" Three words I can sum up everything I've learned about life: it goes on. " Robert Frost

Monday, April 27, 2015

Hangat Percakapan dalam Selimut Dingin Hujan

Berjalan kaki dari FX ke Pacific Place sudah lazim saya lalui. Entah untuk menghemat ongkos atau menghemat waktu. Rasanya menikmati waktu sendirian di sela gedung-gedung pencakar langit lebih baik dari menatapnya dari kaca bus. Saya menikmati setiap detiknya. Perasaan bahagia kerap mampir dengan kesendirian di tengah pusat bisnis ibukota.

Sore itu, gerimis menetes, langit mendung, saya terselimuti sejuk yang membahagiakan. Minggu (19/4) sekitar pukul 17.30 sore. Saya membelah gerimis bersama dia. Dalam ketenangan jalanan Jakarta yang lenggang. Angin berhembus membelah celah di antara saya dan dia.

Ingin tahu perasaan saya saat itu? Bahagia. Berkali lipat dari perasaan bahagia yang pernah terlewati. Kenapa? Jawabannya sederhana, dia, hujan dan sore adalah perpaduan yang selalu saya damba. Ibarat obat mujarab yang menyembuhkan segala penyakit.

Selama perjalanan yang lebih kurang 20 menit itu, saya dan dia tak putus bercerita. Lewat banyak kisah, banyak topik dan banyak tawa.  Itu kebiasaan lain yang membuat saya tidak pernah berhenti mengaguminya.

Dia orang yang paling benar untuk diajak berdiskusi. Bukan hanya diskusi santai, tapi juga diskusi dengan urat bertegangan tinggi. Saya dan dia tidak selalu sepaham, tapi kami selalu tau bagaimana menemukan persamaan dari perbedaan yang ada.

Pembicaraan itu tentang poster film terbaru seri The Avengers yang terpampang nyata di bus TransJakarta, berlanjut ke keinginan saya dulu untuk bekerja di SCBD, hingga betapa saya menyukai dia dan jaketnya.

Beranjak bersama waktu dan sampailah dalam perjalanan pulang yang membawa obrolan berubah menjadi serius. Masih tetap memutuskan untuk berjalan kaki. Saya dan dia membahas tentang alterego, mimpi, fasilitas bagi disabilitas di pinggiran Sudirman-Thamrin, kampanye perusahaan akan menghargai manusia (a.k.a pekerjanya) hingga perdebatan akan tren yang menenggelamkan esensi sebuah prinsip pada akhirnya.

Saya enggan menjabarkannya lebih detail di sini. Tapi percaya lah pembicaraan saya dan dia selalu merembet. Dari sederhana menjadi begitu kompleks. Kami, jelas bukan siapa-siapa, pengalaman masih minim apalagi pengetahuan. Hanya obrolan di antara kami yang angkuhnya tidak ingin kami bagi kepada dunia. Sederhananya, agar tidak ada seorang pun yang mengambil ide itu. Originalitas itu hanya milik saya dan dia.

Banyak hal yang gampang mengusik, tinggal bagaimana kita menelaahnya lebih dalam. Selama perjalanan ini saya semakin tahu bahwa keterusikan saya ternyata di alami juga olehnya. Bukannya di dunia ini kita butuh seseorang lain untuk bertukar pikiran? Saya menemukannya dalam kebersamaan dengan dia.

Lewat obrolan yang manis penuh sudut pandang, maka tidak usah heran kenapa saya menikmati 40 menit perjalanan pulang pergi itu. Kehangatan itu menyusup, melewati relung hati dan kepala yang terus berbalas kata. Mengalahkan sore yang sejuk.

Lantas, siapa yang bisa mendustakan nikmat hujan rintik di sore yang mendung pada sebuah percakapan?


Friday, April 17, 2015

Hujan di Rossi Musik

Sore itu mendung menggelayut, tapi tidak lantas menyurutkan langkah gue untuk menyambangi pentas #KitaSamaSamaSuka Hujan. Sederhana, karena sebagai penikmat hujan, kadang sore mendung lebih indah. Debu jalanan yang menampar pun seolah lenyap terganti semilir angin.

Selain karena memang termasuk orang yang menikmati hujan dan tidak mudah menyerah pada payung, gue memang mengidolakan Banda Neira. Kalau saja kalian penasaran kenapa gue memilih menerjang Jakarta di hari Rabu yang sarat kemacetan dan bersiap diguyur hujan.
Setelah bertarung melawan macet Blok M - Fatmawati selama satu jam lebih, akhirnya gue sampai di Rossi Musik. Tiket pun sudah digenggaman, buku acara lantas menjadi daya tarik tersendiri. 

