" Three words I can sum up everything I've learned about life: it goes on. " Robert Frost

Friday, May 8, 2015

Jakarta Itu Keras, Apalagi KRL-nya

Cerita ini muncul kala saya sedang dalam sebuah perjalanan menuju kantor. Tentunya cerita ini muncul di KRL, moda transportasi utama untuk mencapai kantor sehari-harinya. Siapa pun, mungkin bukan hanya saya, pengguna KRL lainnya paham benar akan banyaknya kisah yang terlihat nyata dalam perjalanan singkat itu.

Kali ini suatu kesadaran untuk tidak bersikap serakah mengetuk pemandangan mata saya, siang itu.

KRL sedang berhenti di stasiun Sudimara, bagi kalian yang menumpang KRL jurusan Maja-Tn Abang pasti paham benar, Sudimara merupakan pusat keramaian. Penumpang menumpuk di sana, maka tidak ayal, gerbong perempuan yang kosong mendadak sempit jika Sudimara menjadi perhentian.

Berbondong-bondong perempuan "super" masuk ke gerbong. Saya menyebutnya super karena rasanya sulit menemukan kata ganti untuk menggambarkan keteguhan dan ketangguhan perempuan di gerbong khusus wanita KRL. Cobalah sendiri dan rasakan!

Kembali ke cerita, tempat duduk barisan saya sudah diisi oleh 6 perempuan. Artinya, secara kemanusiaan, hanya tersisa satu tempat untuk satu perempuan lagi. Tapi nyatanya, perempuan "super" tidak pernah berhenti berjuang.

Maka, seorang perempuan mendesak masuk di celah sempit di kursi yang kini sudah diduduki oleh 7 orang perempuan. Iya, dia memilih merengsek masuk di antara saya dan seorang ibu. Saya dan ibu itu pun memisah, memberi ruang seadanya. Seperti yang bisa kalian bayangkan, dia hanya punya ruang kecil untuk sekadar duduk kecil dengan daya tumpu yang pasti besar di kaki. Percayalah, duduk seperti itu hanya akan membuat lelah daripada nikmat.

Tidak lama, KRL melanjutkan perjalanan. Berselang waktu, si mbak mulai kewalahan menahan beban tubuhnya (mungkin kakinya pegal) tapi saya enggan peduli. Itu risiko dari pilihannya. Ia terus bergerak merengsek masuk, mungkin berharap celah yang ironisnya tidak ada.

Nyatanya, tindakan itu tidak hanya meresahkan saya, tapi juga si ibu di sebelah saya tadi. Hingga akhirnya si ibu memilih untuk meninggalkan kursinya dan berdiri di sisi pintu. Itu menyebalkan, saya bukan pembela kebenaran, tapi etikanya si mbak lah yang harus sadar diri.

Belum berhenti di sana, si mbak pun mengeluarkan suara "nah gitu dong". Seketika saya menoleh, tentunya bukan saya yang melemparkan pandangan tidak suka, tapi juga beberapa orang di hadapan dan di sekitar si mbak.

Tidak kah kita sebagai manusia dititipkan hati nurani dan akal pikiran untuk mendulang segala tindakan yang kita lakukan? Bagi saya, bukan si ibu yang harus beringsut tapi si mbak. 

Sayangnya, perempuan-perempuan KRL cenderung buta pikiran dan hati. Hal yang saya takutkan melingkupi saya suatu hari nanti (semoga tidak). Saya paham akan upaya diri untuk mendapatkan yang terbaik, tapi bukan berarti menyikut orang lain untuk itu adalah hal yang sah.

Jika, untuk hal sekecil itu pun kita sudah buta, lalu bagaimana dengan hal lainnya di dunia ini? Nurani kita semakin terkikis, kesadaran hidup bermasyarakat semakin tergerus. Hanya satu cara untuk menjadi normal, berkaca dan terus berkaca. 

Saya setiap harinya berusaha untuk terus berkaca kepada mereka yang egois. Menjadikan kesalahan tersebut untuk tidak melakukan hal yang sama. Jika kita berharap yang terbaik bagi kita, begitu pun orang lain. Jika tempat itu sudah menjadi rezeki kita, dia tidak akan pernah berlari. 

Jakarta itu keras, apalagi KRL-nya. 

Wednesday, April 29, 2015

Sebuah Perjalan Menjadi Penari

SELAMAT HARI TARI DUNIA, wahai para penari di seluruh pelosok bumi.
Layaknya sebuah perayaan lainnya yang pernah terlalui, saya ingin sedikit berkisah tentang keseharian saya yang kerap beririsan dengan dunia tari. 

Sejak mengenyam pendidikan di taman kanak-kanak saya aktif berpartisipasi dalam kegiatan menari. Dulunya hanya iseng, sembari mengisi waktu anak-anak saya. Jelas tarian yang dibawakan pun hanya tari-tari sederhana untuk memeriahkan panggung hiburan sekolah.

Beranjak pada masa sekolah dasar saya masih mengikuti ekstrakulikuler menari. Saya ingat persis tarian itu bernama Tari Piring yang dibawakan dengan piring kertas dalam balutan gerakan yang sederhana. Oh selain itu saya juga pernah membawakan Tari Lilin dan Tari Dindin Badindin. Sebagian besar masa kecil saya memang dihabiskan di Medan, Sumatera Utara jadi tidak usah heran list tarian yang mengisi hari-hari saya adalah tarian-tarian Sumatera.

Selepas itu, saya memasuki masa di mana modern dance sedang hits. Saya pun beralih, mengikuti beberapa teman untuk mencoba-coba membuat gerakan dan menampilkan modern dance tersebut dalam sebuah pentas seni siswa SMP. 

Nyatanya, hati ini enggan berpihak. Ada perasaan yang hilang. Sederhananya, saya tidak merasa menjadi diri sendiri dengan menarikan gerakan modern tersebut. Musiknya yang melantun tidak membuat saya tergerak untuk menari.

Masuk SMA, saya aktif di ekskul tari Jawa. Selain itu kesempatan besar datang ketika saya kelas dua. Sekolah memutuskan berpartisipasi dalam acara penurunan bendera Merah Putih pada Hari Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 2008 lampau. Ternyata partisipasi pada kegiatan itu membuka jalan saya untuk menari tari tradisional lagi.



Selepas dari acara itu, saya diajak bergabung pada sebuah sanggar tari besutan mantan penari Swara Mahardika yang tersohor. Saya pun bergabung dengan Swara Mahardika Muda. Lewat latihan yang rutin saya berangkat mengikuti misi budaya ke Prancis dan Swiss pada 2010. 



Langkah kaki tidak berhenti di sana, tiga orang teman saya membentuk Kultura Indonesia Star Society pada 2012. Saya pun memutuskan untuk bergabung. Hasilnya latihan rutin membuahkan kesempatan misi budaya ke Turki pada tahun 2013.

Hingga beberapa bulan yang lalu saya masih aktif menari. Tentunya tari tradisional Indonesia. Belasan tarian pernah saya tarikan, mulai dari Sumatera hingga Papua. Perasaan cinta itu semakin besar, kebanggan itu masih menggunung.

Tidak ada alasan untuk berhenti sebenarnya, hanya saja waktu masih memilih untuk menenggelamkan saya dengan kegiatan lain. Bukan suatu halangan, dalam perjalanannya saya sudah melalui perjalanan timbul tenggelam ini sebelumnya.

Sebut saja itu proses. Bagian menjadi seorang penari yang punya kewajiban. Saya masih dan akan dengan bangga menyebut diri saya penari. Entah kini atau nanti. Tidak ada yang berubah. Semangat dan kecintaan itu masih mengalir sama derasnya. 

Salah satu pelajaran yang paling kuat menempel dalam ingatan saya adalah "Seorang penari tahu betul akan keselarasan. Dia belajar menyesuaikan diri dengan musik dan sekitarnya. Menjadi seorang penari selalu mampu menanggalkan keegoisannya. Karena ia harus selalu selaras dalam Wiraga, Wirasa dan Wirama," 

Pelajaran itu menempel kuat. Membuat saya enggan dibenam waktu. Meski sedang pasif menari, saya aktif menulis tentang tarian dan kegiatan tari yang dilaksanakan oleh sanggar - sanggar tari di sekitar Jakarta.

Saya menggagas berdirinya Ketik Tari. Dalam perjalanannya saya mengajak serta empat orang terpercaya (Emir, Erika, Ninda dan Caya) untuk mengembangkan Ketik Tari hingga sampai di titik ini. Harapannya, Ketik Tari mampu menjadi medium bagi sanggar-sanggar tari dan tari tradisional untuk mendapatkan tempat di masyarakat. Tentunya ini sebagai bentuk apresiasi kami terhadap seni tari tradisional Indonesia.

Oh, tidak lupa, sebelum memutuskan mendirikan Ketik Tari, saya pernah menulis novel tentang tari. Novel fiksi ini menyelipkan filosofi-filosofi tarian tradisional Indonesia dalam ceritanya. Dengan judul "Dalam Liku RASA Ku Temukan Gerak Indah Kehidupan", novel ini diterbitkan oleh PT Gramedia Widiasarana Indonesia (GRASINDO) pada 20 Oktober 2013 silam.

Perjalanan saya masih panjang, lenggang ini masih akan terus mengayuh. Melempar selendang sebagai jala pada setiap peluang yang terlalui. Masih banyak ilmu tari yang akan saya gapai. Ragam cara bisa dilakukan untuk mengapresiasi budaya tradisional Indonesia khusunya tarian. Maka saya masih jauh dari kata berhenti.

