logika mengangguk tanda
setuju, tapi daripada membuka tabir batas ketidakpastian lebih lebar,
biarkan cuaca menjadi kambing hitam untuk saat ini.
Dugaan
lain, padatnya lalu lintas di udara saat ini mengganggu peluang
pesawat milik Air Asia ini untuk bertahan.
Yayan
menyebutkan, ada setidaknya empat pesawat lain yang berdekatan dengan
QZ8501 pada saat itu, yakni Garuda Indonesia berkode penerbangan
GIA602, pesawat Lion Air berkode LNI763, AirAsia berkode penerbangan
QZ502, dan Emirates berkode penerbangan UAE409. Dari
data yang Yayan dapatkan, ketinggian GIA602 adalah 35.000 kaki,
LNI763 38.000 kaki, QZ502 38.000 kaki, dan UAE409 35.000 kaki.
"Kontak terakhir disebut QZ8501 minta menambah ketinggian 6.000
feet dari 32.000 feet.
Kemungkinan pilot langsung menaikkan ketinggian, tidak memutar dulu
misalnya, tetapi tidak terkejar untuk menghindari awan CB.
- Sumber
: nationalgeographic.co.id dengan judul : Analisis Awal : ApakahQZ8501 Terlambat Naikkan Ketinggian?
Jika
memang salah satunya itu, pantas kah dipikirkan kembali kenyataan
bahwa jalur udara Indonesia saat ini sudah terlalu sarat pengendara?
Jadi, kepadatan tidak hanya terjadi di depan mata lewat penuhnya
antrian take
off dan
landing
pesawat
di bandar udara Soekarno Hatta, tapi juga lalu lintas di udara?
Jika
antrian itu mengular di sini, ditambah dengan kenyataan bahwa Air
Asia QZ8501 harus berbagi lintas udara dengan 4 pesawat lainnya
dijalur yang sama, sudah seharusnya perbedaan jam terbang dan
mendarat menjadi pertimbangan yang matang.
Walau
saya tidak memahami mekanisme dan pertimbangan yang diambil, pikiran
itu menggelayut saat membaca berita di atas. Jika di jalan tol
kemacetan bisa dihadapi dengan kontrol yang sederhana dan langsung
antara mobil dan pengendaranya, keadaan di udara jelas berbeda.
Sang
pilot dan kru bukanlah pengambil keputusan mutlak, ada pertimbangan
dan persetujuan dari Air Traffic Control (ATC). Proses pengiriman
informasi jarak jauh yang rentan terhadap pergesekan riskan.
Sementara nyawa dan keselamatan bergantung bersama awan-awan yang
berarak.
Pernah
membayangkan, kalau udara macet seperti jalan tol? Tidak hanya izin
bergerak yang terbatas, tapi arus komunikasi akan padat dan sarat
izin, belum lagi persoalan bahan bakar. Jika mobil bisa bergegas ke
SPBU terdekat, pesawat harus berhenti mengisi avtur di perhentian
selanjutnya.
Terlepas
dari skema cerita soal padatnya lalu lintas udara yang saya
cipta. Tidak
semua lantas menyisipkan dugaan negatif. Masih ada asa yang
senantiasa menggantung, pantas juga tangan ini berpegang erat pada
sisinya,
Mantan
Dirut PT Merpati Nusantara Airlines ini juga mengherankan matinya
alat pemancar yaitu locator beacon. Meski demikian, jelasnya, kabar
ditemukannya pesawat dengan rute Surabaya-Singapura tersebut tetap
harus ditunggu. "Siapa tahu mendarat darurat di daerah yang
remote. Kita mesti jaga terus harapan tersebut," jelasnya. -
Sumber : nationalgeographic.co.id dengan judul, Capt.Jhony : Air Asia
QZ8501 Kemungkinan Mengalami Kecelakaan Fatal
Walau
memang kita hanya mampu berpegangan pada seutas tali yang tipis dan
rapuh. Tak pantas rasanya melepas pegangan itu kala ketidakpastian
masih mengambil peran. Sekecil apapun itu, ada dia yang Maha dan
melebihi segala sesuatunya di dunia ini.
Memanjatkan
doa, senantiasa berikhtiar, sejumput keikhlasan akan membuka jalan.
Mungkin pesawat, awan dan cuacanya sedang menyimpan sesuatu, entah
kita yang belum saatnya tahu atau memang mereka sedang ingin
diikhlaskan. Al-Fatihah.
Labels:
Air Asia,
Air Asia QZ8501,
Airbus,
Indonesia,
Jakarta,
Pesawat Hilang,
Singapura,
Surabaya
Friday, December 5, 2014
Karena Ketika Itu Kalau Saja
Karena saya nggak bisa terus-terusan jadi orang yang menghalangi kamu melangkah ke sana. Karena saya juga tidak punya kemampuan untuk menghapus masa lalu kamu. Karena saya juga tidak pernah minta datang setelah dia.
Ketika saya punya hak lebih, maka jangan pernah bertanya jika memang kamu sudah mengerti. Ketika saya mendengar pertanyaan itu maka saya semakin yakin bahwa kamu memang menginginkannya. Ketika itu saya tau saya hanya orang lain yang datang setelah dia.
Kalau saja ada ruang untuk memilih apa yang akan dijalani hari ini dan esok dan esoknya lagi, saya akan menghapus semua hari yang berkaitan dengan masa lalu. Kalau saja ada hari tanpa masa lalu. Kalau saja saya datang lebih dulu dari dia.
Karena saya tidak ingin terus berkelana jauh mencoba meninggalkan satu titik yang masih kosong. Karena suatu saat kamu dan saya akan berputar kembali ke sana dan tersandung karena lubang itu. Karena saya ada di sana dan bukan dia.
Ketika itu saya tidak ingin meninggalkan kamu dalam lubang itu. Ketika itu saya ingin kita kembali melangkah bersama dan bukannya meninggalkan satu atau yang lainnya dalam keterpurukan. Ketika itu saya sudah di sana bersama kamu sejak lama bukan dia.
Kalau saja ruang itu masih cukup lega, biarkan saja saya mengisinya sampai sesak. Kalau saja kita sudah berhasil melangkah bersama sejauh ini dan cukup, biarkan saja saya terus beriringan bersama kamu. Kalau saja saya yang akan selalu ada di sana dan bukan dia.
-NDN
Subscribe to:
Posts (Atom)