Jujur, sebagai penikmat Banda Neira, gue pun bermodal hafal lagu-lagu mereka saja. Sementara pengisi acara lainnya seperti Gardika Gigih dan Layur beberapa kali namanya mampir ke telinga, sedangkan Suta Suma Pangekshi dan Jeremia Kimoshabe benar-benar sangat asing.

Mungkin layaknya penggemar Banda Neira lainnya, saat menatap Set List gue pun hanya mengenali dua lagu. Jelas, itu lagu Banda Neira yakni Hujan di Mimpi serta Langit dan Laut. Ketiga belas list lagu lainnya benar-benar asing.

Panggung yang tematik dengan gantungan-gantungan awan kapas bertirai hujan buatan membawa semangat akan hujan erat rasanya menyelimuti kami, penonton. Pada tiga lagu awal, semangat itu masih menggebu. Hujan di Mimpi sebagai lagu ketiga yang dibawakan membuat gue melepaskan dahaga untuk bernyanyi bersama puluhan orang lainnya. 

Pentas #KitaSamaSamaSukaHujan Rabu (15/4) Rossi Musik

Sayangnya, setelah itu, selama hampir sejam kemudian, gue hanya bisa hanyut dalam sepi dan sendu. Cengkraman sepi dan sendu rasanya terlalu menghimpit ruangan. Kegelisahan itu ternyata tidak hanya dirasakan oleh gue dan teman-teman, tapi juga Rara Sekar yang disampaikannya secara gamblang dari atas panggung.

Pemikiran sederhana gue, lagu-lagu yang sangat asing dan pembawaan lagu yang memang sangat lambat membuat suasana itu lahir tanpa bisa ditolak. Bukan karena kami penonton lelah atau tidak tertarik, hanya saja rasanya ada tembok pemisah antara kami, penonton yang duduk di bawah dan mereka, penampil yang berdiri di atas panggung sana.

Gue pribadi berusaha mengenyahkan perasaan itu. Mencoba menikmati. Karena sesungguhnya lagu-lagu asing yang mereka bawakan terdengar syahdu hanya saja masih terlampau jauh untuk direngkuh.

Tidak berhenti di sana, usaha Rara Sekar untuk membangun dialog seperti dimentahkan oleh penampil lainnya. Mereka kesulitan untuk berbagi kata dan cerita. Rara pun seperti terlempar ke kanan dan kiri panggung hanya untuk berdiri di tengah dan menjadi penyeimbang.

Kembali ke tujuan awal, untuk menikmati keriaan yang diciptakan atas dasar ketertarikan yang sama terhadap Hujan. Gue pun masih puas.

Saat membawakan lagu Langit dan Laut, Banda Neira

Rasa puas ini ironisnya datang terlalu terlambat. Semangat yang tadinya ada dalam tiga lagu pembuka baru terasa hadir kembali di lagu penutup. Lagu dengan judul Suara Awan itu membawa gue terhanyut dalam musik dan liriknya. Seperti harapan pada saat melangkah masuk ke gedung Rossi Musik diiringi rintik hujan yang mulai menetes di sudut Jakarta Selatan.

Mengherankan memang, Suara Awan sendiri sebenarnya lagu yang termasuk kategori asing. Namun sepertinya para penampil memasukkan seluruh jiwanya ke dalam penampilan mereka saat membawakan lagu ini.

Semangat itu menjalar hingga ke setiap sudut gelap gedung di Jalan Fatmawati itu. Saya menikmatinya hingga nada terakhir. Mengembalikan saya pada saat pertama kali mendengarkan Di Atas Kapal Kertas tahun 2013 silam. Jatuh cinta yang sama, perasaan yang saya harapkan selalu hadir ketika menonton pertunjukan musik Banda Neira.

Malam itu, sepertinya Tuhan mendengar pinta dan mewujudkan harapan itu. Keenam penampil memberikan encore yang meledakkan perasaan gue, membayar setiap kesenduan sejam terakhir dengan DI ATAS KAPAL KERTAS.

Lagu itu, cinta pertama itu, dibawakan dengan begitu indah. Kenapa? Karena kali ini tidak hanya Rara Sekar dan Ananda Badudu yang meluluhkan hati saya tapi juga Gardika Gigih, Layur, Suta Suma Pangekshi dan Jeremia Kimoshabe. 