Teruntuk Penari-Penari di luar sana,
Berbanggalah atas kesempatan menjadi seorang penari. Kesempatan itu tidak datang dengan mudah, tapi lewat peluh yang menetes dan semangat yang membara. Terus lah menyebar cinta lewat tarian. Dalam lenggang gerak dan alunan musik yang mengalun itulah sebuah budaya tersebar dari generasi ke generasi. Lewat semangat dan tekad kita lah, sebuah budaya mendapat ruangnya di masyarakat. 

Sekali lagi, Selamat Hari Tari Dunia. Happy World Dance Day, Dancers!! :)

Monday, April 27, 2015

Hangat Percakapan dalam Selimut Dingin Hujan

Berjalan kaki dari FX ke Pacific Place sudah lazim saya lalui. Entah untuk menghemat ongkos atau menghemat waktu. Rasanya menikmati waktu sendirian di sela gedung-gedung pencakar langit lebih baik dari menatapnya dari kaca bus. Saya menikmati setiap detiknya. Perasaan bahagia kerap mampir dengan kesendirian di tengah pusat bisnis ibukota.

Sore itu, gerimis menetes, langit mendung, saya terselimuti sejuk yang membahagiakan. Minggu (19/4) sekitar pukul 17.30 sore. Saya membelah gerimis bersama dia. Dalam ketenangan jalanan Jakarta yang lenggang. Angin berhembus membelah celah di antara saya dan dia.

Ingin tahu perasaan saya saat itu? Bahagia. Berkali lipat dari perasaan bahagia yang pernah terlewati. Kenapa? Jawabannya sederhana, dia, hujan dan sore adalah perpaduan yang selalu saya damba. Ibarat obat mujarab yang menyembuhkan segala penyakit.

Selama perjalanan yang lebih kurang 20 menit itu, saya dan dia tak putus bercerita. Lewat banyak kisah, banyak topik dan banyak tawa.  Itu kebiasaan lain yang membuat saya tidak pernah berhenti mengaguminya.

Dia orang yang paling benar untuk diajak berdiskusi. Bukan hanya diskusi santai, tapi juga diskusi dengan urat bertegangan tinggi. Saya dan dia tidak selalu sepaham, tapi kami selalu tau bagaimana menemukan persamaan dari perbedaan yang ada.

Pembicaraan itu tentang poster film terbaru seri The Avengers yang terpampang nyata di bus TransJakarta, berlanjut ke keinginan saya dulu untuk bekerja di SCBD, hingga betapa saya menyukai dia dan jaketnya.

Beranjak bersama waktu dan sampailah dalam perjalanan pulang yang membawa obrolan berubah menjadi serius. Masih tetap memutuskan untuk berjalan kaki. Saya dan dia membahas tentang alterego, mimpi, fasilitas bagi disabilitas di pinggiran Sudirman-Thamrin, kampanye perusahaan akan menghargai manusia (a.k.a pekerjanya) hingga perdebatan akan tren yang menenggelamkan esensi sebuah prinsip pada akhirnya.

Saya enggan menjabarkannya lebih detail di sini. Tapi percaya lah pembicaraan saya dan dia selalu merembet. Dari sederhana menjadi begitu kompleks. Kami, jelas bukan siapa-siapa, pengalaman masih minim apalagi pengetahuan. Hanya obrolan di antara kami yang angkuhnya tidak ingin kami bagi kepada dunia. Sederhananya, agar tidak ada seorang pun yang mengambil ide itu. Originalitas itu hanya milik saya dan dia.

Banyak hal yang gampang mengusik, tinggal bagaimana kita menelaahnya lebih dalam. Selama perjalanan ini saya semakin tahu bahwa keterusikan saya ternyata di alami juga olehnya. Bukannya di dunia ini kita butuh seseorang lain untuk bertukar pikiran? Saya menemukannya dalam kebersamaan dengan dia.

Lewat obrolan yang manis penuh sudut pandang, maka tidak usah heran kenapa saya menikmati 40 menit perjalanan pulang pergi itu. Kehangatan itu menyusup, melewati relung hati dan kepala yang terus berbalas kata. Mengalahkan sore yang sejuk.

Lantas, siapa yang bisa mendustakan nikmat hujan rintik di sore yang mendung pada sebuah percakapan?


Friday, April 17, 2015

Hujan di Rossi Musik

Sore itu mendung menggelayut, tapi tidak lantas menyurutkan langkah gue untuk menyambangi pentas #KitaSamaSamaSuka Hujan. Sederhana, karena sebagai penikmat hujan, kadang sore mendung lebih indah. Debu jalanan yang menampar pun seolah lenyap terganti semilir angin.

Selain karena memang termasuk orang yang menikmati hujan dan tidak mudah menyerah pada payung, gue memang mengidolakan Banda Neira. Kalau saja kalian penasaran kenapa gue memilih menerjang Jakarta di hari Rabu yang sarat kemacetan dan bersiap diguyur hujan.
Setelah bertarung melawan macet Blok M - Fatmawati selama satu jam lebih, akhirnya gue sampai di Rossi Musik. Tiket pun sudah digenggaman, buku acara lantas menjadi daya tarik tersendiri. 

Jujur, sebagai penikmat Banda Neira, gue pun bermodal hafal lagu-lagu mereka saja. Sementara pengisi acara lainnya seperti Gardika Gigih dan Layur beberapa kali namanya mampir ke telinga, sedangkan Suta Suma Pangekshi dan Jeremia Kimoshabe benar-benar sangat asing.

Mungkin layaknya penggemar Banda Neira lainnya, saat menatap Set List gue pun hanya mengenali dua lagu. Jelas, itu lagu Banda Neira yakni Hujan di Mimpi serta Langit dan Laut. Ketiga belas list lagu lainnya benar-benar asing.

Panggung yang tematik dengan gantungan-gantungan awan kapas bertirai hujan buatan membawa semangat akan hujan erat rasanya menyelimuti kami, penonton. Pada tiga lagu awal, semangat itu masih menggebu. Hujan di Mimpi sebagai lagu ketiga yang dibawakan membuat gue melepaskan dahaga untuk bernyanyi bersama puluhan orang lainnya. 

Pentas #KitaSamaSamaSukaHujan Rabu (15/4) Rossi Musik

Sayangnya, setelah itu, selama hampir sejam kemudian, gue hanya bisa hanyut dalam sepi dan sendu. Cengkraman sepi dan sendu rasanya terlalu menghimpit ruangan. Kegelisahan itu ternyata tidak hanya dirasakan oleh gue dan teman-teman, tapi juga Rara Sekar yang disampaikannya secara gamblang dari atas panggung.

Pemikiran sederhana gue, lagu-lagu yang sangat asing dan pembawaan lagu yang memang sangat lambat membuat suasana itu lahir tanpa bisa ditolak. Bukan karena kami penonton lelah atau tidak tertarik, hanya saja rasanya ada tembok pemisah antara kami, penonton yang duduk di bawah dan mereka, penampil yang berdiri di atas panggung sana.

Gue pribadi berusaha mengenyahkan perasaan itu. Mencoba menikmati. Karena sesungguhnya lagu-lagu asing yang mereka bawakan terdengar syahdu hanya saja masih terlampau jauh untuk direngkuh.

Tidak berhenti di sana, usaha Rara Sekar untuk membangun dialog seperti dimentahkan oleh penampil lainnya. Mereka kesulitan untuk berbagi kata dan cerita. Rara pun seperti terlempar ke kanan dan kiri panggung hanya untuk berdiri di tengah dan menjadi penyeimbang.

Kembali ke tujuan awal, untuk menikmati keriaan yang diciptakan atas dasar ketertarikan yang sama terhadap Hujan. Gue pun masih puas.

Saat membawakan lagu Langit dan Laut, Banda Neira

Rasa puas ini ironisnya datang terlalu terlambat. Semangat yang tadinya ada dalam tiga lagu pembuka baru terasa hadir kembali di lagu penutup. Lagu dengan judul Suara Awan itu membawa gue terhanyut dalam musik dan liriknya. Seperti harapan pada saat melangkah masuk ke gedung Rossi Musik diiringi rintik hujan yang mulai menetes di sudut Jakarta Selatan.

Mengherankan memang, Suara Awan sendiri sebenarnya lagu yang termasuk kategori asing. Namun sepertinya para penampil memasukkan seluruh jiwanya ke dalam penampilan mereka saat membawakan lagu ini.

Semangat itu menjalar hingga ke setiap sudut gelap gedung di Jalan Fatmawati itu. Saya menikmatinya hingga nada terakhir. Mengembalikan saya pada saat pertama kali mendengarkan Di Atas Kapal Kertas tahun 2013 silam. Jatuh cinta yang sama, perasaan yang saya harapkan selalu hadir ketika menonton pertunjukan musik Banda Neira.

Malam itu, sepertinya Tuhan mendengar pinta dan mewujudkan harapan itu. Keenam penampil memberikan encore yang meledakkan perasaan gue, membayar setiap kesenduan sejam terakhir dengan DI ATAS KAPAL KERTAS.

Lagu itu, cinta pertama itu, dibawakan dengan begitu indah. Kenapa? Karena kali ini tidak hanya Rara Sekar dan Ananda Badudu yang meluluhkan hati saya tapi juga Gardika Gigih, Layur, Suta Suma Pangekshi dan Jeremia Kimoshabe. 