Kesempatan yang Rara berikan pada setiap penampil untuk unjuk gigi adalah momen yang luar biasa. Orang-orang yang tadinya tidak mendapat spotlight selama acara yang kepalang sendu, justru menutup malam dengan indahnya. 

Penampilan itu berlalu cepat, seperti bintang jatuh yang hanya mengizinkan mata mengintip pandang sekali. Tapi jangan tanya kesan yang tertinggal. Sampai sekarang, perpaduan musik itu masih melayang mesra di dalam relung otak gue. Membuat jatuh cinta ini semakin dalam kepada Banda Neira dan tentunya temuan cinta yang baru teruntuk Gardika Gigih, Layur, Suta Suma Pangekshi dan Jeremia Kimoshabe. 

Mungkin seperti Hujan yang datang mencipta sendu dan kegelisahan akan perjalanan aktivitas hari itu namun berujung suka cita akan sejuk dan mendung yang menenangkan.  Pentas #KitaSamaSamaSukaHujan pun melakukan hal yang sama. Penonton dibalut sendu dan pertanyaan sebelum akhirnya dititipkan kenangan manis berselimut suka yang pantas dikenang.

PS : Bagi yang penasaran sama set listnya ini gue sertakan..

1. Hujan dan Pertemuan
2. Prelude
3. Hujan di Mimpi
4. Tenggelam
5. Suara Awan (Cari, dan coba dengarkan. Ini Indah)
6. Langit dan Laut
7. Dawn
8. Kereta Senja
9. Ocean Whisper
10. Derai-Derai Cemara (Musikalisasi Puisi Chairil Anwar)
11. I'll Take You Home
12. Labuh
13. Beranda
14. Dan Hujan
15. Are You Awake
Encore : Di Atas Kapal Kertas


Saturday, April 11, 2015

Dunia Kadang Terlalu Berisik

Banyak hal yang berlalu namun sebanyak itu pula waktu yang terbuang sia. Bukan karena gue enggan menulis, tapi rasanya keinginan itu perlahan menguap ke udara. Ujungnya, hanya tersisa niat untuk menuliskan apa yang menggelitik hati, membiarkannya perlahan menghilang dalam ingatan. Sebenarnya mungkin nggak langsung hilang begitu saja tapi mood untuk menuliskannya sudah tidak di sana.

Salah satu yang masih terpatri jelas diingatan namun nyawanya sudah lebih dulu melayang adalah kejadian di KRL Palmerah - Rawabuntu yang gue tumpangi. Ketika KRL masuk ke peron jalur 1 Palmerah, gue udah siap di posisi pas bertepatan dengan pintu kedua terdepan dari gerbong KRL. Tiba-tiba seorang Mbak berbaju biru, nampaknya pekerja kantoran, mepet dempet dengan kekuatan tangan yang bisa membuat nyeri lengan orang di sampingnya dan itu gue.

Rasa tidak mau kalah gue terusik. Gue pun tergoda untuk "mengalahkannya". Maka gue berkeras dan enggan memberi jalan. Bagi gue ketika orang itu berjuang secara fair untuk mendapatkan tempat duduk, gue akan dengan senang hati merelakannya, tapi ketika dia mengusik dengan cara ngotot, gue rasa dia salah milih lawan.

Selanjutnya, gue duduk bersebelahan dengan seorang ibu yang terlihat sedang susah baik dari pakaian maupun dari tatapannya yang menerawang. Anak sang ibu yang kerap melamun ini sediikit usil, mengganggu seorang ibu berjilbab disebelah ibunya. Jilbab sang ibu ditarik berkali-kali namun sang ibu memilih diam.

Sang anak enggan berhenti, mungkin karena merasa tidak mendapat tanggapan, anak itu mulai bergerak ke sana ke mari. Tiba-tiba sebuah suara mengejutkan seisi gerbong wanita. Ada suara bentakan yang lantang.

Gue pun menoleh, betapa kagetnya gue ternyata si Mbak berbaju biru yang tadi harus melipir karena perebutan kursi di awal masuk gerbong tadi gue menangkan. Sang Mbak yang egois membentak anak tersebut. Tidak hanya membentak anak perempuan kecil tersebut, si Mbak juga membentak ibu yang melamun itu. Cukup panjang kata-katanya dan suaranya sangat lantang. Membuat segerbong terkesiap dalam sunyi.

Beberapa ibu-ibu tampak terkesima. Gue pun melemparkan pandangan tidak suka. Sang anak keburu menangis, dan sang ibu hanya mampu menenangkan seadanya sebelum kembali melamun.