Kesempatan yang Rara berikan pada setiap penampil untuk unjuk gigi adalah momen yang luar biasa. Orang-orang yang tadinya tidak mendapat spotlight selama acara yang kepalang sendu, justru menutup malam dengan indahnya. 

Penampilan itu berlalu cepat, seperti bintang jatuh yang hanya mengizinkan mata mengintip pandang sekali. Tapi jangan tanya kesan yang tertinggal. Sampai sekarang, perpaduan musik itu masih melayang mesra di dalam relung otak gue. Membuat jatuh cinta ini semakin dalam kepada Banda Neira dan tentunya temuan cinta yang baru teruntuk Gardika Gigih, Layur, Suta Suma Pangekshi dan Jeremia Kimoshabe. 

Mungkin seperti Hujan yang datang mencipta sendu dan kegelisahan akan perjalanan aktivitas hari itu namun berujung suka cita akan sejuk dan mendung yang menenangkan.  Pentas #KitaSamaSamaSukaHujan pun melakukan hal yang sama. Penonton dibalut sendu dan pertanyaan sebelum akhirnya dititipkan kenangan manis berselimut suka yang pantas dikenang.

PS : Bagi yang penasaran sama set listnya ini gue sertakan..

1. Hujan dan Pertemuan
2. Prelude
3. Hujan di Mimpi
4. Tenggelam
5. Suara Awan (Cari, dan coba dengarkan. Ini Indah)
6. Langit dan Laut
7. Dawn
8. Kereta Senja
9. Ocean Whisper
10. Derai-Derai Cemara (Musikalisasi Puisi Chairil Anwar)
11. I'll Take You Home
12. Labuh
13. Beranda
14. Dan Hujan
15. Are You Awake
Encore : Di Atas Kapal Kertas


Saturday, April 11, 2015

Dunia Kadang Terlalu Berisik

Banyak hal yang berlalu namun sebanyak itu pula waktu yang terbuang sia. Bukan karena gue enggan menulis, tapi rasanya keinginan itu perlahan menguap ke udara. Ujungnya, hanya tersisa niat untuk menuliskan apa yang menggelitik hati, membiarkannya perlahan menghilang dalam ingatan. Sebenarnya mungkin nggak langsung hilang begitu saja tapi mood untuk menuliskannya sudah tidak di sana.

Salah satu yang masih terpatri jelas diingatan namun nyawanya sudah lebih dulu melayang adalah kejadian di KRL Palmerah - Rawabuntu yang gue tumpangi. Ketika KRL masuk ke peron jalur 1 Palmerah, gue udah siap di posisi pas bertepatan dengan pintu kedua terdepan dari gerbong KRL. Tiba-tiba seorang Mbak berbaju biru, nampaknya pekerja kantoran, mepet dempet dengan kekuatan tangan yang bisa membuat nyeri lengan orang di sampingnya dan itu gue.

Rasa tidak mau kalah gue terusik. Gue pun tergoda untuk "mengalahkannya". Maka gue berkeras dan enggan memberi jalan. Bagi gue ketika orang itu berjuang secara fair untuk mendapatkan tempat duduk, gue akan dengan senang hati merelakannya, tapi ketika dia mengusik dengan cara ngotot, gue rasa dia salah milih lawan.

Selanjutnya, gue duduk bersebelahan dengan seorang ibu yang terlihat sedang susah baik dari pakaian maupun dari tatapannya yang menerawang. Anak sang ibu yang kerap melamun ini sediikit usil, mengganggu seorang ibu berjilbab disebelah ibunya. Jilbab sang ibu ditarik berkali-kali namun sang ibu memilih diam.

Sang anak enggan berhenti, mungkin karena merasa tidak mendapat tanggapan, anak itu mulai bergerak ke sana ke mari. Tiba-tiba sebuah suara mengejutkan seisi gerbong wanita. Ada suara bentakan yang lantang.

Gue pun menoleh, betapa kagetnya gue ternyata si Mbak berbaju biru yang tadi harus melipir karena perebutan kursi di awal masuk gerbong tadi gue menangkan. Sang Mbak yang egois membentak anak tersebut. Tidak hanya membentak anak perempuan kecil tersebut, si Mbak juga membentak ibu yang melamun itu. Cukup panjang kata-katanya dan suaranya sangat lantang. Membuat segerbong terkesiap dalam sunyi.

Beberapa ibu-ibu tampak terkesima. Gue pun melemparkan pandangan tidak suka. Sang anak keburu menangis, dan sang ibu hanya mampu menenangkan seadanya sebelum kembali melamun.

Singkat cerita mereka berdua (anak dan ibu) hendak turun di stasiun Sudimara. Kala menunggu KRL berhenti dengan sempurna, ada seorang ibu yang duduk persis di sebelah pintu KRL (bersebrangan dengan gue) merogoh sesuatu dari tasnya.

Tidak lama dikeluarkan lah sebuah kantong breadtalk dan ia pun memberikan pada sang anak. Dengan sebuah pesan "Jangan nangis lagi ya nak". Gue dan sang ibu breadtalk pun saling melempar senyum. Sebelum sebuah suara kembali mengusik.

Si Mbak biru nyeletuk "Kalau anak kaya gitu jangan dikasih hati, ibunya juga nggak pake otak, anaknya didiemin aja, Saya sih nggak bisa diem aja kalau ngeliat anak-anak nggak diajarin begitu," dan bla bla bla. Obrolan menjengkelkan itu berlanjut bersama dengan beberapa ibu-ibu yang sama sifatnya, suka ngomongin orang lain di belakang!

Gue pun memutuskan untuk pasang headphone dan menutup mata. Dunia kadang terlalu berisik. Malangnya, suara-suara sumbang itu keluar dari rasa toleransi yang minim. Perasaan angkuh terhadap dirinya sendiri dan selalu menganggap orang lain selalu punya kekurangan dan kesalahan. Memuakkan.

Ironinya, di dunia yang sudah sumpek ini. Keangkuhan dan suara lantang selalu dianggap sesuatu yang hebat dan pantas dibanggakan. Diakui oleh masyarakat sekitar, dianggap perbuatan heroik. Lupa, kalau setiap jengkal bumi ini dibagi bersama, bukan untuk dikuasai perorangan.

Tuesday, March 3, 2015

Sepenggal Halo dan Sebaris Jawaban

Ada sebuah perasaan terasing yang semakin membuncah. Menjadikan kekhawatiran timbul menggunung. Mengaburkan pandangan hingga tak ada lagi warna yang mampu ditangkap mata selain abu.

Ada sebuah kegelisahan yang semakin menggerogoti. Menjadikan keputusasaan merajalela. Mengelabui segala akal yang berbisik.

Bukan perkara ada yang salah dalam perjalanan ini. Hanya saja kesendirian kadang kala mengekang. Menguasai hingga tak lagi mampu menelaah dengan jernih.

Rasanya pekat yang ada menjadikan semua prasangka sebagai jawaban yang absah. Atau mungkin ini hanya sentimen lelah yang juga mengikis kepercayaan diri.

"Halooo??" sepotong suara yang dinanti

Di mana dulu perasaan angkuh yang terpampang nyata. Berteriak lantang menjadikan sosok yang tak gentar akan kesunyian.

Mengapa kini rasanya titik-titik sepi semakin bising. Memekakkan gendang telinga, membuat hati menjadi rusuh.

Bila saja dari sekian ratus orang yang lalu lalang dari terang hingga pekat bersedia berhenti barang semenit. Untuk bertukar sapa atau bertukar canda. Mungkin sunyi bisa tersingkir.

Atau jalan ini sebenarnya salah, seharusnya dulu saya berbelok, tidak membiarkan hati yang angkuh menang. Hingga menyisakan sesal di sudut yang kini senyap.

Bila mana langkah membawa, biarkan kaki terus melangkah. Dalam sendiri atau bersama, dalam sunyi ataupun gegap.

Semakin dalam langkah tersuruk, semakin banyak logika yang berhamburan. Mungkin saja ada akal yang terselip, menyelamatkan raga dan jiwa yang memilih mati suri.

"Ya... Tunggu di sana, aku sedang dalam perjalanan," jawab ku lantang.
- NDN

Saturday, February 7, 2015

Malam Tak Lagi Pekat

Suatu hari lewat langkah kecil yang beriringan 
Terdengar derap yang menggebu
Berusaha mengejar namun tak kunjung bersinggungan
Terasa celah yang melebar 

Harus kah aku menahan langkah untuk bisa sekadar bersitatap
Atau malah memperbesar jarak agar bertemu di ujung sana

Kepada siapa aku harus melemparkan pertanyaan itu
Janggal ini semakin mengganggu 
Namun tak pantas dilayangkan

Jika malam menjemput
Aku masih dalam pelarian yang sama
Tapi kita tak kunjung bersisian

Rasanya bayang sudah melewati aku puluhan kali
Sepi semakin jauh melingkupi
Teriak pun sudah enggan bergema
Karena bisikan semakin tertelan

Ketika kata hati sudah diredam
Mungkin itu isyarat bahwa pelarian sudah semakin jauh
Tidak ada waktu untuk berbalik
Karena matahari di ujung jalan sudah melongok

Meminta aku segera menjemput
Karena malam tak lagi sepekat kemarin
- NDN

Friday, January 16, 2015

Sepotong Banda Neira dalam Sebuah Kisah

"Berjalan lebih jauh
Menyelam lebih dalam
Jelajah semua warna
Bersama, bersama" - Berjalan Lebih Jauh

Sepotong lirik itu menggugah. Menjadikan saya mencandu setiap lagu dan lirik sang pelantun. Tapi cerita kali ini bukan tentang awal ketertarikan itu. 

Ini kisah manis dibalik sampainya CD berlabel Banda Neira menjadi kepemilikan saya hingga hari ini. 

Saat itu, akhir 2013, mulanya saya bercerita kepada seseorang itu, bahwa Banda Neira mencuri hati saya. Link soundcloud itu saya kirimkan, dia pun kerap mendengar macam lagu Banda Neira bersama saya.

Entah apa yang menghipnotis namun rasanya suara Rara Sekar dan Ananda Badudu melekat erat. Pilihan lantunan yang syahdu serta lirik yang menyeret suasana menjadikan Banda Neira lekas terpantri di otak saya.

Kisah kami pun baru bermula, rasa manis itu pekat. Suatu malam, saya dan dia menghabiskan malam di sebuah angkringan, menikmati malam dan ngobrol beragam topik.

Hingga saat saya meninggalkan meja untuk suatu hal, dia meletakkan CD album itu dengan manis tepat di atas meja yang saya tinggalkan.

"Seperti hadirmu di kala gempa
Jujur dan tanpa bersandiwara
Teduhnya seperti hujan di mimpi
Berdua kita berlari" - Hujan di Mimpi

Tidak usah ditanya apa yang bergemuruh di hati kala melihat seonggok apa yang saya cari tersaji. Manis, terlalu manis, bukan hanya karena memang saya sedang mencari album itu tapi karena perhatiannya yang terlampau besar.

Rasanya jika dikisahkan tidak ada kata yang pantas bersanding dengan perasaan itu. Ini perkara sekecil atensi yang terselip, perasaan merasa dimengerti dan dipahami. Seolah membaca pikiran adalah salah satu kelebihannya. Atau memang Banda Neira sudah diletakkan di sana untuk menambah manis yang sudah kami rajut.

Hari itu, album itu, angkringan itu dan tentunya orang itu akan selalu menjadi ingatan yang manis. Semanis lirik-lirik Banda Neira yang saja kagumi. 

Tanpa permintaan, tanpa tergesa dia memilih semuanya dengan tepat. 

Seperti saya memilihnya dengan tepat hingga hari ini.

"Langit dan laut dan hal-hal yang tak kita bicarakan
Biar jadi rahasia
Menyublim ke udara
Hirup dan sesak kan jiwa" - Langit dan Laut


Tuesday, December 30, 2014

Alter Ego Sang Supernova KPBJ

Keinginan untuk menulis sedang getol dalam diri saya akhir-akhir ini. Mungkin karena tidak adanya libur walaupun ini musim libur. Percayalah ini hanya curhat sesaat, toh pada dasarnya sampai detik saya menulis rangkaian kata di tulisan ini, saya belum merasa tertekan apalagi jemu tiap hari bertemu meja di kantor yang sama.

Terlepas dari libur dan kecintaan saya pada pagar hitam baru dicat depan salah satu gedung di Kebayoran Lama ini, saya ingin menuliskan satu hal yang menggelitik tangan untuk melontarkan apa yang dipendam raga. (Maaf dengan paragraf yang terlampau panjang, jangan lupa untuk bernafas saat membacanya. Itu kebiasaan. Buruk.)

Anggaplah saya penikmat novel biasa. Menghabiskan banyak hari untuk membaca novel. Menikmati setiap baris kata di dalamnya yang apik. Lalu, dalam masa transisi dari bacaan teenlit saat SMP dan SMA (Oh, dan saya bukan penikmat sastra serius pada masa itu, sekarang pun belum rasanya), saya menemukan buku berjudul “Supernova : Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh” (KPBJ) di awal masa perkuliahan.

Awalnya, buruk. Sebuah permulaan yang buruk untuk sebuah novel yang jelas bukan pertama kali saya baca. Sebagai catatan, saya sudah terlebih dahulu menikmati novel Dee Lestari lainnya, seperti Filosofi Kopi dan Perahu Kertas. Ternyata buku yang ini berbeda, sangat.

Saya menghabiskan hampir sebulan. Rekor terlama untuk sebuah novel yang menarik saya dalam pusarannya. Bukan berarti saya tidak membacanya setiap hari. Bukan saya membedakannya dengan novel lainnya yang saya baca, tapi hanya saja, sulit bagi saya memahami setiap kata dan kalimat yang disajikan.

Lantas saya menyerah? Tidak. Ketika itu, saya membaca satu halaman bisa menghabiskan waktu berjam, karena dibaca lagi dan lagi. Asing rasanya berhadapan langsung dengan banyak kata yang terjait rapi dalam kalimat obrolan pemerannya. Saya dan google, berteman akrab saat membaca novel itu.

Waktu berlalu, hingga saat ini, KPBJ mengambil tempat terbesar dalam ingatan saya sebagai novel yang pantas dibaca. Novel itu mengajarkan saya bahwa fiksi bisa sebegini indah dan cerdas. Sejak itu, saya belajar banyak, tidak ingin menulis sesuatu yang dangkal, walaupun proses itu masih berlanjut dan bergerak tipis.

Hingga di awal bulan ini, KPBJ hadir dalam medium berbeda. Filmnya rilis di bioskop. Ekspektasi tidak saya gantung begitu tinggi. Sesuatu yang cerdas lewat kata kadang tak menemukan perbandingan yang pas dalam bentuk visual. Sebaliknya pun begitu, rasanya lumrah.

Tapi layaknya seorang penggemar, ada kekecewaan yang terselip. Tidak besar memang, namun terasa mengganggu. Kekosongan itu hadir lewat sosok yang saya agungkan di dalam novelnya. Mungkin bagi setiap pembaca KPBJ, menyadari hal ini.

Saya hampa melihat sosok Diva. Entah imajinasi saya yang terlalu mengagungkannya atau memang ada yang salah dalam pemilihan tokohnya. Tapi yang jelas, Diva tidak mampu membawa arah dan dampak yang besar seperti apa yang saya rasakan lewat bukunya.

Bagi saya yang awam, Diva harusnya sesosok orang yang fasih berbahasa Indonesia. Dia pencerita dan pusat utama cerita ini mengalir. Dari awal film saja dia sudah meluluhlantakkan langit studio bioskop KPBJ saya dengan lafalnya yang mengganggu. Kalimat indah Dee Lestari tidak tersampaikan dengan sempurna.

Setelah Diva, saya mempertanyakan di mana Gio? Sosok yang terus berdampingan dengan Diva hingga Supernova berikutnya. Sekecil itukah perannya sehingga tidak pantas mendapat ruang di visual? Atau memang KPBJ yang ini ingin memosisikan diri sebagai suatu yang tunggal, lantas dengan membuang Gio, KPBJ resmi berdiri sendiri, terlepas dari kawanannya. Saya bingung.

Selebihnya, saya rasa tidak pantas mengulang dialog yang indah di baca dan diresapi namun kaku diucapkan. Penonton disajikan dengan dialog yang tumpah. Belum lagi pengulangan adegan. Rasanya ingin bilang cukup.

Novel ratusan halaman punya lebih banyak bagian untuk digambarkan dari hanya sekadar mengulang adegan sarat cahaya berdansa disamping piano kan. Belum lagi, perkenalan Diva dan Ferre yang terkesan terburu-buru.

Ah, mungkin memang saya ditakdirkan untuk membaca, menikmati kata yang menjadi nyala dalam imajinasi. Daripada menjadi penerima bayangan lewat visual yang seketika menggelontorkan imajinasi yang sudah terlampau lama terpendam.

Paling tidak, film ini mencoba. Tidak ada yang salah dengan mencoba kan. Tidak berhasil bagi saya bukan berarti lantas film ini tidak berhasil bagi yang lainnya. Toh pada akhirnya saya menonton khidmat hingga film usia.


Mungkin ada benarnya, apa yang sudah kamu baca biarlah dilumat habis oleh imajinasi liar, sedangkan apa yang sudah kamu lihat biarlah tersaji tanpa perlu disentuh personal. Layaknya seseorang dengan alter egonya, mereka berbeda dan tak pantas disandingkan.

Monday, December 29, 2014

Ketidakpastian Menggelayut di Balik Hilangnya Pesawat Minggu Pagi

Saya atau kalian atau mereka, kita ada di posisi yang sama. Menggantungkan asa dan bertanya dalam satu kesempatan yang sama. Ketidakpastian membuat segalanya runyam, setinggi apapun asa yang digantungkan, redam oleh kegelisahan yang menggelayut.

Mungkin posisinya sama dengan nilai tukar EUR terhadap mata uang negara dunia lainnya saat ini. Ada asa yang digantung agar Samaras, Perdana Menteri Yunani, menang voting dan Yunani terhindar dari regenerasi bail out yang dibawa Partai Kiri Yunani, Syriza. Serta kemungkinan percepatan pemilu nasional Yunani di awal tahun depan. Pasar tidak menyukai arah kebijakan Syriza, efeknya EUR terkapar.

Begitupun dengan hilangnya pesawat Air Asia QZ8501, Minggu (28/12) pagi 07.55 lalu. Tidak ada keluarga bahkan seorang pun yang berhati nurani menyukai kenyataan pesawat tersebut hilang. Dalam setiap kasus hilangnya pesawat, banyak misteri yang ikut terbawa. Ada ketidakpastian yang entah kepada siapa harus ditujukan. Sentimen negatif ketidakpastian, menggerus harapan yang tersisa, pelan-pelan.