Singkat cerita mereka berdua (anak dan ibu) hendak turun di stasiun Sudimara. Kala menunggu KRL berhenti dengan sempurna, ada seorang ibu yang duduk persis di sebelah pintu KRL (bersebrangan dengan gue) merogoh sesuatu dari tasnya.

Tidak lama dikeluarkan lah sebuah kantong breadtalk dan ia pun memberikan pada sang anak. Dengan sebuah pesan "Jangan nangis lagi ya nak". Gue dan sang ibu breadtalk pun saling melempar senyum. Sebelum sebuah suara kembali mengusik.

Si Mbak biru nyeletuk "Kalau anak kaya gitu jangan dikasih hati, ibunya juga nggak pake otak, anaknya didiemin aja, Saya sih nggak bisa diem aja kalau ngeliat anak-anak nggak diajarin begitu," dan bla bla bla. Obrolan menjengkelkan itu berlanjut bersama dengan beberapa ibu-ibu yang sama sifatnya, suka ngomongin orang lain di belakang!

Gue pun memutuskan untuk pasang headphone dan menutup mata. Dunia kadang terlalu berisik. Malangnya, suara-suara sumbang itu keluar dari rasa toleransi yang minim. Perasaan angkuh terhadap dirinya sendiri dan selalu menganggap orang lain selalu punya kekurangan dan kesalahan. Memuakkan.

Ironinya, di dunia yang sudah sumpek ini. Keangkuhan dan suara lantang selalu dianggap sesuatu yang hebat dan pantas dibanggakan. Diakui oleh masyarakat sekitar, dianggap perbuatan heroik. Lupa, kalau setiap jengkal bumi ini dibagi bersama, bukan untuk dikuasai perorangan.

Tuesday, March 3, 2015

Sepenggal Halo dan Sebaris Jawaban

Ada sebuah perasaan terasing yang semakin membuncah. Menjadikan kekhawatiran timbul menggunung. Mengaburkan pandangan hingga tak ada lagi warna yang mampu ditangkap mata selain abu.

Ada sebuah kegelisahan yang semakin menggerogoti. Menjadikan keputusasaan merajalela. Mengelabui segala akal yang berbisik.

Bukan perkara ada yang salah dalam perjalanan ini. Hanya saja kesendirian kadang kala mengekang. Menguasai hingga tak lagi mampu menelaah dengan jernih.

Rasanya pekat yang ada menjadikan semua prasangka sebagai jawaban yang absah. Atau mungkin ini hanya sentimen lelah yang juga mengikis kepercayaan diri.

"Halooo??" sepotong suara yang dinanti

Di mana dulu perasaan angkuh yang terpampang nyata. Berteriak lantang menjadikan sosok yang tak gentar akan kesunyian.

Mengapa kini rasanya titik-titik sepi semakin bising. Memekakkan gendang telinga, membuat hati menjadi rusuh.

Bila saja dari sekian ratus orang yang lalu lalang dari terang hingga pekat bersedia berhenti barang semenit. Untuk bertukar sapa atau bertukar canda. Mungkin sunyi bisa tersingkir.

Atau jalan ini sebenarnya salah, seharusnya dulu saya berbelok, tidak membiarkan hati yang angkuh menang. Hingga menyisakan sesal di sudut yang kini senyap.

Bila mana langkah membawa, biarkan kaki terus melangkah. Dalam sendiri atau bersama, dalam sunyi ataupun gegap.

Semakin dalam langkah tersuruk, semakin banyak logika yang berhamburan. Mungkin saja ada akal yang terselip, menyelamatkan raga dan jiwa yang memilih mati suri.

"Ya... Tunggu di sana, aku sedang dalam perjalanan," jawab ku lantang.
- NDN

Saturday, February 7, 2015

Malam Tak Lagi Pekat

Suatu hari lewat langkah kecil yang beriringan 
Terdengar derap yang menggebu
Berusaha mengejar namun tak kunjung bersinggungan
Terasa celah yang melebar 

Harus kah aku menahan langkah untuk bisa sekadar bersitatap
Atau malah memperbesar jarak agar bertemu di ujung sana

Kepada siapa aku harus melemparkan pertanyaan itu
Janggal ini semakin mengganggu 
Namun tak pantas dilayangkan

Jika malam menjemput
Aku masih dalam pelarian yang sama
Tapi kita tak kunjung bersisian