Meski kedua posisi di atas jelas berbeda rasa simpatik dan dampaknya, intinya satu, ketidakpastian menggelontorkan asa. Memperburuk keadaan dengan asumsi yang tidak berbatas. Karena tidak seorang pun pantas menjawab, tidak ada seorang pun yang tahu kebenarannya. Jawaban itu seolah hilang bersama 155 penumpang dan 7 orang awak pesawat yang terkenang.

Ketidakpastian menghampiri lewat dugaan dan asumsi. Lewat 2 menit yang terasa sesaat, 162 orang tidak diketahui keberadaannya, seolah awan menyimpan mereka rapat, memberikan ketenangan yang tidak mampu didengar bumi yang kepalang riuh.

2 menit, mungkin setara dengan perjalanan kaki saya setiap pagi, Stasiun Palmerah – Pasar Palmerah. Perjalanan singkat, terlampau singkat bahkan mungkin untuk logika menerima, pesawat Airbus A320-200 itu hilang tanpa sempat menitipkan pesan.

Direktur Safety dan Standard AirNav Indonesia Wisnu Darjono mengungkapkan, pada pukul 06.12, ATC Bandara Soekarno-Hatta berkomunikasi dengan pilot AirAsia QZ8501. Dia meminta untuk bergeser ke kiri untuk menghindari cuaca buruk. Izin itu diberikan dan akhirnya pesawat bergeser 7 mil dari posisi awal. Namun, kata Wisnu, pilot kembali meminta mengubah posisinya ke ketinggian 38.000 kaki.Saat kami sampaikan jawaban agar naik ke 34.000 kaki, sudah tidak ada lagi jawaban sekitar pukul 06.14” - Sumber : kompas.com, judul “Dua Menit Penuh Tanda Tanya dari AirAsiaQZ8501.

Dari sekian banyak alasan yang mungkin berizin menyusup masuk ke relung hati hanya jawaban permainan cuaca yang diluar kendali. Berikut saya sertakan ragam dugaan dari pakar penerbangan soal spekulasi cuaca yang mungkin hadir, menyinggahi pesawat Air Asia Surabaya-Singapura ini :

Para pilot berkeyakinan kru (QZ8501) dalam upaya menambah ketinggian untuk menghindari badai, entah bagaimana menyadari mereka terbang terlalu lambat," ujar dia. Dengan kecepatan itu, mereka tertarik ke aerodynamic stall, seperti yang terjadi dalam hilangnya Air France AF44 pada 2009," lanjut Thomas, seperti dikutip dari AAP. Prinsip situasinya, papar Thomas, pesawat terbang dengan kecepatan terlalu lambat di ketinggiannya saat itu, ketika udara terlalu tipis, sehingga sayap tidak mampu lagi menopangnya. Dan pesawat stall. Aerodynamic stall." - Sumber : nationalgeographic.co.id dengan judul : PakarPenerbangan: Insiden QZ8501 Mungkin Sama dengan Air France AF447

Analisis cuaca yang dilakukan oleh Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) menguatkan dugaan pesawat AirAsia QZ8501 gagal menghindari awan tebal kumulonimbus yang berada pada rute penerbangannya. Kepala Lapan, Thomas Djamaluddin, mengungkapkan bahwa adanya dinamika cuaca yang sangat aktif, adanya awan kumulonimbus, dan terdapatnya pesawat di ketinggian lebih tinggi menyulitkan QZ8501. Awan kumulonimbus terbentuk karena adanya penguapan air laut yang hangat dengan cepat. Awan ini memang tebal, bisa mencapai ribuan kilometer dan memang sulit dihindari dengan tiba-tiba. Kemungkinan pesawat mengalami turbulensi hebat karena tidak bisa menghindar dari awan kumulonimbus yang menjulang tinggi. Pesawat tidak mampu menghindar walaupun dengan naik ke atas. Belok ke kanan atau ke kiri juga sulit, akhirnya harus masuk," ungkap Thomas. - Sumber: nationalgeographic.co.id dengan judul Analisis Lapan Perkuat DugaanQZ8501 Gagal Hindari Awan Kumolonimbus.

Ketiadaan kode darurat pilot, menurut Yayan, sangat mendukung dugaan pesawat terjebak dalam kungkungan awan CB. "Itu awan, tapi berat karena ada butiran es. Bisa merusak instrumen pesawat, dari komunikasi sampai strukturnya," ujar dia. "Kalau sudah begitu, selain alat rusak, kemungkinan pilot sudah sangat panik bahkan untuk sekadar bilang 'Mayday'," tutur dia. Ketiadaan panggilan dan sinyal darurat dari pesawat, menurut Yayan, menunjukkan pesawat pada situasi yang sangat berat, dengan kejadian teramat cepat yang merusak peralatan komunikasi dan kemungkinan pesawat itu sendiri. - Sumber : nationalgeographic.co.id dengan judul : Analisis Awal :Apakah QZ8501 Terlambat Naikkan Ketinggian?

Mari untuk sementara, nyatakan kesepahaman dan persetujuan dengan dugaan yang dilontarkan oleh mereka, para pakar penerbangan. Walau hati tak selamanya bisa menerima alasan, sekalipun logika mengangguk tanda setuju, tapi daripada membuka tabir batas ketidakpastian lebih lebar, biarkan cuaca menjadi kambing hitam untuk saat ini.

Dugaan lain, padatnya lalu lintas di udara saat ini mengganggu peluang pesawat milik Air Asia ini untuk bertahan.

Yayan menyebutkan, ada setidaknya empat pesawat lain yang berdekatan dengan QZ8501 pada saat itu, yakni Garuda Indonesia berkode penerbangan GIA602, pesawat Lion Air berkode LNI763, AirAsia berkode penerbangan QZ502, dan Emirates berkode penerbangan UAE409. Dari data yang Yayan dapatkan, ketinggian GIA602 adalah 35.000 kaki, LNI763 38.000 kaki, QZ502 38.000 kaki, dan UAE409 35.000 kaki. "Kontak terakhir disebut QZ8501 minta menambah ketinggian 6.000 feet dari 32.000 feet. Kemungkinan pilot langsung menaikkan ketinggian, tidak memutar dulu misalnya, tetapi tidak terkejar untuk menghindari awan CB. - Sumber : nationalgeographic.co.id dengan judul : Analisis Awal : ApakahQZ8501 Terlambat Naikkan Ketinggian?

Jika memang salah satunya itu, pantas kah dipikirkan kembali kenyataan bahwa jalur udara Indonesia saat ini sudah terlalu sarat pengendara? Jadi, kepadatan tidak hanya terjadi di depan mata lewat penuhnya antrian take off dan landing pesawat di bandar udara Soekarno Hatta, tapi juga lalu lintas di udara?

Jika antrian itu mengular di sini, ditambah dengan kenyataan bahwa Air Asia QZ8501 harus berbagi lintas udara dengan 4 pesawat lainnya dijalur yang sama, sudah seharusnya perbedaan jam terbang dan mendarat menjadi pertimbangan yang matang.

Walau saya tidak memahami mekanisme dan pertimbangan yang diambil, pikiran itu menggelayut saat membaca berita di atas. Jika di jalan tol kemacetan bisa dihadapi dengan kontrol yang sederhana dan langsung antara mobil dan pengendaranya, keadaan di udara jelas berbeda.

Sang pilot dan kru bukanlah pengambil keputusan mutlak, ada pertimbangan dan persetujuan dari Air Traffic Control (ATC). Proses pengiriman informasi jarak jauh yang rentan terhadap pergesekan riskan. Sementara nyawa dan keselamatan bergantung bersama awan-awan yang berarak.

Pernah membayangkan, kalau udara macet seperti jalan tol? Tidak hanya izin bergerak yang terbatas, tapi arus komunikasi akan padat dan sarat izin, belum lagi persoalan bahan bakar. Jika mobil bisa bergegas ke SPBU terdekat, pesawat harus berhenti mengisi avtur di perhentian selanjutnya.

Terlepas dari skema cerita soal padatnya lalu lintas udara yang saya cipta. Tidak semua lantas menyisipkan dugaan negatif. Masih ada asa yang senantiasa menggantung, pantas juga tangan ini berpegang erat pada sisinya,

Mantan Dirut PT Merpati Nusantara Airlines ini juga mengherankan matinya alat pemancar yaitu locator beacon. Meski demikian, jelasnya, kabar ditemukannya pesawat dengan rute Surabaya-Singapura tersebut tetap harus ditunggu. "Siapa tahu mendarat darurat di daerah yang remote. Kita mesti jaga terus harapan tersebut," jelasnya. - Sumber : nationalgeographic.co.id dengan judul, Capt.Jhony : Air Asia QZ8501 Kemungkinan Mengalami Kecelakaan Fatal

Walau memang kita hanya mampu berpegangan pada seutas tali yang tipis dan rapuh. Tak pantas rasanya melepas pegangan itu kala ketidakpastian masih mengambil peran. Sekecil apapun itu, ada dia yang Maha dan melebihi segala sesuatunya di dunia ini.

Memanjatkan doa, senantiasa berikhtiar, sejumput keikhlasan akan membuka jalan. Mungkin pesawat, awan dan cuacanya sedang menyimpan sesuatu, entah kita yang belum saatnya tahu atau memang mereka sedang ingin diikhlaskan. Al-Fatihah.






Friday, December 5, 2014

Karena Ketika Itu Kalau Saja

Karena saya nggak bisa terus-terusan jadi orang yang menghalangi kamu melangkah ke sana. Karena saya juga tidak punya kemampuan untuk menghapus masa lalu kamu. Karena saya juga tidak pernah minta datang setelah dia.

Ketika saya punya hak lebih, maka jangan pernah bertanya jika memang kamu sudah mengerti. Ketika saya mendengar pertanyaan itu maka saya semakin yakin bahwa kamu memang menginginkannya. Ketika itu saya tau saya hanya orang lain yang datang setelah dia.

Kalau saja ada ruang untuk memilih apa yang akan dijalani hari ini dan esok dan esoknya lagi, saya akan menghapus semua hari yang berkaitan dengan masa lalu. Kalau saja ada hari tanpa masa lalu. Kalau saja saya datang lebih dulu dari dia.


Karena saya tidak ingin terus berkelana jauh mencoba meninggalkan satu titik yang masih kosong. Karena suatu saat kamu dan saya akan berputar kembali ke sana dan tersandung karena lubang itu. Karena saya ada di sana dan bukan dia.

Ketika itu saya tidak ingin meninggalkan kamu dalam lubang itu. Ketika itu saya ingin kita kembali melangkah bersama dan bukannya meninggalkan satu atau yang lainnya dalam keterpurukan. Ketika itu saya sudah di sana bersama kamu sejak lama bukan dia.

Kalau saja ruang itu masih cukup lega, biarkan saja saya mengisinya sampai sesak. Kalau saja kita sudah berhasil melangkah bersama sejauh ini dan cukup, biarkan saja saya terus beriringan bersama kamu. Kalau saja saya yang akan selalu ada di sana dan bukan dia.  

-NDN

Thursday, July 10, 2014

Return from nowhere

Menulis lagi setelah dua bulan. Cukup lama, malah sangat lama. Gue bukan berhenti mengerjakan kegiatan pemberi semangat ini. Hanya saja, seolah kemampuan ini diremuk redam oleh kesantaian yang melewati batas. Berkali-kali gue berhadapan dengan laptop dan kertas, berkali-kali juga gue menemukan kebuntuan, tanpa jangan kan sebaris kalimat, sepenggal kata pun gagal hadir.

Beberapa hal membuat gue meragukan kemampuan gue menulis. Kebimbangan itu terus hidup dan perlahan semakin menjalar, mengakar kuat, menjadikan gue tertutupi oleh akal yang membusuk. Hal-hal remeh seperti pertanyaan saat wawancara kerja "kamu lebih suka menulis di bidang apa?" ternyata tidak seremeh itu, gue terpaku, karena sejujurnya sampai sekarang gue belum tau tulisan seperti apa yang gue banget, yang mampu membuat gue merasa lebih dan memang mumpuni di bidang itu. Entah teman-teman yang lain merasakan atau tidak, tapi yang jelas pertanyaan itu sempat mengusik. Dan setiap pertanyaan itu muncul gue hanya mampu menjawab "Apa aja mba/mas, belum ketemu yang pas banget," What a shame!

Belum lagi beberapa lomba menulis yang gue ikuti tidak menghasilkan apa-apa. Perasaan tidak mampu bahkan menulis di bidang fiksi yang gue rasa kelebihan, pun memuncak. Padahal ya namanya perlombaan tidak semua bisa jadi pemenang kan. Tapi mungkin karena didorong minimnya kegiatan (saat itu menunggu wisuda, sudah selesai magang dan skripsi serta belum mendapat pekerjaan) maka pikiran negatif dengan mudahnya menyusup.

Hingga berujung pada minimnya usaha dan niat untuk menulis (bayangkan, sejak kapan menulis membutuhkan niat dan usaha sebesar itu, jika selama ini kegiatan itu selalu menyenangkan). Sampai akhirnya malam ini, gue buka lagi blog ini, dan gue sadari 2 bulan bukan waktu yang sebentar untuk lari yang sayangnya tidak membawa gue kemana-mana selain perasaan tidak menentu.

Tapi malam ini entah siapa yang menggerakkan, gue log in blog lagi, gue baca-baca postingan lain di home dan gue menemukan satu komen tertinggal di post cerpen gue terakhir. Erika, muncul lagi (she's just too supportive for me, because she left some comments on my mostly post) setelah sekian lama postingan gue sepi pendapat Erika, mendadak dia muncul lagi. 

Kalau saja kadang perasaan tidak melampaui besarnya daya intrepretatif kata-kata gue mungkin udah menuliskan sepanjang mungkin perasaan meledak ini. Erika menulis komen yang simple, tapi dia membuat gue tau, bahwa tulisan itu tidak butuh pembenaran untuk berada di sana. Tidak butuh niat menggebu dan keinginan unggul dari yang lain. Dia hadir karena memang dia tersusun rapi dari apa yang seharusnya disampaikan. 

Perasaan ketidakmampuan menulis bagus adalah perasaan yang buruk jika kalian seperti gue, yang bangga menulis. Komen Erika yang bilang "Nami banget" seolah menyadarkan gue, bahwa gue tidak harus memenangkan setiap lomba untuk bisa menulis, tidak harus mampu menjawab apa bidang yang paling pas untuk gue tulis, tidak perlu membiarkan kejemuan mengahalangi setiap asa untuk menulis yang menggebu.

Karena mungkin gue tidak bisa menyampaikan sulitnya perasaan tidak menulis ini pada siapapun tapi Erika secara tidak langsung seolah mengerti dan menyentuh titik yang benar :')


PS : I don't know what Erika has do lately, but if it's about take her to London and make her big dreams come true, I wish she got the prize and do "our-different-place" dream soon because she deserve every piece of it!!! And thanks for always remember how we have same dream in different place, Er! :)

Wednesday, April 16, 2014

Senyum Legong di Ufuk Bali


Langkah pertama ku ayun, menjejak undakan tangga teratas, kepala ku melongok jauh, bau asin laut dan cecap udara yang lengket seketika menguar. Dalam hati aku bergumam “Selalu seperti ini..” Jangan salah kan aku atau ribuan orang lainnya yang mendamba ketenangan dan keanggunan pulau ini. Bali… Seandainya saja hari ini dan 5 tahun yang lalu sama. Mungkin aku bukan melangkah gontai menyambut sapaan “asin” mu malah balas memelukmu hangat dengan senyum seringai.

5 tahun yang lalu..
“Tapi gue nggak setuju kalau kita ngelewatin Bali gitu saja hanya karena kita merasa kita tidak akan pernah mampu menarikan tarian mereka,” ujar ku menggebu

“Paham gue, cakep memang tuh pulau, siapa yang nggak mau liburan ke sana. Tapi tujuan sanggar kita bukan buat liburan Dey, lo harus inget itu,” Ghea menentang tak kalah keras.

“Ya siapa juga yang mau liburan. Itu sih bonus. Menurut gue justru karena kita nggak bisa tariannya lah kita harus ngasi kesempatan untuk mengenal tarian itu dengan lebih. Bukan malah dihindari,”

“Kenapa sih lo sepengen itu ke sana?”

“Karena gue nggak hanya ingin bisa menarikan tarian yang gue bisa. Gue mau kita bisa semua tarian. Mungkin nggak mahir tapi paling nggak ngerti pakemnya. Kenapa lo harus nggak mau? Toh tujuan kita sampai sekarang belum jelas mau ke mana kan,”

“Oke, tahun ini gue ngalah, lo yang atur semua, lo yang urus semua kegiatan kita di sana. Gue yang beresin anak-anak. Minggu depan diobrolin lagi with progress please,”

Obrolan seperti ini memang bukan pertama kali terjadi antara gue dan Ghea. Sahabat yang sudah gue kenal sejak SMP. Keinginan dan impian kita sama, bisa nari semua tarian tradisi Indonesia dan keliling dunia khususnya Indonesia.

Sejak selesai kuliah dua tahun yang lalu. Kita berdua memutuskan untuk membuat sanggar sendiri. Meski kami berdua belum bisa jadi pelatih tapi beberapa event dan festival di Jakarta sudah acap kami cicipi.

Hari ini,

“Mba Deyantari? Saya Dayu yang hari ini diminta jemput mba. Mobilnya di sebelah sana mba,”

“Oh halo Dayu. Nama kita mirip ya Deya dan Dayu hahhaa. Ayo saya ikutin kamu sampai mobil ya,”

Pagi ini aku kembali bersapaan dengan keanggunan kota ini. Aku lebih senang menyebutnya anggun dibanding eksotis. Bagi ku, pulau dewata ini jauh lebih pantas disebut anggun, terkesan mewah dan memiliki prestisenya tersendiri. Tidak sekedar eksotis. Keanggunannya yang menenangkan menjadikannya candu bagi siapa saja yang singgah.

Tapi sayangnya, tempat indah ini tak selamanya mencipta kebahagiaan dalam jejak ingatan. Aku salah satunya, bau “asin” ini selalu mencipta percik perih jika kelewat lama aku cecap.
“Mba Deya jadwalnya baru akan di mulai esok hari jadi hari ini free time ya. Mungkin  m
au ke mana dulu atau langsung ke The Bay Bali saja?”

The Bay Bali adalah tempat yang disediakan panitia untuk kami para peserta seminar menginap. Terletak di Nusa Dua Bali, kawasan yang terkenal karena wisata airnya yang menggoda setiap pelancong di pulau dewata ini.