Rasanya bayang sudah melewati aku puluhan kali
Sepi semakin jauh melingkupi
Teriak pun sudah enggan bergema
Karena bisikan semakin tertelan

Ketika kata hati sudah diredam
Mungkin itu isyarat bahwa pelarian sudah semakin jauh
Tidak ada waktu untuk berbalik
Karena matahari di ujung jalan sudah melongok

Meminta aku segera menjemput
Karena malam tak lagi sepekat kemarin
- NDN

Friday, January 16, 2015

Sepotong Banda Neira dalam Sebuah Kisah

"Berjalan lebih jauh
Menyelam lebih dalam
Jelajah semua warna
Bersama, bersama" - Berjalan Lebih Jauh

Sepotong lirik itu menggugah. Menjadikan saya mencandu setiap lagu dan lirik sang pelantun. Tapi cerita kali ini bukan tentang awal ketertarikan itu. 

Ini kisah manis dibalik sampainya CD berlabel Banda Neira menjadi kepemilikan saya hingga hari ini. 

Saat itu, akhir 2013, mulanya saya bercerita kepada seseorang itu, bahwa Banda Neira mencuri hati saya. Link soundcloud itu saya kirimkan, dia pun kerap mendengar macam lagu Banda Neira bersama saya.

Entah apa yang menghipnotis namun rasanya suara Rara Sekar dan Ananda Badudu melekat erat. Pilihan lantunan yang syahdu serta lirik yang menyeret suasana menjadikan Banda Neira lekas terpantri di otak saya.

Kisah kami pun baru bermula, rasa manis itu pekat. Suatu malam, saya dan dia menghabiskan malam di sebuah angkringan, menikmati malam dan ngobrol beragam topik.

Hingga saat saya meninggalkan meja untuk suatu hal, dia meletakkan CD album itu dengan manis tepat di atas meja yang saya tinggalkan.

"Seperti hadirmu di kala gempa
Jujur dan tanpa bersandiwara
Teduhnya seperti hujan di mimpi
Berdua kita berlari" - Hujan di Mimpi

Tidak usah ditanya apa yang bergemuruh di hati kala melihat seonggok apa yang saya cari tersaji. Manis, terlalu manis, bukan hanya karena memang saya sedang mencari album itu tapi karena perhatiannya yang terlampau besar.

Rasanya jika dikisahkan tidak ada kata yang pantas bersanding dengan perasaan itu. Ini perkara sekecil atensi yang terselip, perasaan merasa dimengerti dan dipahami. Seolah membaca pikiran adalah salah satu kelebihannya. Atau memang Banda Neira sudah diletakkan di sana untuk menambah manis yang sudah kami rajut.

Hari itu, album itu, angkringan itu dan tentunya orang itu akan selalu menjadi ingatan yang manis. Semanis lirik-lirik Banda Neira yang saja kagumi. 

Tanpa permintaan, tanpa tergesa dia memilih semuanya dengan tepat. 

Seperti saya memilihnya dengan tepat hingga hari ini.

"Langit dan laut dan hal-hal yang tak kita bicarakan
Biar jadi rahasia
Menyublim ke udara
Hirup dan sesak kan jiwa" - Langit dan Laut


Tuesday, December 30, 2014

Alter Ego Sang Supernova KPBJ

Keinginan untuk menulis sedang getol dalam diri saya akhir-akhir ini. Mungkin karena tidak adanya libur walaupun ini musim libur. Percayalah ini hanya curhat sesaat, toh pada dasarnya sampai detik saya menulis rangkaian kata di tulisan ini, saya belum merasa tertekan apalagi jemu tiap hari bertemu meja di kantor yang sama.

Terlepas dari libur dan kecintaan saya pada pagar hitam baru dicat depan salah satu gedung di Kebayoran Lama ini, saya ingin menuliskan satu hal yang menggelitik tangan untuk melontarkan apa yang dipendam raga. (Maaf dengan paragraf yang terlampau panjang, jangan lupa untuk bernafas saat membacanya. Itu kebiasaan. Buruk.)

Anggaplah saya penikmat novel biasa. Menghabiskan banyak hari untuk membaca novel. Menikmati setiap baris kata di dalamnya yang apik. Lalu, dalam masa transisi dari bacaan teenlit saat SMP dan SMA (Oh, dan saya bukan penikmat sastra serius pada masa itu, sekarang pun belum rasanya), saya menemukan buku berjudul “Supernova : Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh” (KPBJ) di awal masa perkuliahan.