“Langsung aja ke hotel mba Dayu. Saya belum ingin jalan-jalan,”

Selama perjalanan aku tidak sempat mengukir lamunan sambil menatap lalu lalang orang di sekitaran jalan karena Day uterus bertanya mengenai kegiatan menari ku selama ini. Aku dengan antusias menjawab. Paling tidak, ada yang menghabiskan waktu ku dan tidak membiarkan ku larut dalam ingatan.

5 tahun yang lalu..
“Gue nggak nyangka akhirnya jadi juga kita ke Bali. Lo memang yang paling jago deh urusan keras kepala Dey,” tawa renyah Ghea terdengar.

“Lah, udah gue bilang, nggak ada salahnya dicoba. Workshop langsung 4 hari ditambah 2 hari bersantai bakal buat sesanggar bahagia Ghe,”

Siang itu, aku menjejak di tanah Bali, bersapa hangat dan bertukar senyum dengan semilir lembab penguar bau asin. Semangat ku meledak-ledak. Esok hari, workshop pertama di mulai. Aku tidak sabar belajar tari Legong yang tersohor itu.

Memang ini salah satu kegiatan baru yang aku dan Ghea gagas pada sanggar kami. Seminggu penuh kami akan mampir ke suatu daerah di luar Jakarta dan mendalami pakem asli setiap tariannya. Tentunya itu ibarat sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Karena dengan hidup berdampingan dengan masyarakat asli. Secara tidak langsung kami akan mengenal budayanya pula.

Hari ini..

Aku terbangun cukup malam. Menggeliat sebentar dan memutuskan untuk makan di hotel saja. Setelah menghabiskan makan malam ku, aku memutuskan bersantai menyusuri bibir pantai. Dalam hati aku memuji kecerdasan panitia dalam memilih The Bay Bali sebagai tempat bagi kami para peserta. Ke Bali untuk kerja hanya akan menghilangkan kesempatan kami untuk bersantai di pantai. Namun dengan hotel yang bersisian di pinggir pantai ini, setiap saat adalah liburan.

Ketika malam semakin pekat. Aku rindu Ghea. Rindu yang memudarkan keindahan pantai ini. Menistakan ketenangan yang ditawarkan Bali.

5 tahun lalu..

“Wah gila sih, nggak nyangka ini tarian memang nggak main-main deh. Ampun gue, berasa rontok sebadan,” aku berselonjor di pendopo menghadap hamparan sawah.

“Mana ada tarian tradisi main-main sih pakemnya hahaha. Tapi emang nggak sia-sia deh ke sini kalau akhirnya bisa mantap nih pakem,”

Kami tertawa renyah bersama. Tari Legong adalah salah satu tarian Bali yang terkenal memiliki kompleksitas yang tinggi. Konon katanya tarian ini memang berasal dari kata “LEG” yang berarti keluwesan dan “GONG” yang berarti gamelan. Makanya Tari Legong dan Gamelan Semar Panggulingan, gamelan yang mengiringi tari Legong, tidak dapat dipisahkan.

Tarian ini menggunakan kipas sebagai alat bantu tarian. Meski sulit dan banyak dikembangkan secara mandiri di beberapa tempat khusus di Bali. Tarian ini tetap mampu mengambil hati. Tingkat kesulitannya menjadikan tarian ini indah dan memukau.

Hari ini..

Seminar demi seminar berlalu. Diakhir acara, aku yang memiliki sanggar tari diminta untuk menutup acara dengan menyampaikan pidato singkat. Hari itu aku ingin menuntaskan semuanya. Apa yang aku pendam dan bagaimana Bali begitu menyiksa bagi ku sekaligus begitu aku dambakan aku buka dihadapan publik. Bahwa ini tidak sekadar tarian dan kesuksesan ku. Ini menyangkut aku dan rinduku pada sahabat ku.

5 tahun lalu..

Pagi ini semua mendadak kejam dan hitam bagi ku. Subuh tadi aku dibangunkan karena Ghea yang hendak jalan pagi menyusuri pantai ditabrak motor dengan kecepatan tinggi. Dia tidak terselamatkan.

Aku pagi itu tidak hanya kehilangan sahabat, aku kehilangan semangat ku, aku kehilangan wirama,wirasa dan wiraga ku. Jika aku tarian, aku lumpuh, aku mati rasa, aku tidak selaras dengan musik.

Aku mengiringi kepergiannya dengan diam. Aku tak lagi sempat menangis. Workshop tarian ku tidak selesai, anak-anak sanggarku diredam duka. Aku kehilangan segalanya sejak itu.

Hari ini..

“Tidak lah indah ketika kamu tau menari adalah hidupmu dan hidup orang yang mencintaimu. Lalu kamu membiarkan sanggarmu berjalan tanpa kamu sebagai rodanya. Untuk apa sukses tapi mati bersama duka. Saya memang kehilangan partner sekaligus sahabat. Hari ini saya ingin kalian semua di ruangan ini tau. Bahwa saya berdiri di sini hari ini, karena saya ingin berdamai. Membiarkannya pergi, mengizinkannya damai. Karena dia GONG bagi LE, saya. Karena tanpa dia saya tidak akan lagi utuh, tidak lagi luwes. Tapi tanpa saya, LE, dia tidak lebih dari sekedar gamelan biasa. Maka, saya tidak akan membiarkan kami berdua tidak berarti. Biarkan kami terus bertahan layaknya LEGONG bagi Bali dan kita semua,”

Senja itu.. aku kembali menari LEGONG. Dengan senyum merekah tulus karena aku tau Ghea di sana melihatku. Karena ini kebahagiaan ku. Tarian tradisi hidupku. Bali tempatnya lahir dan hidup, selamanya.


Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Proyek Menulis Letters of Happiness: Share your happiness with The Bay Bali & Get discovered! 



Tuesday, April 8, 2014

Satu Hak Suara, Satu Langkah Lima Tahun Mendatang

Gue bukan pemerhati apalagi pengamat politik. Gue hanya orang yang senang membaca dan melihat keadaan sekitar..

Bulan ini satu langkah dari rangkaian demokrasi yang kita pilih dulu sebagai jalan menyelamatkan apa yang bangsa ini punya akan dilaksanakan. Iya, pemilu legislatif berlangsung besok, 9 April 2014. Kita akan berduyun-duyun menyambangi TPS terdekat.

Sesederhana mencoblos memang. Instan, lihat saja yang perlu kita lakukan hanya datang ke TPS, masuk ke bilik suara, lalu pilih-pilih kandidat yang wajah dan namanya terpampang jelas, coblos beberapa kertas yang tersedia, keluar bilik suara, masukan kertas suara ke kotak suara, celupin tangan ke tinta tersedia sebagai bukti sah kita sudah memilih dan voila, satu suara demokrasi diterima.

Pemilu Legislatif, 9 April 2014

Lalu, salahkah kalau mendadak gue berpikir cara instan itu juga acapkali menghadirkan nama-nama instan yang kemudian kita beri tanggung jawab dan kepercayaan untuk memimpin bangsa ini, memimpin kita, menyerahkan asa kita yang menggantung di pundaknya.

Iya kalau diantara ratusan nama dan wajah itu ada sanak saudara atau kenalan kita yang mencalonkan, mungkin hati ini akan mudah memberikan pilihan. Atau paling tidak sudah ada orang yang kita idolakan. Lah, kalau yang kita temui nama dan wajah asing berturut-turut memusingkan mata dan otak, bukan lantas yang ada jadi asal pilih atau ya paling tidak mana yang kelihatan muka artis kita coblos saja.

Seapatis itukah kita menggantungkan harapan kita akan Indonesia yang lebih baik pada keasal-asalan kita sendiri?

Jujur, hingga hari ini gue pun belom mampu menentukan pilihan. Terlampau banyak nama untuk menentukan seperti apa 5 tahun ke depan bangsa ini.

Tapi hingga detik ini belum ada keinginan untuk golput. Pemilu ini pesta rakyat, jadi otomatis pesta gue. Gue gak mau suara gue digunakan oleh orang lain. Paling tidak, itu pilihan gue, hidup gue 5 tahun mendatang dipimpin oleh siapa, nggak akan gue biarkan hangus atau terbuang sia-sia.

Banyak cara untuk mempertimbangkan, banyak cara untuk berpartisipasi, banyak cara jika mau. Hanya saja sadarilah, asa akan selalu lebih indah dari kenyataan. Jika pilihan mu mengecewakan dan tak layak di kemudian hari, paling tidak yakinilah, kamu salah satu yang memilih dia. Semua pilihan di hidup ini punya risiko. Tapi yakinilah juga, kalau tidak sekarang, tidak bertindak, kita tidak pernah akan tau seperti apa hasilnya. Ikut mencoba kan tidak ada salahnya.

Coba baca kompas yang tiap hari mencoba menyuguhi kita dengan informasi pemilu lewat Indonesia Satu, atau buka Orang Baik atau pasti banyak aplikasi dan website serta media lain yang membantu (sekali lagi gue kurang memperhatikan detail, itu hanya sebagian yang gue tau). Intinya, semakin banyak informasi semakin baik pilihan yang kita punya.

Waktu kita kurang dari 24 jam lagi untuk menyerahkan hak kita dalam bentuk suara demi Indonesia 5 tahun mendatang..

Mau bagian senang-senangnya? Starbucks dan Aksara Indonesia memberikan reward untuk sedikit usaha kita bagi Pemilu 2014 yang lebih baik.. Jadi, ya kalau bisa jangan golput yah :)

Aksara Peduli Pemilu 2014

Starbucks Peduli Pemilu 2014

Sunday, March 30, 2014

Satu Langkah Untuk Masa Depan (Lingkungan) Hari Ini

Tinggal di daerah yang sedang dalam masa pembangunan jelas menjadikan gue seolah kehilangan hak untuk terhindar dari debu jalanan yang kotor pengganti oksigen bersih yang seharusnya gue dan semua warga di sekitar sini layak dapatkan.

Lantas apa yang bisa gue lakukan, jika hari ini ketika gue keluar rumah dan menggenggam sebotol minuman dingin, seketika itu juga ia berubah warna. Terselimuti oleh  lapisan cairan berwarna kecoklatan. Mau bilang apa lagi, itu debu jalanan yang tidak terlihat tapi ternyata berjejak. Bayangkan aja itu mungkin yang mengendap di paru-paru gue dan perlu dicatat, itu tidak hanya sekali terjadi, tapi terus menerus, setiap harinya.

Lingkungan gue nggak sepenuhnya parah, rumah gue masih dikelilingi oleh pepohonan rindang yang mencipta bulir embun dan udara sejuk di pagi dan sore hari. Tapi melangkah sejejak dari pintu komplek, kenyataan bahwa lingkungan semakin terkoyak kekejaman manusia terpampang nyata dan tidak terhindar.

Tidak ada yang lebih baik mungkin, daerah lain yang penuh sampah atau daerah gue yang penuh debu dan polusi. Tapi paling tidak yang gue sadari, warga sekitar rumah gue cukup sadar menjaga lingkungan dengan tidak adanya sampah yang berserakan di sepanjang jalan. Sayangnya, pembangunan yang sedang gencarnya, tidak serta merta menyelamatkan kami untuk mendapat udara segar.

Gue atau warga lain lantas bisa apa? Kami tinggal di perumahan, pembangunan entah itu perumahan, ruko atau pusat hiburan tidak terhindarkan. Truk lalu lalang di jalan raya utama. 

Melindungi pohon yang tersisa mungkin salah satu upaya melindungi hak kami sendiri. Membiarkan taman kota menjadi hidup dengan berkunjung pada akhir pekan, menyediakan waktu dan kesediaan menutup jalan untuk car free day selama beberapa jam di akhir pekan atau turut berpartisipasi mengikuti program tanam pohon di sekitar tempat pembangunan, menjadi langkah untuk paling tidak memberi ruang bagi lingkungan untuk terus hidup dan berkembang sebagaimana mestinya.

Gue sendiri layaknya kebanyakan orang saat ini, cukup sadar untuk  menggunakan plastik saat berbelanja seminim mungkin. Menghemat penggunaan listrik dan air di rumah. Mengingatkan orang rumah untuk paling tidak menggunakan seperlunya.

Tentunya berpartisipasi mengikuti acara-acara yang mendukung pelestarian lingkungan. Sebut saja hingga hari ini gue sudah ikut menanam tiga pohon dari acara-acara yang diadakan di sekitar rumah dan menyempatkan menulis kisah gue di blog hari ini. Walaupun bisa gue bilang, gue bukan penggiat lingkungan atau aktivis yang bersuara keras untuk melestarikannya.

Berbicara mengenai aksi lingkungan, gue dan teman-teman di kampus pernah menggagas kegiatan bertajuk Fun Bike yang diadakan Desember 2011 silam. Saat itu kami mampu mengumpulkan warga sekitar untuk bersama-sama menghabiskan waktu diakhir pekan untuk bersepeda. Tidak sesulit yang dibayangkan, banyak masyarakat saat ini sudah memiliki kesadaran lebih untuk menjaga lingkungannya dengan cara yang menyenangkan.

Sumber Foto : Facebook BEM UMN

Sumber Foto : Aisya Putrianti


Begitu juga dengan ketika gue mengikuti sebuah acara di Bali dan berkesempatan mengelilingi Gianyar Bali dengan menggunakan sepeda. Cara lain menikmati keindahan Bali dengan bersepeda tentu bisa menjadi pilihan selain bersantai di pantai dan keliling kota dengan mobil atau motor sewaan kan?

Sumber Foto : Microsoft Indonesia


Pernah juga suatu kali saat diwajibkan membuat tugas untuk mata kuliah videografi, gue dan teman-teman memilih mengangkat tema tentang kepedulian lingkungan lewat penghematan penggunaan kertas. Tentu ini cara lain bagi gue dan teman-teman untuk bersuara, tidak hanya lewat kata-kata dan tindakan, tapi lewat ajakan visual yang mungkin lebih menarik bagi sebagai orang.

Sumber Foto : Dokumentasi Pribadi


Jadi, setelah melakukan tindakan kecil untuk lingkungan dengan cara menyenangkan versi gue, membuat acara bertema lingkungan dan membuat video bertajuk lingkungan, kali ini medium tulis menulis menjadi pilihan lain bersuara akan lingkungan. Tulisan di blog ini menjadi perwakilan apa yang pantas disuarakan. 

Tapi gue percaya, apa yang gue lakukan, sekecil apapun itu akan memberikan dampak. Tidak ada sumbangsih yang sia-sia. Lantas, mengapa menunggu orang lain tergerak sebelum memberi contohnya terlebih dahulu. Aksi sekecil apapun akan membawa pengaruh yang nyata dari hanya sekadar kata lantang yang menggebu tanpa memberi ruang untuk bertindak.

Dengan catatan, bahwa apa yang dilakukan oleh warga tidak akan mampu berjalan seutuhnya tanpa dukungan dari kebijakan yang dibuat oleh pemerintah. Kebijakan itu yang nantinya akan memperkuat dan menjadi landasan tindakan yang mampu menjaga lingkungan sekitar.

Melihat apa yang terbentang di masa yang akan datang, pemilu legislatif dan pemilihan umum presiden 2014 sudah semakin di depan mata. Harapan yang baik tentu digantungkan pada pundak calon pemimpin dan pengambil kebijakan bangsa ini.

Sumber Foto : www.elshinta.com


Meski kini organisasi-organisasi salah satunya World Wide Fun for Nature (WWF) telah banyak bertindak dan bersuara, adanya kebijakan dan undang-undang salah satunya Undang-Undang No.32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, dan kesadaran yang aktif dari warga akan menyelamatkan lingkungan kita yang semakin rusak. Tidak dipungkiri, peran aktif dan kepedulian pemerintah dan wakil rakyat menjadi kunci aman tindakan ini.

Lihat saja bagaimana pemerintah tidak mampu bersikap tegas dengan pembangunan yang ada. Sebut saja daerah rumah gue, Tangerang Selatan yang sedang gencar-gencarnya dibangun. Lingkungan yang tadinya hijau dan rindang perlahan terkikis. Jangan lupa, sehijau, serindang dan seasri apapun suatu lingkungan, jika terus menerus digerus alamnya, lingkungan jelas tidak akan bertahan.

Ini mungkin memang lingkungan yang dibuat untuk perumahan dan bisnis tapi tidak kah ada sedikit kebijakan yang bisa memberi ruang bagi lingkungan untuk tetap tinggal? Mengapa seolah pemerintah tutup mata dan membiarkan ini terus berkelanjutan.

Sumber Foto : www.tempo.co


Mungkin kebijakan yang sudah pernah diambil oleh pemerintahan yang lalu lantas tidak bisa dibatalkan sepihak atau pembangunan yang sudah ada dan berjalan tidak bisa dibinasakan begitu saja. Tapi pasti ada kesempatan untuk menghentikannya sesegera mungkin. Paling tidak, ke depannya tidak ada lagi kebijakan yang berat sebelah. Yang meminorkan lingkungan dan mengagungkan kepentingan bisnis dan uang semata.

Karena pembangunan dan keuntungan dibaliknya tidak akan mencapai batas kepuasan siapapun tapi lingkungan dan keberlanjutannya masih harus diperjuangkan, ia tidak lantas bisa tumbuh begitu saja. Ada ruang yang harus diberi, ada upaya yang harus dilakukan dan ada kesadaran untuk membiarkannya lestari.

Pemerintah mestinya berpihak pada rakyat. Lagipula, ia juga salah satu warga, manusia, makhluk hidup yang butuh udara bersih. Tinggal di lingkungan yang rusak karena keserakahan tidak lantas menyengsarakan kesehatan warga tapi juga dirinya.

Ketika wakil rakyat terpilih lantas lupa kebutuhan dirinya sendiri untuk melindungi lingkungan, akibat termakan buaian keuntungan uang semata, lalu apa yang dapat kita harapkan dari pilihannya bagi kebijakan lain untuk rakyatnya? Bukan kah dia sudah terlebih dahulu gagal menyelamatkan hidupnya, bagaimana lagi dia mampu menyelamatkan rakyatnya.

Harapan itu masih tinggi. Karena bagi gue, tidak ada yang tidak bisa diselamatkan. Menanam pohon sekarang, mengistirahatkan mobil dan mengajak kaki melangkah pagi ini, mengatakan tidak pada plastik belanja siang ini, menghemat air mandi sore ini dan mematikan listrik malam ini, pantas dibiasakan sebagai bentuk lain terima kasih kepada lingkungan yang terus melindungi gue dan tentunya gue butuhkan. Bukan kah saling mengerti dan memahami yang bisa membuat kita terus hidup berdampingan? Gue dan lingkungan pun berusaha berjalan selaras dan bersisian, agar mampu hidup bersama dalam waktu yang lama.

Tulisan ini diikut sertakan dalam Lomba #IngatLingkungan WWF Indonesia dan BlogDetik