Awalnya, buruk. Sebuah permulaan yang buruk untuk sebuah novel yang jelas bukan pertama kali saya baca. Sebagai catatan, saya sudah terlebih dahulu menikmati novel Dee Lestari lainnya, seperti Filosofi Kopi dan Perahu Kertas. Ternyata buku yang ini berbeda, sangat.

Saya menghabiskan hampir sebulan. Rekor terlama untuk sebuah novel yang menarik saya dalam pusarannya. Bukan berarti saya tidak membacanya setiap hari. Bukan saya membedakannya dengan novel lainnya yang saya baca, tapi hanya saja, sulit bagi saya memahami setiap kata dan kalimat yang disajikan.

Lantas saya menyerah? Tidak. Ketika itu, saya membaca satu halaman bisa menghabiskan waktu berjam, karena dibaca lagi dan lagi. Asing rasanya berhadapan langsung dengan banyak kata yang terjait rapi dalam kalimat obrolan pemerannya. Saya dan google, berteman akrab saat membaca novel itu.

Waktu berlalu, hingga saat ini, KPBJ mengambil tempat terbesar dalam ingatan saya sebagai novel yang pantas dibaca. Novel itu mengajarkan saya bahwa fiksi bisa sebegini indah dan cerdas. Sejak itu, saya belajar banyak, tidak ingin menulis sesuatu yang dangkal, walaupun proses itu masih berlanjut dan bergerak tipis.

Hingga di awal bulan ini, KPBJ hadir dalam medium berbeda. Filmnya rilis di bioskop. Ekspektasi tidak saya gantung begitu tinggi. Sesuatu yang cerdas lewat kata kadang tak menemukan perbandingan yang pas dalam bentuk visual. Sebaliknya pun begitu, rasanya lumrah.

Tapi layaknya seorang penggemar, ada kekecewaan yang terselip. Tidak besar memang, namun terasa mengganggu. Kekosongan itu hadir lewat sosok yang saya agungkan di dalam novelnya. Mungkin bagi setiap pembaca KPBJ, menyadari hal ini.

Saya hampa melihat sosok Diva. Entah imajinasi saya yang terlalu mengagungkannya atau memang ada yang salah dalam pemilihan tokohnya. Tapi yang jelas, Diva tidak mampu membawa arah dan dampak yang besar seperti apa yang saya rasakan lewat bukunya.

Bagi saya yang awam, Diva harusnya sesosok orang yang fasih berbahasa Indonesia. Dia pencerita dan pusat utama cerita ini mengalir. Dari awal film saja dia sudah meluluhlantakkan langit studio bioskop KPBJ saya dengan lafalnya yang mengganggu. Kalimat indah Dee Lestari tidak tersampaikan dengan sempurna.

Setelah Diva, saya mempertanyakan di mana Gio? Sosok yang terus berdampingan dengan Diva hingga Supernova berikutnya. Sekecil itukah perannya sehingga tidak pantas mendapat ruang di visual? Atau memang KPBJ yang ini ingin memosisikan diri sebagai suatu yang tunggal, lantas dengan membuang Gio, KPBJ resmi berdiri sendiri, terlepas dari kawanannya. Saya bingung.

Selebihnya, saya rasa tidak pantas mengulang dialog yang indah di baca dan diresapi namun kaku diucapkan. Penonton disajikan dengan dialog yang tumpah. Belum lagi pengulangan adegan. Rasanya ingin bilang cukup.

Novel ratusan halaman punya lebih banyak bagian untuk digambarkan dari hanya sekadar mengulang adegan sarat cahaya berdansa disamping piano kan. Belum lagi, perkenalan Diva dan Ferre yang terkesan terburu-buru.

Ah, mungkin memang saya ditakdirkan untuk membaca, menikmati kata yang menjadi nyala dalam imajinasi. Daripada menjadi penerima bayangan lewat visual yang seketika menggelontorkan imajinasi yang sudah terlampau lama terpendam.

Paling tidak, film ini mencoba. Tidak ada yang salah dengan mencoba kan. Tidak berhasil bagi saya bukan berarti lantas film ini tidak berhasil bagi yang lainnya. Toh pada akhirnya saya menonton khidmat hingga film usia.


Mungkin ada benarnya, apa yang sudah kamu baca biarlah dilumat habis oleh imajinasi liar, sedangkan apa yang sudah kamu lihat biarlah tersaji tanpa perlu disentuh personal. Layaknya seseorang dengan alter egonya, mereka berbeda dan tak pantas disandingkan.